Gambar Merawat Tubuh, Menenangkan Jiwa (Integrasi Layanan Spiritual di Rumah Sakit UIN Alauddin)

Dalam arahannya pada kegiatan Workshop Nasional bertema “Rumah Sakit Tangguh dan Berwawasan Kebangsaan”, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof.Dr. KH.Nasaruddin Umar, di hadapan pimpinan, sivitas akademika, serta seluruh unsur manajemen dan karyawan Rumah Sakit UIN Alauddin, menegaskan bahwa Rumah Sakit UIN hendaknya dibangun dengan karakter yang khas dan berkepribadian. Kekhasan tersebut diwujudkan melalui penguatan nuansa keislaman yang tercermin dalam pendekatan spiritual yang menyentuh dimensi terdalam kemanusiaan, sekaligus menghadirkan lingkungan yang asri, indah, dan menenangkan melalui taman-taman serta ruang hijau yang tertata dengan baik.

Kegiatan yang bertempat di Aula RS UIN Alauddin lantaib4, Nasruddin Umar, berharap, rumah sakit tidak semata-mata menjadi tempat penyembuhan penyakit fisik, tetapi juga harus hadir sebagai ruang pemulihan jiwa, penguatan spiritual, dan pemberi harapan bagi setiap pasien yang sedang menghadapi ujian kesehatan.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengulas berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh sejumlah universitas dan rumah sakit terkemuka di berbagai negara maju. Berbagai temuan ilmiah tersebut menunjukkan bahwa religiositas dan spiritualitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara seseorang memaknai, merasakan, serta menghadapi rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya.

Penelitian-penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pasien yang memiliki keyakinan keagamaan dan praktik spiritual yang kuat cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih rendah ketika menghadapi nyeri, memiliki daya tahan psikologis yang lebih baik dalam menjalani penderitaan, serta menunjukkan harapan dan optimisme yang lebih tinggi selama proses pengobatan. Bahkan, sebagaimana disampaikan oleh beliau, sejumlah penelitian di negara-negara Barat menunjukkan bahwa individu yang tidak memiliki dukungan spiritual cenderung mengalami kecemasan dan persepsi rasa sakit yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, mereka yang memiliki penghayatan spiritual yang baik umumnya menunjukkan tingkat kecemasan dan persepsi nyeri yang relatif lebih rendah.

Pengaruh spiritualitas tersebut bekerja melalui berbagai mekanisme psikologis dan sosial, antara lain dengan menghadirkan ketenangan batin, mengurangi stres dan depresi, memberikan makna terhadap penderitaan yang dialami, serta memperkuat dukungan sosial melalui lingkungan dan komunitas keagamaan.

Bapak Menteri juga memberikan pemaknaan yang menarik terhadap istilah al-mustasyfā (المستشفى).

Menurut beliau,  rumah sakit dalam bahasa Arab secara etimologis, al-mustasyfā berasal dari akar kata syifā’ (الشفاء) yang berarti kesembuhan. Dalam konteks pidato inspiratif beliau pemaknaan yang disampaikan sangat indah karena menekankan fungsi rumah sakit sebagai tempat menghadirkan ketenangan, harapan, dan kedamaian, bukan sekadar tempat merawat penyakit. tersebut tidak sekadar dipahami sebagai “rumah sakit” dalam pengertian fisik, melainkan mengandung makna yang lebih mendalam, yakni sebuah tempat yang menghadirkan kenyamanan, ketenteraman, kedamaian, dan harapan bagi mereka yang datang mencari kesembuhan. Dengan demikian, rumah sakit idealnya menjadi ruang yang tidak hanya mengobati penyakit, tetapi juga menghadirkan rasa aman, ketenangan batin, serta energi positif yang membantu mempercepat proses pemulihan pasien.

Mencermati paparan ilmiah yang disampaikan oleh Bapak Menteri Agama tersebut, tampak adanya keterhubungan yang sangat erat dengan nilai-nilai ajaran Islam. Allah Swt. berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)

Demikian pula sabda Rasulullah Saw.:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya."
(HR. Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa keimanan memberikan kemampuan kepada seorang mukmin untuk memandang ujian, penderitaan, dan rasa sakit dari perspektif yang lebih positif, penuh makna, dan sarat harapan. Dari keyakinan inilah lahir ketenangan jiwa, ketangguhan mental, serta kekuatan untuk bertahan menghadapi berbagai cobaan kehidupan.

Oleh karena itu, menghadirkan dimensi spiritual dalam pelayanan kesehatan tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelengkap, melainkan merupakan bagian integral dari ikhtiar mewujudkan pelayanan yang paripurna; pelayanan yang tidak hanya merawat tubuh, tetapi juga menenangkan jiwa dan menguatkan harapan.

Ketika selesai menggambarkan pendanaan untuk rumah sakit UIN Alauddin yang besarannya mencapai triliun, Menteri Agama berharap seluruh sudut rumah sakit ditata dengan sentuhan kenyamanan dan keindahan. Ruang-ruang terbuka maupun tertutup hendaknya dihiasi nuansa ekologis yang menghadirkan suasana teduh, asri, dan menenangkan.

Tak luput dari perhatian pak Menteri agar saluran air di depan rumah sakit pun seyogianya tidak dibiarkan menjadi bagian yang terabaikan. Dengan penataan yang baik, ia dapat bertransformasi menjadi taman-taman bunga yang indah, menghadirkan warna kehidupan, sejuk, menumbuhkan rasa nyaman dan damai bagi setiap insan yang melintas.