Gambar Menuju Puncak Sepuluh Malam Terakhir

Memasuki hari ke-20 Ramadhan, seorang mukmin sesungguhnya sedang berada pada fase yang sangat penting dalam perjalanan spiritualnya. Dua puluh hari telah berlalu, sementara sepuluh malam terakhir—yang menyimpan kemuliaan besar—sudah di depan mata. Inilah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana Ramadhan memperbaiki diri kita?

Sering kali manusia lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada melihat kekurangannya sendiri. Padahal Ramadhan justru datang sebagai ruang pendidikan ruhani untuk melatih muhasabah—introspeksi diri.

Seorang pakar psikologi moral modern, Daniel Goleman, menekankan bahwa kesadaran diri (self-awareness) adalah fondasi dari perbaikan karakter. Tanpa kemampuan melihat kekurangan diri sendiri, seseorang akan cenderung menyalahkan orang lain atas berbagai persoalan. Dalam konteks Ramadhan, kesadaran diri ini menjadi semakin penting karena ibadah puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego dan kesombongan.

Pandangan ini sejalan dengan nasihat para ulama. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa salah satu tanda hati yang hidup adalah kemampuan seseorang untuk melihat aib dirinya sendiri sebelum mencari aib orang lain. Menurutnya, orang yang sibuk memperbaiki dirinya tidak akan memiliki waktu untuk menilai dan mencela orang lain.


Seorang ulama besar lainnya, Hasan al-Basri, pernah berkata, “Seorang mukmin adalah cermin bagi dirinya sendiri; ia lebih dahulu menimbang dirinya sebelum menimbang orang lain.” Nasihat ini mengandung makna bahwa Ramadhan bukanlah panggung untuk menilai kesalehan orang lain, melainkan kesempatan untuk memperbaiki hati kita sendiri.

Dalam tradisi tasawuf terdapat sebuah kisah yang sering diceritakan tentang Rabi'a al-Adawiyya. 

Suatu hari seseorang datang kepadanya dan mulai mengeluhkan keburukan orang-orang di sekitarnya. Dengan tenang Rabi'ah berkata, “Jika engkau sibuk melihat dosa orang lain, berarti engkau lupa melihat dosa yang lebih dekat—yaitu dosa dirimu sendiri.” Mendengar itu, orang tersebut terdiam dan mulai menyadari bahwa memperbaiki diri jauh lebih penting daripada menghakimi orang lain.

Kisah ini mengajarkan bahwa perjalanan spiritual seorang hamba tidak diukur dari seberapa banyak ia mengkritik orang lain, tetapi dari seberapa dalam ia mampu menundukkan egonya sendiri.

Karena itu, memasuki hari ke-20 Ramadhan ini, mungkin inilah saat terbaik untuk melakukan evaluasi sederhana: apakah puasa kita telah membuat hati lebih lembut? Apakah ibadah kita telah menjadikan kita lebih rendah hati? Ataukah justru kita masih sibuk menilai kesalahan orang lain?

Ramadhan akan segera menuju puncaknya. Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas untuk memperbaiki apa yang belum sempurna.
Maka sebelum Ramadhan berlalu, marilah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:

Sudahkah kita menggunakan Ramadhan untuk memperbaiki diri, atau justru lebih banyak mengoreksi orang lain?

Allah A’lam

Makassar, 10 Maret 2026