Ramadhan keempat ini aku saksikan ukhuwah—persaudaraan karena iman—bukan sekadar shaf rapat, melainkan simfoni berjamaah menggetarkan relung jiwa. Aku berdiri di antara shaf-shaf itu, iman menyatu dalam napas kolektif.
Aku telusuri lorong kota Makassar hingga pelosok daerah dalam safari Ramadhan. Dari sahur sunyi pinggir Pantai Losari hingga tarawih panjang Masjid Agung, syariat runtuhkan tembok isolasi diri. Lapar satukan frekuensi hati, haus jadi guru empati paling jujur—nggak ada bohong soal perut keroncongan!
Ukhuwah di _Syahrul Mubarak_ ini tumbuh dalam kearifan lokal hangat: bangunkan sahur dengan kentongan ala kampung, jenguk kerabat sakit bawa kurma ruthob dan roti srikaya beli di Alfamart atau Alfamidi selalu bersaing—meski satirnya, snack sering di- _smackdown_ habis di tangan penjaga duluan!
Komunitas _Paddomeng_ bareng sahabat hobi _maddomeng_ sambil teriak “ _Kandang Passai_ ”, rajut keakraban lewat langkah ringan.
Ramadhan penuh warna, dari sahur sunyi hingga buka bersama dirangkai tausiyah panjang.
Kelemahannya cuma satu: menjelang buka, jamaah bukber merapat masif saat tausiyah berakhir—seolah tunggu kalimat pamungkas: “ _Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu!_ ”
Di balik itu, syariat kerja senyap, rajut gelagar kasih, runtuhkan tembok ego.
Ukhuwah Ramadhan jadi jembatan raksasa, titian hubung hati terpisah jeruji individualisme.
Di hamparan sajadah, status sosial menguap bak asap sate Madura Antang. Arloji emas atau plastik sama-sama berhenti di imsak; jabatan luruh di hadapan ruku’ dan sujud.
Ia dinginkan bara politik, redam letupan sosial. Satu tarikan napas ketaatan latih sabar tanpa panggung pencitraan.
Namun aku terhentak: jurang antara semangat ibadah dan akhlak sosial masih menganga. Ramadhan kerap jadi festival lahiriah—pengajian ramai, bazar riuh—tapi perenungan sunyi.
Individualisme, egoisme, ta’asub (sikap fanatik buta) bayangi ukhuwah; kritik dicurigai musuh bebuyutan, perbedaan jadi ancaman. Butuh paku beton iman, pilar ketulusan agar gelagar persatuan tak retak. Tanpa fondasi itu, jembatan ukhuwah hanya dekorasi rapuh, goyah dihantam ego.
Puasa Ramadhan ini bukan sekadar tahan lapar—ia tahan amarah, kesombongan, hasrat paling benar.
Al-Qur’an ingatkan: _hati bisa keras bak batu, bahkan lebih keras_ (QS. Al-Baqarah: 74).
Aku renung: jangan sampai lapar hanya tahan nasi, tapi gagal lunakkan nurani.
Di titik-titik safari Ramadhan aku menyaksikan, sistem besar belum tegak. Namun tangan kecil mulai terulur: nasi kotak ala Padang dibagi tanpa seremoni, amplop tipis berpindah tanpa kamera. Sunyi, tulus—benih ukhuwah bertunas.
Jembatan belum selesai; tiang-tiang baru ditancap, niat tumbuh, kepedulian bergerak.
Gelagar utama nanti kerja bersama. Ukhuwah bukan cuma seremoni Ramadhan—persaudaraan ini harus dibangun kokoh sepanjang tahun.
Ramadhan bukan pesta sekali lalu hilang, tapi saat tanam akar persaudaraan abadi.
Benih sudah ditanam? Siram dan rawat.
Tiang sudah berdiri? Sambung jadi jembatan kokoh.
Ukhuwah lahir bukan dari satu orang, tapi banyak hati rela buang ego sendiri.
Rawat benihmu Ramadhan ini—tegakkan jembatanmu!
4 Ramadhan 1447 H / 22 Februari 2026.(SK)
Alat AksesVisi