Orang Bugis-Makassar memiliki satu istilah mahakarya yang menurut saya layak menjadi koleksi tetap Museum Kebodohan Internasional. Namanya: Beleng-beleng.
Saya tidak tahu pasti asal-usul istilahnya, tetapi jelas Beleng-beleng adalah saudara kandung alias satu rahim dari kata dongok.
Mengapa fenomena ini sangat krusial untuk dibedah? Sebab di negeri tercinta ini, spesies manusia Beleng-beleng terus beranak pinak dengan kecepatan bikin kepala geleng-geleng.
Ada bergerak sendiri, ada bergerombol. Bahkan tidak sedikit dipelihara, dipuja-puja, diberi karpet merah, lalu disiapkan panggung utama tingkat nasional!
Celakanya, manusia Beleng-beleng hampir selalu merasa dirinya paling waras.
Beleng-beleng itu beda total dengan dongo' sekadar bawaan lahir. Dongo' lahir karena keterbatasan. Beleng-beleng justru lahir dari kecerdasan yang kehilangan kompas kehidupan.
Memori otaknya mungkin sudah overload gara-gara kelewatan pintar ‘Macca sala-sala’. Otak besar dan otak kecilnya lengkap, tetapi akal sehatnya sering mengalami fatal system error.
Kelistrikan otaknya manusia Beleng-beleng 'maddilla' maddarumpu' (konslet). Panasnya sampai saluran pipa-pipa kecerdasannya meleleh bagai kabel Eterna terbakar. Akibatnya, setiap kali mau berpikir lurus, logikanya ikut meleleh.
Orang Bugis Makassar sudah lama menyindir keadaan ini dengan satu kalimat halus, tetapi telaknya luar biasa.
Beleng-beleng itu:
"Sisele' ota' loppona na ota' biccu'na."
(Seolah-olah otak besar dan otak kecilnya bertengkar hebat, lalu saling bertukar tempat tanpa berita acara.)
Dampaknya benar-benar kiamat logika.
Yang benar dianggap salah. Yang salah dibela mati-matian.
Yang mengingatkan dimusuhi. Yang menyesatkan malah dipuja-puja.
Padahal Islam mengajarkan bahwa akal adalah amanah dari Allah. Ilmu semestinya melahirkan hikmah, bukan 'Macca sala-sala'.
Sebab kecerdasan tanpa akal sehat hanya akan melahirkan manusia yang pandai mencari pembenaran, tetapi gagal menemukan kebenaran.
Nah, supaya saya tidak dituduh sedang mengarang bebas, mari kita bedah dua studi kasus manusia Beleng-beleng kelas kocak.
Sebut saja Nene' Cahonde.
Orang ini mencintai onde-onde setengah mati. Bukan sekadar suka. Sudah seperti agenda wajib mutlak.
Kalau mendengar ada pesta hajatan, pertanyaan pertamanya bukan, "Siapa pindah rumah baru?"
Melainkan "Menunya apa? Ada onde-onde mallibu tidak?"
Di Makassar, onde-onde biasanya berwarna hijau. Di kampung saya berwarna putih.
Apa pun warnanya, bagi Nene' Cahonde semuanya terasa halal untuk diserbu sampai butiran terakhir kelapanya.
Di dalam onde-onde itu tersembunyi "ranjau cair" berupa gula merah kental.
Pokoknya, setiap ada pesta hajatan, sorot matanya langsung berubah menjadi radar militer.
Begitu menangkap sinyal sepiring onde-onde dekat Pu Katte', imannya langsung goyah seketika, sementara insting predatornya mendadak aktif seribu persen.
Suatu hari, seusai berhasil membantai beberapa butir onde-onde pella, tiba-tiba muncul niat 'tikung kiri' untuk menjarah sisa onde-onde di atas meja.
Mau minta langsung kepada tuan rumah?
Gengsinya setinggi langit ketujuh.
Ingin diselipkan ke kantong celana?
Takut meletus 'gunung krakatau' lalu memicu banjir gula merah Salo' Ale'.
Di situlah otaknya mulai bekerja menggunakan logika superajaib hingga mampu melompati hukum fisika aksi-reaksi.
Melihat situasi di sekeliling rumah baru aman terkendali, Nene' Cahonde mulai menjalankan operasi rahasia super kilatnya.
Pelan-pelan ia menoleh ke kiri, respons sensorik normalnya aktif.
Aman.
Menengok ke kanan, terjamin dan tenang.
Dengan gerakan secepat pesulap kelas dunia David Copperfield, ia melepas songkoknya.
CEBLOK! CEBLOK! CEBLOK!
Dalam hitungan detik, akumulasi tujuh butir onde-onde sudah bertengger rapi di dalam songkoknya bagai amunisi granat perang.
Dengan wajah polos tanpa dosa, anggun, dan penuh wibawa, ia mengenakan kembali songkok itu di kepalanya.
Dalam hati, ia merasa baru saja menyelesaikan operasi intelijen tingkat tinggi skala CIA.
Namun, ada satu hukum kehidupan yang tak pernah gagal bekerja.
Sepandai-pandainya manusia menyembunyikan onde-onde, takdir selalu lebih pintar membongkarnya.
Di perjalanan pulang, ia berpapasan dengan sahabat karib sejak zaman ingusan.
Namanya juga sahabat setia.
Belum afdhal kalau tidak berpelukan.
Belum lengkap kalau tidak cipika-cipiki kiri kanan.
Dan belum sah persahabatannya kalau tidak ditutup dengan natampa'i ulu nna—tepukan sayang di atas kepala kadang lebih keras daripada palu sidang kayu mahoni sang hakim.
Plaaaaakkkkkkkk!!
Telapak tangan sahabatnya mendarat telak di puncak songkok dengan tenaga dalam Silat Merpati Putih.
Seketika itu juga...
Meeellleeetuuusss Mahadahsyat!!
Tujuh butir onde-onde seketika hancur lebur bagai kena serangan rudal Iran di Israel.
Lelehan gula merah hangat bercampur kelapa parut merembes keluar dari balik songkok, mengalir membasahi dahi sampai ujung hidung penynya'na.
Sahabatnya seketika kehilangan warna wajah.
Lututnya mendadak lemas ‘tenre-menenre’.
Bayangan ruang IGD RS Wahidin Sudirohusodo langsung menari-nari di pelupuk matanya.
Sambil gemetar ia berteriak sekeras-kerasnya,
"Astagaaa, Pecah kepalamu!"
Orang-orang spontan menoleh.
Ada yang bermata melotot.
Ada sibuk mencari mobil pete-pete karena di sekitarnya tidak ada ambulans.
Seorang ibu bahkan sudah komat-kamit membaca doa, mengira baru saja menyaksikan tragedi kemanusiaan terbesar sejak usai rebutan kue arisan.
Padahal...
Yang mengalir itu bukan darah. Bukan pula isi otak.
Melainkan gula merah gugur di medan 'kepala' secara tragis bersama tujuh butir onde-onde hasil penyelundupan super rahasia.
Di sinilah letak puncak ke-Beleng-beleng-annya.
Kalau memang niat membungkus makanan, kenapa songkok dijadikan wadah?
Dia kira songkoknya punya teknologi kedap udara, antipecah, antibocor seperti Tupperware?
Tapi...
Sahabatnya ternyata sama Beleng-beleng-nya.
Siapa pula punya ide menepuk songkok orang sekeras itu?
Sehingga songkok nasionalnya mappenynyuk!
Belum habis sampai di situ.
Kisah Beleng-beleng lain justru lahir di panggung kampanye.
Saat kampanye, seorang calon legislatif berorasi dengan suara menggelegar, hampir saja pengeras suaranya mabbongkilang (pindah tempat) lantara menggebu-gebu resonansinya.
"Bapak-Ibu! Kalau saya terpilih, program utama saya adalah membangun jembatan terpanjang di kampung ini!"
Seorang pemuda sejak tadi menggaruk kepala setengah botaknya akhirnya angkat tangan.
"Maaf, Pak... di kampung kami ini jangankan sungai, selokan tempat jentik nyamuk belajar renang saja tidak ada."
Suasana mendadak hening.
Semua mata tertuju kepada sang caleg.
Kalau orang waras, biasanya mulai gugup dumba'-dumba'.
Kalau manusia Beleng-beleng, justru di situlah rasa percaya dirinya mencapai puncak Malino.
Tanpa berkedip sedikit pun, ia menjawab,
"Tenang, Bapak-Ibu! Kalau belum ada sungainya, nanti kita buatkan sungainya di bawah jembatan."
Hadirin saling pandang.
Kalau ada warga nekat bertanya lagi,
"Pak, air sungainya dari mana?"
Mungkin dia bakal menjawab santai:
"Gampang! Nanti tiap sore kita suruh warga kencing massal di situ!"
Begitulah Beleng-beleng Republik Indonesia.
Akalnya hidup, tetapi hikmahnya tertinggal.
Semoga Allah menjaga akal kita tetap waras dan menjauhkan kita dari sifat Beleng-beleng.
Sebab yang berbahaya bukan sekadar kurangnya ilmu, melainkan ketika kecerdasan kehilangan arah dan akal sehat kehilangan kendali.
Jumat, 31 July 2026