Gambar Merdeka

Hari ini semua tampak bergembira. Termasuk saya dan kawan-kawan di kampus. Kami menikmati suasana pengibaran bendera yang begitu khidmat, meski matahari hari ini sepertinya sedang sangat bersemangat menyambut kemerdekaan. Wajah-wajah kami pun ikut “merayakan” dengan sunburn.

Untungnya, ada pameran nasi tumpeng dari setiap fakultas. Sajian yang nikmat itu sedikit banyak berhasil menghibur kami dari rasa terbakar akibat teriknya matahari. Hehe.

Di tengah suasana penuh kegembiraan itu, saya bertanya pada diri sendiri: sebenarnya, apakah kemerdekaan itu?

Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. 

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan yang paling hakiki adalah ketika hati dan kehidupan kita terbebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.

Sebab, bisa jadi secara lahiriah kita sudah merdeka, tetapi hati kita masih diperbudak oleh materi, jabatan, kekuasaan, popularitas, pujian manusia, atau bahkan hawa nafsu sendiri. 

Kita merasa bebas, tetapi ternyata masih begitu bergantung pada apa yang dimiliki, apa yang dikatakan orang, dan bagaimana orang lain memandang kita (validasi).

Kemerdekaan juga berarti berusaha membebaskan diri dari apa saja yang dimurkai Allah. Merdeka dari iri dan dengki, dari kesombongan dan ketamakan, dari kebencian, fitnah, ghibah, ucapan yang menyakiti, serta berbagai penyakit hati dan perilaku buruk yang perlahan-lahan membelenggu jiwa.

Bukankah aneh jika kita merayakan kemerdekaan dengan penuh suka cita, tetapi hati kita masih belum merdeka?

Maka, mungkin kemerdekaan sejati perlu dimulai dari dalam diri. 

Menata hati, mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, memperbaiki akhlak, dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada selain Allah.

Manusia yang benar-benar merdeka bukanlah manusia yang hidup tanpa aturan. Ia justru adalah manusia yang hanya tunduk kepada Allah, sehingga tidak mudah diperbudak oleh dunia, tidak dikendalikan oleh hawa nafsu, dan tidak menggantungkan harga dirinya pada penilaian manusia.

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya: menjadi hamba Allah, dan tidak menjadi hamba kepada selain-Nya.

So, bagaimana kemerdekaan menurut Anda?