Lisānul hāl afsahu min lisānil maqāl. Perbuatan lebih fasih daripada perkataan. Dakwah tidak berhenti pada suara di mimbar. Ia diuji pada kesesuaian antara kata dan laku.
Ramadan menghadirkan limpahan ceramah di masjid, televisi dan media sosial. Pesan agama hadir hampir tanpa jeda. Pertanyaannya, adakah pesan itu berubah menjadi laku hidup? Adakah ia mentransformasi umat?
Dulu, mubalig hadir dalam sosok ulama yang menetap dan membina jamaahnya. Dalam tradisi Bugis dikenal anregurutta. Ia hidup di tengah umat, memahami watak serta persoalan mereka. Dakwah berlangsung dalam relasi akrab dan panjang. Jamaah tidak hanya mendengar, tetapi melihat langsung keseharian anregurutta.
Kini, mubalig sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Materi yang sama diulang di berbagai masjid. Relasi dibatasi jadwal dan durasi ceramah. Ukuran keberhasilan bergeser pada jumlah pengikut (medsos). Kedekatan personal makin jarang. Intensitas naik, kedalaman relasi tak selalu terbangun kuat.
Al Qur’an menyebut amar ma’ruf nahi munkar, tilawah (membacakan ayat-ayat Allah), tazkiyah (menyucikan jiwa), dan ta’lim (mengajarkan Al-Kitab & hikmah) sebagai bentuk dakwah. Jalaluddin Rakhmat (AY) menambahkan ishlah (pembebasan dari beban dan belenggu). Semua peran ini menuntut kehadiran yang konsisten serta laku hidup yang sejalan dengan ajaran agama.
Saya bersyukur pernah berguru langsung pada seorang anregurutta saat masih kanak-kanak hingga remaja. Beliau mengenal jamaahnya, bahkan menyebut nama yang hadir dalam ceramahnya. Ada kedekatan, ada koreksi, ada rasa memiliki. Ilmu dan amal menyatu. "Masseddi ada na gauq", dalam ungkapan Bugis. Kehadirannya merefleksikan wibawa moral. Bahkan diamnya adalah pesan sarat makna. Seperti filosofi Taoisme, "wu wei", yaitu bertindak tanpa memaksakan, membiarkan sesuatu berlangsung selaras dengan tatanan alam.
Masihkah figur seperti itu hadir di tengah-tengah kita? Semoga
[WH]
Alat AksesVisi