Pendahuluan
Dalam ajaran Islam, keimanan tidak hanya berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi harus termanifestasi dalam tindakan nyata yang konsisten (istiqomah). Rangkaian tindakan ini, dalam perspektif modern, disebut sebagai Habit atau kebiasaan. Habit Islami seperti shalat berjamaah, puasa Senin-Kamis, dan sedekah bukan sekadar ritual mekanis, melainkan sebuah sistem pengembangan diri yang berdampak luas secara sosial di dunia dan menjadi tabungan abadi di akhirat. Esai ini akan membedah urgensi habit tersebut dengan menggunakan pendekatan Ilmu Psikologi dan Ilmu Pendidikan merujuk pada pemikiran Muhammad Ilyas Ismail.
Alat AksesVisi