Pendahuluan

Dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi tantangan ganda: akselerasi teknologi digital yang luar biasa dan krisis karakter kemanusiaan yang sering kali menyertainya. Di lingkungan Madrasah, tantangan ini terasa lebih krusial karena institusi ini memikul amanah ganda sebagai pusat transmisi ilmu pengetahuan sekaligus penjaga moralitas religius. Dalam konteks ini, profesionalisme guru tidak lagi cukup hanya diukur melalui sertifikasi atau penguasaan materi teknis. Mengacu pada pemikiran Muhammad Ilyas Ismail, profesionalisme guru Madrasah yang sejati harus berakar pada identitas kemanusiaan yang dipenuhi empati dan cinta, sebagai penawar bagi dingin dan gersangnya interaksi di media digital.