Ramadhan tahun ini ditutup dengan satu pemandangan yang menarik sekaligus sarat makna. Sebagian umat telah melaksanakan shalat Idul Fitri lebih awal, pada Kamis, 19 Maret 2026, khususnya di kalangan Naqsyabandiyah dan komunitas An-Nadzir di Gowa. Hari ini, Jumat, sebagian lainnya terutama warga Muhammadiyah dan para pengikut metode hisab merayakannya. Sementara itu, pemerintah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Sekilas, perbedaan ini tampak mencolok. Tiga hari raya dalam satu momentum. Namun jika kita tarik napas lebih dalam dan melihat dengan mata yang lebih jernih, fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru. Ia telah berulang kali terjadi dalam sejarah keagamaan kita. Indahnya atau uniknya, perbedaan ini tidak pernah benar-benar berubah menjadi kegaduhan besar, apalagi konflik fisik yang merusak sendi-sendi sosial. Paling hanya perang narasi di media sosial, itu pun saya baca terkait penjelasan mekanisme hisab dan rukyat. Bahkan ada pula yang terkesan hanya sekadar membuat humor dengan menulis "NU dan Muhammadiyah sepakat tanggal 20 Maret itu hari Jum'at"
Di sinilah kita menemukan sesuatu yang sering luput disadari bahwa bangsa ini memiliki mekanisme batin yang unik dalam menyikapi perbedaan. Konsep Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan yang dihafal di bangku sekolah, tetapi telah menjelma menjadi semacam “kesadaran bawah sadar kolektif”. Ia hidup dalam cara masyarakat menyapa perbedaan: tenang, lentur, dan tidak reaktif.
Di banyak tempat lain, perbedaan furuiyah apalagi teologis sering menjadi sumber konflik. Namun di Indonesia, perbedaan seperti ini justru sering dihadapi dengan sikap yang relatif dewasa. Masyarakat tidak merasa perlu memaksakan keseragaman. Mereka mampu hidup dalam perbedaan tanpa kehilangan rasa persaudaraan.
Tentu kondisi ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk oleh sejarah panjang interaksi sosial, budaya gotong royong, serta pendidikan nilai-nilai toleransi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun di era digital saat ini, tantangan baru mulai muncul. Media sosial sering memperbesar perbedaan dan memancing perdebatan yang tidak perlu. Apa yang di lapangan berjalan damai, kadang di ruang digital terlihat tegang.
Karena itu, merayakan perbedaan hari ini bukan hanya soal menerima kenyataan bahwa Idul Fitri bisa jatuh pada hari yang berbeda, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga sikap agar perbedaan itu tetap berada dalam koridor kemanusiaan dan ukhuwah.
Kedewasaan beragama tidak diukur dari keseragaman praktik, tetapi dari kemampuan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Perbedaan penetapan Idul Fitri hanyalah satu contoh kecil dari mosaik keberagaman yang kita miliki. Namun justru di titik kecil itulah kita diuji, apakah kita masih bisa tersenyum kepada saudara yang berbeda hari rayanya? Apakah kita tetap bisa mengucapkan “Selamat Idul Fitri” tanpa menyisipkan rasa paling benar?
Merayakan perbedaan bukan berarti mengaburkan keyakinan. Ia justru menegaskan bahwa keyakinan yang matang tidak membutuhkan pengakuan dari orang lain untuk merasa sah. Ia berdiri kokoh, tetapi tidak kaku. Ia teguh, tetapi tidak memaksa.
Idul Fitri, pada akhirnya, bukanlah tentang keseragaman waktu, tetapi tentang kesatuan rasa. Rasa sebagai sesama hamba yang sama-sama mencari ridha-Nya. Rasa sebagai sesama manusia yang ingin hidup damai di tengah perbedaan.
Maka, mari kita rayakan perbedaan ini. Karena dalam perbedaan itulah kita belajar tentang makna persaudaraan yang sesungguhnya: tidak harus sama untuk tetap bersama. Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi persaudaraan adalah pilihan. Dan orang bijak selalu memilih untuk tetap bersaudara.
Bagi yang telah melaksanakan lebaran, saya ucapkan Selamat idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir batin, dan bagi yang akan melaksanakan besok, saya ucapkan selamat menyongsong idul Fitri, semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kehidupan kita Aamiin.
Sungguminasa 30 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi