Dalam ilmu sejarah mengajarkan bahwa data sejarah tersimpan dalam manuskrif, nyanyian, dan kalindaqdaq (pepatah), tetapi semuanya harus diaktualisasikan menurut perkembangan sosiai, sehingga sejalan dengan teori Peter Russell.
Dulu ada nyanian masyhur dalam bahasa Mandar;
Marra-marran pai walau
Pai-paindo pai
Ida naindo
Apa tuna iyau
Tuna memandang iyau
Di arena kindo u
Missuma liwan
Liwanma kasi asih
Artinya:
Alangkah terangnya
cahaya bulan
Namun cahaya
Karena saya orang hina
Kehinaan kudapat sejak dalam kandungan
Ketika dilahirkan
Aku dilahirkan dengan hina
Setelah diaktualisasikan dari perspektif agama Islam. Manusia lahir dalam fitrah. Hina atau mulia tergantung pada ikhtiar ketika ia telah bisa berusaha.
Dalam kalidaqdaq dahulu seperti diucapkan oleh Nanguru Hawu (K.H. Syahbuddin tahun 1940-an ketika menerima orang yang berpaham Muhammadiyah.
Nangguru Hawu sengaja membuatkan Kalidaqdaq:
Polei Muhammadiyah
Namarrusa agama
Nasiturui
Maradianna sara.
Mokai tia marola
Iman di Pmbusuang
Apa tania
Agamana Nabitta
Artinya:
Muhammadiyah datang
Merusak agama
Mereka bekerja sama
pemerintah agama
Tidak ingin menyerah
Imam di Pambusuang
Sebab yang dibawa
Bukan agama dari Nabi
(Waktu itu Muhammadiyah dianggap bukan agama yang bersumber dari Nabi).
Diperoleh dari wawncara Hj. Asia mantu H. Hawu).
Ada juga kalindaqdaq yang berarti positif untuk memberi motivasi generasi baru untuk belajar Alquran, yaitu:
Tanna ratang maupana
Ri totamma mangayi
Mala puayi
Ida pole ri Makkah
Artinya:
Sungguh beruntung
orang yang tamat mengaji
Bisa haji
Sekalipun belum pernah ke Mekkah
Kalindaqdaq ini disampaikan saat seorang anak naik kuda pattudu yang sengaja difestivalkan lengkap dengan pakaian hajinya.
Dalam periode berikunya K.H. Zainal Abidin datang kembali di kampung ini menyelenggarakan Majlis Taklim di rumah Ayahnya, H. Kumma yang dikenal sebagai penerima Muhammadiyah pertama di kampung ini. Beliau termasuk orang pertama siswa Normal Islam di Majene, di sinilah dia menerima Muhamadiyah karena di antara gurunya adalah dari anggota Muhammadiyah. Kedatangan Muhammadiyah di Pambusuang, ternyata diprotes oleh Annagguru Syekh Yasin al-Mandary (Annangguru Kacing) beliau setelah itu ke Mekah jadi warga negara Saudi dan beliau dipercaya memberi pengajian di Masjid Haram. Menurut wawancara dengan keluarga bahwa kepergian ke Saudi karena perbedaan paham tarekat dengan salah seorang tokoh di kampung. Jadi dahulu seakan tidak boleh ada perbedaan pendapat, berbeda adalah sesuatu yng salah dan dianggap kafir. Perbedaan semacam ini, dengan perjalanan waktu mengalami perubahan, tidak setajam lagi dengan beberapa dekade lalu bahkan cenderung saling memahami. Bahkan tahun 1993 K.H. Zainal Abidin yang waktu itu menjabat pimpinan cabang Muhamkadiyah Pomas, Kendepag Polmas, dan guru saya di SP IAIN memanggil saya menceritakan pengalamannya dahulu di Pambusuang. Di samping mengangkat saya sebagai asisten Mahfizat di SP IAIN. Menurut saya, mungkin beliau menganggap Bahasa Arab saya lebih baik dari rata-rata teman siswa.
Periode berikutnya, yaitu dengan banyaknya generasi Pambusuang pergi sekolah di Makassar yang dirintis oleh Baharuddin Lopa (Barlop). Barlop masuk PT di Unhas tahun 1955. Kemudian menyusul generasi berikutnya. Pada tahun 1980-an banyak generasi Pambusuang pulang dari menuntut ilmu dengan membawa paham baru. Di samping masih banyak penduduk mempertahankan paham lama.
Jadi, jika mengikuti teori dealetika Hegel:
Paham keagamaan di Pambusuang, yaitu: Pertama, konservatif tahun 1940-an yang disebut dalam dealetika adalah tesis. Kedua setelah ayahnya
Kumma sebagai orang pertama menerima paham Muhammadiyah di Pambusuang disebut antitesis.
Dan ketika setelah tahun 1980-an, banyak generasi yang pulang membawa paham baru disebut sintesis.
Wasalam,
Kompleks GFM, 1 September 2026