(Membangun Keyakinan dan Sikap Berbasis "Hua" (Dia))
- Bagian II -
Setelah memasuki usia belajar, maka diajarlah mengaji Al-Qur'an oleh seorang guru yang bernama Daenta Π Tasammeng Setelah khitan, Yusuf pun lanjut belajar ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Ma'ani, Fiqhi dan lain-lain ilmu yang mendukung kesuksesannya. dikemudian hari. Dua orang gurunya pada tahap lanjutan ini ialah I Lokmo ri Antang Datok dan Panggentungan.
Karena Syekh Yusuf dilahirkan, dibesarkan dan dididik dalam lingkungan Istana, maka sangat mungkin salah satu guru dan pembimbingnya ialah I Mangngada Cinna Karaeng Pattingngalloang, yang disebut sebut menguasai 6 (enam) Bahasa asing dan pernah memesan Teropong Bintang kepada Galileo Galilei (1564 1642). Beliau adalah Raja Tallo ke-8 yang sekaligus sebagai Mangkubuni Kerajaan Gowa.
Dalam Lontarak Bilang Kerajaan (Catatan Harian Kerajaan), disebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 1600 M/1009 H dan wafat pada malam jumat, 15 September 1654 bertepatan dengan 6 Zulkaidah 1064 H. (ALLIGTVOET: 6 dan 21). Kalau demikian, Karaeng Pattingngalloang lahir 26 tahun lebih duhulu dari pada Syekh Yusuf dan sewaktu beliau wafat, Syekh Yusuf sementara dalam Pengembaraannya menuntut ilmu.
Karena jasanya yang besar Karaeng Pattingngalloang Raja Tallo VIII diangkat jadi Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.74/TK/2019, tanggal 13 Agustus 2019.
Fakta diatas memberi gambaran yang jelas bahwa suasana dalam dua Kerajaan Kembar (Gowa Tallo) sangat mendukung upaya pemantapan persiapan Syekh Yusuf untuk melanjutkan pelajaran keluar negeri.
Dalam Lontarak disebutkan: "Tidak berapa lama mengaji Al-Qur'an, maka yusufpun tamatiah. Kemudian dilanjutkannya dengan belajar Sharaf, Nohwu dan ilmu Mantiq, kemudian lanjut mengkaji kitab-kitab sehingga semua permasalahan dibahasnya telah sementara masih berada di kampung halaman sendiri."
Oleh karena itu di sepakati untuk dia melanjutkan pelajarannya ke negeri luar sampai ke tanah suci Mekah.
Gurunya berkata kepadanya: "Hai Yusuf, Cukuplah ilmumu di Makassar ini. Namun kami berpesan kepadamu supaya kamu melanjutkan pelajaranmu ke Tanah Suci Mekah untuk memperdalam ilmu pengetahuanmu dan lebih memantapkan pemahamanmu".
Atas dorongan guru-gurunya dan dengan persetujuan Sultan pada waktu itu yaitu Raja Gowa Mannuntungi Mattola, Sultan XV Daeng Al-Malikussaid (1639-1653), sebagai Raja yang Pertama diberi gelar di kota Suci Mekah, maka Syekh Yusuf pun berangkatlah ke luar negeri dengan tujuan untuk memperluas memperdalam dan ilmu pengetahuannya, di samping untuk menunaikan Ibadah Haji.
Sebelum menempuh perjalanannya yang panjang (kali pertama) dua orang gurunya masing-masing Datok ri Panggentungan dan Lo'mo ri Antang, dengan tekun membina dan membekali Syekh Yusuf dengan persiapan yang mantap utamanya dalam bidang bahasa, dan ketahanan mental, dengan harapan agar perjalanannya nanti dapat terlaksana dengan baik tanpa hambatan yang berarti.
Untuk maksud tersebut oleh dua orang gurunya Datok ri Panggentungan dan Lo'mo ri Antang di bawalah Syekh Yusuf berkelana ke desa-desa menjelajah ke daerah pegunungan sampai ke Bawakaraeng.
Dalam (Lontarak Riwayat Hidup Syekh Yusuf) dikatakan bahwa mereka bertiga yaitu Yusuf, Lo'mo ri Antang dan Datok ri Panggentungan pergi mencari ilmu. Lalu ketiganya ke Gunung Bawakaraeng menemui seorang Wali.
Sejak kecil sampai remaja, apalagi setelah dewasa dan memasuki masa tua Syekh Yusuf senantiasa dan memperlihatkan memperhadapkan perangai atau akhlak yang mulia serta sikap sportivitasnya yang tegas.
Hal ini dapat dipahami karena beliau mendapat didikan langsung dalam Istana Raja. Bahkan dalam Lontarak disebutkan bahwa beliau diajar mengaji dalam Istana Bersama putri Raja Gowa Sultan Alauddin yang bernama I Sitti Daeng Nisanga.
Didikan akhlak yang baik dan budi Bahasa yang halus yang diperoleh dalam lingkungan Istana ternyata akan menjadi dasar yang kuat dan sangat mendukung untuk tampilnya dikemudian hari sebagai tokoh Sufi yang mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang mulia.
Buya Hamka menulis dalam bukunya Sejarah Umat Islam: "Pribadinya yang menarik hati menyebabkan dia disambut dalam Kerajaan Banten dengan segala kehormatan dan kawin dengan putri Sultan Agung Tirtayasa").
Perangainya yang mulia dan sikap sportivitasnya yang tegas dapat dilihat dalam suratnya yang dikirim kepada Karaeng Karunrung pada saat beliau berada kembali di Banten (kali kedua).
Ada dua poin utama isi surat beliau kepada Karaeng Karunrung yang ditulis dalam bahasa Arab.
Sesudah ucapan salam dan ungkapan rasa hormat serta rindu yang diiringi do'a pada mukaddinah surat, beliau tulis:
ان جميع ما أرسلتم إلى عبدكم الفقير مع كريرين وكذلك مع اهل
مندر الا الدراهم التي كانت مع الحاج عبد الرشيد توليساقاتهاما وصلت الى عبدكم غير انه قد وصل لكم الثواب بسبب الخير في نينكم ان شاء الله تعالى
"Sesungguhnya semua yang Karaeng kirim kepada hamba yang fakir, melalui para kurir dan keluarga Mandar (hamba telah terima semua), kecuali yang tidak (belum) sampai ke tangan hamba ialah sejumlah Dirham dikirim melalui H. Abd. Rasyid Toulise. Namun demikian, Karaeng sudah mendapatkan pahala, disebabkan karena niat baik Karaeng, Insya Allah"
فيا مولانا الموت قريب والعمر قصير والعمل قليل والعلم غير كثير والذنب زائد فما لنا كلنا ألا الرجوع الى الله تعالى
Artinya:
"Wahai yang Mulia, maut itu dekat, umur itu pendek, amal itu sedikit ilmu itupun tidak banyak sementara dosa bertambah. Maka tidak boleh tidak bahwa kita semua harus kembali kepada Allah".
Memperhatikan poin pertama diatas, ada kesan:
a. Bahwa surat Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung merupakan pertanggungjawaban atas apa yang telah diterima dari kiriman Karaeng Karunrung, walaupun tidak secara rinci menyebutkan jenis barang atau jumlah uang.
b. Bahwa perjalanan Syekh Yusuf keluar negeri adalah perjalanan yang terpantau dan dibiayai oleh Kerajaan, mengingat jabatan Karaeng Karunrung sebagai Wazir atau Mangkubumi yang salah satu tugasnya ialah menangani Keuangan Kerajaan.
c. Memperhatikan konstrakasi kalimat yang digunakan oleh Syekh Yusuf, dapat dipastikan bahwa pengiriman dalam barang ataupun uang itu berlangsung waktu lama dan melalui banyak orang.
Poin kedua menunjukkan sikap tegas Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung Raja yang sangat beliau hormati dan puji kecerdasannya dalam mengemban jabatannya, beliau dengan tegas berpesan kepadanya tentang kematian yang pasti datangnya, umur yang relatif singkat, amal yang hanya sedikit dan seterusnya sebagaimana tersebut diatas.
Di akhir surat, Syekh Yusuf menyebutkan bahwa surat ditulis di Banten pada bulan Jumadil Awal, tahun 1084 H.
Syekh Yusuf Al-Makassary menghabiskan lebih separuh hidupnya di luar kampung halarnannya. Masa yang panjang itu di habiskan dalam dua bentuk perjuangan yang panjang dan tidak ringan.
Pertama di habiskan dalam pengembaraan dan penuntutan ilmu di luar negeri di samping untuk menunaikan ibadah haji.
Perjalanan panjang pertama ini memakan waktu selama kurang lebih 23 tahun (1644/1645-1668). Daerah atau negeri yang di kunjungi ialah Banten, Aceh, Yaman, Mekah, Madinah, Syam dan Turki, bahkan ada yang menyebutkan juga termasuk India.
Perjalanan panjang kedua yaitu kembali ke Banten (1671) dengan tujuan untuk berjuang melawan Penjajah Belanda, bergabung dengan Sultan Ageng Tirtayasa.
Setelah berjuang dan bergelirya di wilayah Jawa Barat akhirnya beliau tertangkap lewat suatu tipu muslihat pada tanggal 14 Desember 1683.
Beliau lalu di penjara di Jakarta pada tahun 1684 pada usia ke-58. Karena pihak Kompeni Belanda menaruh curiga beliaupun di pindahkan atau di asingkan ke Ceylon pada usia dari 59-68 tahun (1685-1694) dan akhirnya beliau di buang lagi ke Afrika Selatan pada usia dari 68-73 tahun (1694-1699).
BERSAMBUNG...