Hari-hari ini, dunia tengah disibukkan oleh gelombang informasi melalui medsos tentang konflik dan ketegangan besar di Timur Tengah, yaitu serangan militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang menimbulkan eskalasi konflik dan korban dari berbagai pihak, serta memicu kekhawatiran luas tentang dampaknya. Ketegangan ini bukan hanya soal politik regional, ia berdampak pada keamanan global, ekonomi energi, bahkan rute transportasi internasional. Sudah banyak jadwal umrah dibatalkan, semoga tidak berimbas ke agenda haji.
Namun di tengah banjir berita itu kita perlu berhati-hati. Banyak informasi yang tersebar tidak jelas sumbernya, hanya dari katanya, info diputarbalikkan, atau bahkan dirancang sebagai disinformasi atau hoaks, termasuk klaim yang dilebih-lebihkan, potongan video yang tidak utuh, atau narasi yang sengaja provokatif demi klik dan reaksi.
Di era post-truth, karakter seorang Muslim diuji bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi dalam etika digital. Apakah kita ikut menyebarkan kebencian tanpa dasar? Apakah kita menikmati kejatuhan orang lain? Apakah kita merasa paling benar hanya karena berada dalam satu kelompok yang merasa paling sunnah?
Kebenaran hari ini sering tertutup oleh kebisingan. Maka orang beriman perlu menjadi penjernih, bukan penambah keruh. Menjadi penyejuk, bukan penyulut. Dunia sudah cukup panas oleh konflik dan polarisasi, jangan kita tambahkan api melalui kata-kata yang tak terjaga.
Orang bijak mampu menahan diri dari prasangka buruk, fitnah, atau kabar yang belum jelas. Sebelum membagikan berita tentang konflik, kita harus menyaring dan memvalidasi sumbernya. Sebelum merespon berita dengan kemarahan, kita perlu menarik napas untuk berpikir. Karena lidah yang berpuasa pun diperintahkan menjaga tutur kata, bukan hanya menahan makan.
Fenomena informasi perang ini adalah refleksi betapa mudahnya media dapat memecah konsentrasi kita, mengalihkan perhatian kita dari refleksi dan ibadah yang tenang. Saat kita terjebak mengejar berita sensasional, kita sering lupa meluangkan waktu untuk menenangkan hati, merenungkan diri, dan menyaring apa yang masuk ke dalam batin kita. Upload-an provokatif dan judul tajam mungkin meningkatkan engagement, tetapi mereka juga bisa menambah polarisasi, kebingungan, dan kecurigaan, kondisi yang jauh dari spirit Ramadhan.
Sikap reflektif dalam menerima informasi juga adalah bagian dari karakter yang sepatutnya dibangun oleh puasa. Kita diajarkan untuk tidak mudah terpancing, untuk berpikir sebelum bertindak, dan untuk menguji kebenaran sebelum menyebarkannya. Ketika media sosial dan berita bekerja dengan algoritma yang memicu emosi kita, puasa menguji kemampuan kita untuk tetap sinkron dengan nurani, bukan naluri reaktif.
Lebih jauh lagi, konflik global seperti ini mengajarkan kita tentang rasa empati yang lebih luas. Ratusan nyawa hilang karena kekerasan bersenjata. Ketegangan ini mempengaruhi bukan hanya satu wilayah, tetapi juga harga energi, jalur transportasi, dan stabilitas dunia. Konflik yang tampaknya jauh pun berdampak pada kehidupan kita, di pasar energi, ekonomi global, bahkan persahabatan lintas budaya.
Jika kita bisa menjaga tutur kata di majelis, kita juga harus menjaga sumber informasi di era digital. Jika kita mampu menahan diri dari makanan yang menggugah selera, kita juga harus menahan diri dari reaksi emosional yang menggugah amarah.
Karena musuh terbesar bukan hanya berita yang salah, tetapi hati yang mudah terpancing. Tidak semua hal layak dibagikan. Tidak semua kata layak diucapkan. Dan tidak semua kabar layak dipercaya.
Di tengah banjir informasi, umat yang kuat bukan yang paling cepat merespon, tetapi yang paling bijak menyaring; bukan yang paling lantang berargumen, tetapi yang paling tenang menjaga nurani.
Sungguminasa, 14 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi