Gambar Menjelang Peluit Akhir Ramadan

Ramadhan ke-20 tiba. Rasanya seperti pemain bola memasuki menit ke-80. Napas megap-megap. Stamina lowbat. Ritme bangun malam, urusan sahur, hingga padatnya aktivitas harian membuat dada sesak.

Energi cadangan mulai digunakan. Untungnya, sebelum Ramadhan sempat suntik vitamin demi menghadapi umat empat kali sehari. Tanpa itu, fisik mungkin sudah “mogok seperti mobil Kijang”.

Betis mulai “konde”—keras laksana betis kondektur bus mengejar setoran. Pemain bola mengejar bola di lapangan hijau, kondektur mengejar setoran di aspal panas. Keduanya butuh betis baja; satu demi prestasi, lainnya demi nasi.

Papan skor Ramadan belum aman. Kini memasuki garis transisi: meninggalkan babak ampunan, bersiap sprint menuju fase pamungkas, itqun min an-nar.

Prof. Misbahuddin, kawan dari UIN Alauddin, dua kali menghubungi saya. Beliau sangat mengharapkan kehadiran di Masjid H. Jamaluddin Muhammad. Karena jadwal bentrok, saya terpaksa mengutus “pemain pengganti” ke lokasi lain.

Sebelum naik mimbar, saya tertegun mendengar MC mengumumkan sisa saldo kas masjid: “Nihil”. Ternyata bukan di sini saja; beberapa masjid lain juga mengumumkan saldo serupa.

Bagi saya, ini pengumuman terbaik.

Saldo nihil berarti seluruh sumbangan jamaah sudah difungsikan sepenuhnya demi umat. Para penyumbang dapat merasakan aliran amal jariyah secara nyata. Model pengelolaan transparan patut diacungi jempol.

Daripada saldo ratusan juta mengendap di bank tanpa fungsi, para penyumbang belum merasakan detak kebaikan dari harta sendiri.

Pernah terjadi sindiran seorang takmir di sebuah masjid,

“Saldo kas cukup beli kerupuk. Kalau mau karpet baru, mohon sumbangan ditambah.”

Di masjid lain, drama kecil sering muncul saat kotak amal mulai berkeliling dari shaf ke shaf.

Ada jamaah mendadak “amnesia”. Ada pula yang pura-pura terlelap. Sebagian tampak sibuk mengobrak-abrik dompet, mencari uang paling kecil bergambar Pattimura.

Jika dompet didominasi uang bergambar Pattimura, lembar paling lusuh atau hampir robek sering mendapat kehormatan masuk kotak amal.

Begitulah nasib kotak amal malam itu.

Harapan tetap satu: Surga.

Kadang muncul kisah “apes”. Niat memasukkan Rp2.000, justru Rp100.000 meluncur masuk. Begitu sadar, rasa nyesek terbawa sampai pulang.

Ada juga tipe sigap: sebelum kotak amal tiba, tubuh sudah berdiri lebih dulu lalu melangkah pelan menjauh—keluar masjid.

Kerapian manajemen masjid terlihat pula pada tata tertib mimbar: tausiyah maksimal 15 menit.

Tadi malam durasi ceramah saya lewat tiga menit. Usai tausiyah, panitia justru mengerumuni saya.

“Mestinya ditambah lagi, Ustaz,” puji mereka.

Leher saya seketika terasa terangkat dua meter—Cedde’ka Buang Lengeng. Harapan pun muncul agar ada sambungan “episode ceramah” pada jadwal lain. Jamaah masih padat. Pemandangan melegakan di tengah badai diskon mal menjelang Lebaran.

Namun perhatian saya kemudian tertuju kepada panitia.

Sambil menikmati Roko’-roko’ Unti, Jalangkote’, hingga Putu Cangkiri’, tampak wajah mereka pucat kelelahan.

Nasib panitia dakwah sering mirip penjaga gawang. Jika penceramah memukau, jamaah diam—entah khusyuk atau mengantuk, bedanya setipis kulit bawang.

Pujian hampir tak pernah singgah kepada panitia.

Namun bila penceramah terasa “kurang gizi” atau durasi melampaui batas kesabaran perut, panitia menjadi sasaran empuk.

“Siapa yang mengundang ustaz ini?” mungkin begitu bisik jamaah.

Menjadi panitia dakwah membutuhkan mental baja. Stok sabar harus lebih banyak daripada stok takjil pada piring buka puasa.

Ketabahan panitia serta gerak cepat dana masjid mengingatkan perjuangan belum usai.

Sepuluh malam terakhir menjadi puncak—menjelang peluit akhir Ramadhan.

Momen krusial i’tikaf dan dzikir demi memburu Lailatul Qadar. Sayangnya, banyak orang terjebak “Sindrom Lari Karung”. Ambisi mengejar garis finis tetapi menabrak aturan. Ingin khatam kilat, namun tajwid berantakan.

Akhir cerita: tersandung, jatuh berguling, lalu merasa menang hanya karena berhasil menggelinding sampai garis finis. Estetikanya minus.

Babak final Ramadhan merupakan fase eliminasi.

Jangan sampai gugur saat piala pembebasan sudah berada di depan mata.

Ingatkan diri: jangan kendor. Jaga konsistensi ibadah—jangan sekadar panas di awal seperti petasan korek. Utamakan kualitas; satu rakaat khusyuk lebih bernilai daripada seratus rakaat dengan pikiran melayang ke menu sahur.

Kencangkan ikat pinggang. Barangkali ini Ramadan terakhir.

Saat peluit akhir berbunyi, semoga kita masih bertahan di garis kemenangan.

Selasa 20 Ramadan 1447 H / 10 Maret 2026
SK