Gambar Menjemput Lailatul Qadar

Malam ke-22 Ramadan, Saya kembali ke Pangkajene, Sidrap. Beberapa hari sebelumnya saya hadir pada peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Agung. Kini saya kembali, memberi tausiah di Masjid Quba.

Panitia meminta saya membahas hablum minallah dan hablum minannas. Dalam kesempatan itu, saya menautkannya dengan kemuliaan Lailatul Qadar. Malam-malam ini adalah peluang emas: memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, sekaligus merawat hubungan dengan sesama lewat pintu maaf.

Masya Allah, masjid masih penuh. Saya memandang shaf-shaf yang rapat itu dengan rasa kagum. Pemandangan itu terasa indah—ikhtiar bersama menjemput malam mulia janji Allah. 

Jamaah Masjid Quba seakan memiliki cadangan energi tambahan—magala’ na mawatang—bertahan sejak tarawih hingga kembali menyimak kuliah subuh.

Saya membatin: apakah ini tanda kebangkitan spiritual, atau sekadar patroli musiman? 

Pertanyaan itu selalu muncul setiap Ramadan memasuki sepuluh malam terakhir—fenomena yang berulang, namun tetap menarik untuk disimak.

Iseng-iseng saya membayangkan: para ilmuwan mestinya membuat aplikasi bernama “LQ Finder”, alat pendeteksi hadirnya Lailatul Qadar. 

Bayangkan jika itu benar-benar ada. Aplikasi ini pasti laris manis. Tanda-tanda kehadiran malaikat cukup dipantau lewat layar sentuh.

Ponsel tinggal bergetar saat kita sedang rebahan. Lalu muncul notifikasi:

“Lailatul Qadar terdeteksi dalam radius 500 meter.”

Namun Tuhan Maha Pintar menyembunyikan rahasia-Nya. Jika tanggalnya diumumkan di papan reklame, masjid mungkin hanya penuh semalam. Setelah itu kembali sunyi.

Kipas angin berputar pelan. Sarung dan mukena terlipat di pojok.

Dalam hening malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan, saya merasakan hati belajar berserah kepada Allah—dengan ikhlas dan keyakinan. Saat dunia terasa berat dan melelahkan, malam-malam seperti ini menghadirkan ketenangan bagi hati yang mendekat kepada-Nya.

Tidak ada doa yang terlalu kecil bagi Allah untuk didengar. Setiap doa yang terangkat ke langit seolah membawa secercah cahaya bagi masa depan.

Dalam ikhtiar menjemput Lailatul Qadar, saya semakin sadar: yang dicari bukan sekadar malamnya, melainkan kedekatan dengan Allah.

Satu hal selalu membuat saya takjub saat membayangkan malam yang dijanjikan itu: turunnya para malaikat. Al-Qur’an menggambarkannya dengan begitu indah:

"Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr: 4)

Saya pernah mendengar seorang ulama menjelaskan: saking banyaknya malaikat yang turun ke bumi pada malam itu, jumlahnya bisa lebih banyak daripada butiran pasir di muka bumi. Membayangkannya membuat hati saya terasa kecil sekaligus tenteram. Betapa malam itu dipenuhi rahmat—dan pengawasan langit.

Usai tausiah subuh, berakhir lagi satu episode safari dakwah saya di Bumi Mallomo. Dalam perjalanan pulang menuju Makassar, saya melihat geliat mudik mulai terasa. Di atas atap mobil, barang-barang penumpang berjubel—seolah seluruh isi rumah ikut dibawa pulang ke kampung halaman.

Kadang saya melihat manusia begitu sibuk memperbaiki hubungan dengan langit, tetapi lupa sisi kemanusiaannya yang jenaka. Ada yang iktikaf sangat khusyuk, padahal sebenarnya sedang melakukan “tidur produktif”—mengejar rekor hibernasi spiritual seribu bulan. Pemandangan seperti itu membuat saya tersenyum sekaligus merenung: betapa manusia mendekati Tuhan dengan segala keterbatasan dan kelucuannya.

Dalam perjalanan itu saya sempat singgah sejenak, memandang gelombang laut yang tak lelah menghantam pantai. Dari sana saya belajar bahwa mengejar amal jariyah seharusnya seperti ombak: tidak pernah lelah, terus bergerak, terus kembali.

Saya menutup catatan ini saat kendaraan memasuki perbatasan kota. Saat itulah saya kembali menyadari bahwa menjemput Lailatul Qadar bukan sekadar terjaga semalam suntuk, melainkan menjaga hati tetap ringan saat mendekat kepada-Nya.

Kamis, 22 Ramadan 1447 H / 12 Maret 2026

SK