Kurang lebih satu
minggu kita telah meninggalkan bulan Ramadhan, bulan dimana kita berlomba-lomba
dalam kebaikan, baik kebaikan yang bersifat vertical (hubungan kepada Tuhan)
maupun kebaikan yang bersifat horizontal (hubungan kepada manusia). Vertical
ditandai dengan shalat, mengaji, puasa dan seterusnya, sementara horizontal dilambangkan
dengan sedekah, infaq, berbuat baik dengan sesama manusia.
Pertanyaannya
kemudian apakah tradisi ritual Ramadhan ini berefek kepada seseorang setelah
keluar Ramadhan? Ataukah ritual-ritual yang baik tersebut hanya ibarat angin
lewat dan hanya eksis pada bulan suci Ramadhan? Untuk menjawab pertanyaan ini,
tentu diperlukan penelitian mendalam, penulis dalam hal ini hanya akan
merefleksikan secara deskriptif.
“Magic Ramadhan”
Sudah jamak
dipahami bahwa Ramadhan ibarat bulan magic
yang bisa merubah paradigma dan perilaku seseorang secara instan. Fenomena ini
bisa dilihat dengan ramainya masjid-masjid baik yang ada di komples perumahan
maupun yang ada di pusat-pusat perbelanjaan, terutama sepuluh pertama bulan
Ramadhan, orang-orang yang tadinya jarang shalat lima waktu, kemudian menjadi
ahli ibadah, begitupula orang yang sebelumnya tidak pernah membuka kita suci
al-Qur’an, juga menjadi rajin mengaji selama bulan suci Ramadhan.
Orang yang
jarang bersedekah, berinfaq, pada bulan suci Ramadhan, namanya kemudian
tercatat sebagai daftar donatur, penyumbang di masjid-masjid dan berbagai panti
asuhan. Bahkan fenomena yang paling menarik, anak-anak yatim di berbagai panti
asuhan, yang sebelumya jarang dilirik, bulan suci Ramadhan telah menjadi berkah
tersendiri, mereka sibuk menerima undangan para dermawan untuk berbuka puasa di
hotel-hotel berbintang, di rumah-rumah mewah, bahkan di kantor-kantor
pemerintah.
Singkatnya,
bulan Ramadhan mampu membuat umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan,
menjadikan mereka shaleh secara personal sekaligus shaleh secara sosial. Demikianlah,
Ramadhan telah menjadi magic bagi setiap umat Islam, ia akan selalu dirindukan,
bahkan tidak hanya bagi umat Islam, saudara-saudara kita pengusaha non-muslim pun
akan selalu merindukan bulan suci ini, omzet penjualan mereka juga mengalami
peningkatan, lihat saja bagaimana roda ekonomi mengalami peningkatan perputaran
di bulan suci Ramadhan. Namun demikian, sekali lagi, apakah fenomena seperti
ini tetap bertahan seiring dengan berakhirnya bulan Ramadhan?
Menanti Efek Ramadhan
Jika ditilik salah
satu pesan profetik Nabi Muhammad saw tentang Ramadhan yang patut menjadi
perhatian bahwa antara Ramadhan dengan Ramadhan yang lain terdapat kaffarah. Terminologi kaffarah bisa diartikan sebagai penutup
atau (benteng) yang bisa membuat
seorang mukmin untuk tidak terjebak dalam lumuran dosa dan kemungkaran dan
tetap istiqamah dalam relung kebaikan dan kebajikan. Poin inilah sebenarnya
yang menjadi substansi dari Ramadhan. Artinya Ramadhan tidak hanya mengantarkan
seseorang menjadi shaleh pada bulan suci Ramadhan saja, tetapi kontinyuitas
kesalehan seseorang akan terus terbangun pasca keluar dari Ramadhan.
Kaum muslim yang
pada bulan suci Ramadhan, rajin shalat wajib ataupun shalat malam, selalu
bersedekah, berinfaq baik dalam keadaan gembira maupun dalam keadaan susah,
jauh dari tempat-tempat maksiat, sabar dalam berbagai keadaan, maka sejatinya, tradisi ini akan terus
berlanjut pasca Ramadhan. Titik inilah yang menjadi substansi ketaqwaan yang
menjadi ending dari puasa Ramadhan.
Taqwa adalah konsistensi (istiqamah) dalam beribadah terlepas dari perbedaan
ruang dan waktu. Bukankah Tuhan berpesan dalam kitab suciNya “bertakwalah kamu
dimanapun kamu berada”.
Terkait dengan
ini, salah satu pesan nabi yang patut dijadikan sebagai argument adalah bahwa
sebaik-baik amal adalah perbuatan baik yang dilakukan secara kontinu, meskipun
kadarnya kecil. Artinya kita berbuat baik, tidak menunggu waktu atau bulan
tertentu (baca: Ramadhan), tetapi setiap kesempatan, kita dituntut untuk
berbuat kebajikan. Poin ini menjadi urgen untuk kita sadari agar ibadah
Ramadhan tidak hanya terjebak rutinitas-formalitas saja, tanpa memberikan bekas
dan efek kepada yang bersangkutan.
“Syawal sebagai ajang refleksi”
Salah satu cara
Nabi agar rasa dan tradisi Ramadhan tidak berlalu seiring dengan berlalunya
bulan Ramadhan adalah anjuran untuk berpuasa syawal selama enam hari. Bahkan
janji Nabi sebagaimana diungkap dalam hadis sahih bahwa barangsiapa berpuasa
pada bulan suci Ramadhan kemudian mengikutkannya dengan enam hari puasa pada
bulan syawal maka ia seperti berpuasa sepanjang masa. Janji profetik ini tentu
saja dimaksudkan bagaimana tradisi Ramadhan tidak hilang begitu saja, puasa
yang dilakukan pada bulan suci Ramadhan akan tetap terasa dengan hadirnya
anjuran untuk berpuasa syawal meskipun dengan rasa dan suasana yang berbeda.
Disinilah makna
bulan syawal sebagai ajang untuk merefleksi dan melestarikan tradisi qiyam
Ramadhan. Bahkan anjuran untuk saling maaf dan memaafkan antar sesama pada
bulan syawal ini pada hakikatnya juga mencerminkan bagaimana pola hubungan
horizontal yang terbangun pada bulan suci Ramadhan, dapat berefek pada
bulan-bulan selanjutnya. Merajut kembali tali silatul rahmi dengan berbagai
bentuk seperti reuni, silatnas, temu kangen pada bulan syawal ini idealnya
tidak hanya menjadi ajang untuk menapak tilas romantika cerita masa lalu,
tetapi lebih dari itu tali silatur rahmi tetap terjaga dan terlestarikan
seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan.
Maka untuk menantii efek Ramadhan maka bertanyalah pada diri anda sendiri, apakah ada perubahan dalam diri anda baik ketika anda berinteraksi dengan Allah swt, apakah shalat lima waktu dan shalat malam anda tetap terjaga sebagaimana lazimnya pada bulan Ramadhan? apakah nilai-nilai kejujuran masih menjadi tradisi dalam membangun relasi anda dengan sesama sebagaimana pada saat bulan suci Ramadhan? atau apakah anda tetap bisa mengontrol emosi dan ego anda seperti pada saat anda puasa Ramadhan? jawaban dari sederet pertanyaan ini, silahkan anda jawab sendiri. Bukankah Umar bin Khattab pernah berpesan, hasibuu anfusakum qabla ‘an tuhasabuu (evaluasi diri anda sebelum anda dievaluasi).
(*)