(Membangun Keyakinan dan Sikap Berbasis "Hua" (Dia))
Adalah suatu keniscayaan bahwa untuk bicara tentang ajaran seorang terlebih dahulu Tokoh, harus diperkenalkan, siapa dia dan dan latar bagaimana belakangnya. Tentang siapa. Syekh Yusuf Al-Makassary bagaimana latar belakangnya, sudah banyak diketahui orang. Karena sejak lama sudah banyak. pembicaraan tentang tokoh berkaliber besar ini, baik melalui diskusi biasa, maupun lewat forum resmi seperti seminar.
Selain itu di dunia perguruan tinggi, telah banyak pula sekripsi, tesis dan disertasi yang di tulis mahasiswa dalam rangka memperoleh gelar akademik.
Namun demikian, untuk memenuhi ketentuan seperti tersebut di atas, penulis tetap ingin uraikan tentang riwayat hidup Syekh Yusuf Al-Makassary, sebelum lanjut membicarakan ajarannya.
Syekh Yusuf Al-Makassary adalah salah satu ulama Nusantara abad ke-17 yang lebih separuh umurnya dihabiskan di luar kampung halamannya. Perjalanannya yang panjang membawanya
tampil sebagai tokoh besar yang terkumpul pada dirinya banyak kelebihan bahkan. gelar seperti Tokoh Sufi, Tokoh Tarekat, Pejuang, Intelektual, Guru Toleransi, Pejuang Kemanusiaan dan lain-lain.
yang Dalam dunia Sufi dan Tarekat, beliaupun dijuluki banyak gelar kehormatan. seperti Abu al-Mahasin ( Bapak banyak kebajikannya), Taju al-Khalwaty ( Mahkota Khalwaty), al-Alim (yang alim, banyak ilmunya), Quthubu al-Imam Penghulu imam), Barakat al-Khash Wa al-'Am (Berkah khusus dan berkah umum), Al-Jami' Baina 'ulumi al Zawahir wa al-Bawathin ( Tokoh yang mensinergikan antara ilmu lahir dan ilmu batin) dan lain-lain.
Ketokohan Syekh Yusuf sebagai seorang ulama Sufi termasyhur, dan pejuang penentang penjajahan Belanda sudah banyak dibicarakan dan ditulis baik di dalam maupun di luar negeri.
Peletakan dasar yang kuat untuk tumbuh dan tampilnya Syekh Yusuf Al-Makassary sebagai tokoh
termasyhur, di mulai sejak di kampung sendiri, Gowa. Beliau belajar dan di didik dalam lingkungan istana oleh guru-gurunya yang. bernama I Lokmo ri Antang dan Datuk ri Panggentungan.
Bagaikan tanaman, Syekh Yusuf adalah pohon yang besar yang tumbuh di tanah. yang subur, dengan lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
Syekh Yusuf dilahirkan di masa kejayaan dua Kerajaan kembar yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo (Kedua Kerajaan ini sering juga disebut Kerajaan Makassar).
Kerajaan Gowa pada waktu itu di bawah pemerintahan. Raja Gowa XIV yang bernama I Mangngarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga Gaukanna (1586-1639).
Nama Raja inilah yang diambil untuk nama UIN yang ada di Makassar yaitu Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Karena Sultan Alauddin di angkat jadi Raja Gowa pada usia 7 tahun, maka sebelum sampai umur, pemerintahan di jalankan roda oleh Raja Tallo VI yang bernama I Mallingkaan Daeng Nyonri Karaeng Matowaya Sultan Abdullah Awalul Islam (1573-1636) yang sekaligus memangku jabatan Mangkubumi Kerajaan Gowa.
Dari jalur keluarga, Sultan Abdullah Awalul Islam adalah paman dari Sultan Alauddin, karena ibu Sultan Alauddin yang bernama I Sambo Daeng Niasseng Raja Tallo V, adalah saudara perempuan Sultan Abdullah Awalul Islam.
Dalam Lontarak (Buku Sejarah) Kerajaan Tallo disebutkan bahwa Mallingkaan Daeng Nyonri yang kemudian bergelar Sultan Abdullah Awalul Islam, naik tahta pada usia 20 tahun dan masuk Islam pada usia 25 tahun.
Karena beliau lahir pada tahun 1573, berarti di angkat jadi Raja Tallo VI pada tahun 1593 dan masuk Islam pada tahun 1598. Kalau Sultan Alauddin di lantik jadi Raja Gowa XIV pada usia tujuh tahun, berarti beliau di lantik bersamaan dengan Sultan Abdullah Awalul Islam yaitu pada tahun 1593, karena beliau lahir pada tahun 1586.
Pertanyaan yang muncul ialah, kapan masuknya Islam Sultan Alauddin? Apakah juga bersamaan dengan Sultan Abdullah, yaitu pada tahun 1598?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa tahun keislaman kedua Raja dari dua Kerajaan Kembar itu seharusnya sama tidak boleh berbeda mengingat struktur pemerintahan dalam Kerajaan waktu itu.
Sewaktu penulis ujian pada tahun mempertahankan 1975 sekripsi yang berjudul "Syekh Yusuf Dan Pengaruhnya", salah satu penguji (Prof. DR. H. M. Shaleh A. Putuhena) tidak setuju kalau dikatakan Sultan Abdullah Raja Tallo VI dan Sultan Alauddin Raja Gowa XIV masuk Islam dalam waktu yang berbeda, karena tidak bisa diterima dilihat dari segi politik dan struktur pemerintahan apalagi dalam lingkungan. dua Kerajaan Bersaudara, Gowa dan Tallo, yang memegang teguh perinsip "Sekre ata narua Karaeng" artinya: "Sotu rakyat, dua Raja".
Kalau kita mengacu kepada pendapat dan perinsip ini, maka patut dapat diduga bahwa telah terjadi pertukaran satu kata dalam penuturan pengislaman Alauddin Raja Gowa XIV, yaitu kata "Umurukna" (Umurnya) tertukar dengan kata "Maggau" (Memerintah).
Kalau kalimat dalam Lontarak itu diterjemahkan maka terjemahannya berbunyi: "Pada usia tujuh tahun, beliau di angkat jadi Raja, dan setelah dua belas tahun memerintah beliau masuk Islam". Kalau kalimat itu diubah dengan mengganti kata "Maggau" dengan kata "Umurukna" (Umurnya), terjemahannya berbunyi: "Pada usia tujuh tahun, beliau diangkat jadi Raja dan pada usia dua belas tahun, beliau masuk Islam".
Hal ini menunjukkan bahwa pertukaran satu kata mengakibatkan selisih waktu selama tujuh tahun.
Bentuk kalimat pertama menunjuk tahun 1605, dan bentuk kalimat kedua menunjuk tahun 1598.
Kalau 1605 tahun masuknya Islam Sultan Alauddin berarti beliau masuk Islam tidak bersamaan dengan Sultan Abdullah Raja Tallo VI, sedang kalau 1598 Sultan Alauddin masuk Islam, berarti beliau masuk Islam bersamaan dengan Sultan Abdullah yang juga menjabat selaku Mangkubumi Kerajaan Gowa yang dalam jalur Keluarga beliau adalah paman Sultan Alauddin.
Lima tahun kemudian, tepatnya 22 September 1603 M bertepatan dengan 9 Jumadil Awal 1015 H Agama Islam telah dinyatakan sebagai Agama resmi Kerajaan. (A LIGTVOET: 6)
Fakta lain yang menunjukkan sudah tingginya semangat keberislaman jauh sebelum Syekh Yusuf lahir, ialah nama asli Sultan Alauddin, yaitu /Mangngarangi Doeng Monrabbia yang kalau di terjemahkan berarti 7 Mangngarangi (Orang yang menyebarkan atau menyiarkan) Manrabbia (Agama yang mengajarkan Rabbi atau tentang Allah SWT.)"
Jadi Mangngarangi Daeng Manrabbia berarti, Orang yang menyebarkan atau menyiarkan agama (Islam) yang mengajarkan tentang Allah SWT.
Pertanyaannya "Apakah orang tua beliau sudah Muslim sehingga memberikan nama yang begitu indah dan sangat islami kepada putranya? yang kalau di artikan ke dalam bahasa arab berarti: ) ناشر الدين yang atau yang ) ناصر الدين menyebarkan menyiarkan agama (islam) atau menolong agama Allah). Beberapa penulis sejarah Islam di Indonesia seperti Buya Hamka, menyebut bahwa | Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Raja Gowa ke-12 Ayahanda Sultan Alauddin sudah Muslim, hanya saja belum mengumumkan keislamannya. Buya Hamka menyebutkan dalam bukunya perbendaharaan lama, bahwa karena pertimbangan politik sehingga beliau menunda pernyataan keislamannya secara terbuka
Sejalan dengan pendapat Buya Hamka, seorang tokoh masyarakat Kab. Gowa bernama Tannio Daeng Labbang (Alm) menyatakan bahwa Raja Gowa XII, I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa ayahandanya Sultan Alauddin sudah muslim. Salah satu buktinya ialah diberikannya kepada putranya nama Islami yaitu I Mangngarangi Daeng Manrabbia (Artinya: Orang yang menyebarkan Agama Islam).
Dalam Sejarah Gowa seri A No.1 yang disusun oleh Prof. Drs. G. J. Wolhoof dan Abd Rahim disebutkan bahwa I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo, Raja Gowa XII ayahanda Sultan Alauddin adalah Raja pertama yang membangunkan masjid orang-orang Melayu yang tinggal di Mangngallekana dan menganjurkan mereka. menunaikan ibadah Haji. ( hlm. 50)
Langkah-langkah Islami yang dilakukan oleh Karaeng Bontolangkasa Raja Gowa XII ayahanda Sultan Alauddin mulai dari membangun Masjid, menganjurkan orang naik Haji dan memberikan kepada putranya nama Islami memperkuat pendapat Buya Hamka dan Tannio Daeng Labbang bahwa ayahanda Sultan Alauddin sudah hanya memperkelamirkan keislamannya.
Berdasarkan Lontarak Bilang Kerajaan Gowa dan Tallo, Syekh Yusuf:
- Lahir pada tanggal 3 Juli 1626 M/ bertepatan 8 Syawal 1036 H (A LIGHTVOET: 8).
- Meninggal pada tanggal 22 Mei 1699 M bertepatan dengan 22 Zulkaiddah 1110 H, dalarn usia 73 tahun (A LIGTVOET: 47).
- Di makamkan kembali mayatnya di Lakiung Gowa pada hari Senin 5 April 1705 M bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1116 H (A. LIGTVOET: 50)
Pada Hasyiyah (catatan pinggir) salah satu kitab Syekh Yusuf yang berjudul: Al-Anbah Fii l'rab Laa Ilaaha Illa Allah, menyebutkan nama lengkap beliau yaitu: Yusuf bin Abdullah Al-Jawi Al-Makassary (Yusuf anak Abdullah berkebangsaan bersuku Nusantara, Makassar).
Di bukunya yang lain tertulis nama lengkap dan gelanya الشيخ الحاج يوسف التاج بن عبد الله بن أبي الخير المنجلاوي (Syekh Haji Yusuf Penyandang Mahkota bin Abdullah bin Abi al-Khair dari Moncongloe). Ibunya Bernama I Tubiani Sitti Aminah Daeng Kunjung.
BERSAMBUNG...