Gambar Malam Kemuliaan

Semua agama mengenal ibadah puasa karena:
Pertama, dengan melalui puasa seseorang berusaha untuk dekat kepada Tuhan.
Kedua, puasa merupakan kebutuhan rohani setiap orang apa pun agama yang dianutnya.

Sama dengan kebutuhan yang lainnya, ketika orang membutuhkan penyaluran hasrat seksual, maka lembaga perkawinan menjadi solusinya.

Ketika manusia mempunyai hasrat untuk berkuasa, maka lembaga politik menjadi jalan keluarnya. Demikian pula ketika manusia merindukan ketenteraman batin dalam memenuhi kebutuhan rohaninya, puasa menjadi alternatif pemecahannya.

Kini, umat Islam telah memasuki paruh ke tiga dari ibadah puasa yang mereka lakukan. Kalau sebelumnya paruh pertama dan kedua adalah masa audiensi antara hamba dengan Tuhan, maka paruh ke tiga merupakan malam keagungan (The Night of Glory) bagi mereka yang melakukan kesalahan dan kemaksiatan dalam hidup untuk memohon ampunan-Nya.

Paruh ke tiga yang dimaksud adalah bagian sepuluh terakhir dari Ramadan yang dilalui terutama pada malam-malam ganjil yakni malam ke 21-23-25-27-29, lazim disebut dengan Lailatul Qadr.

Keutamaan dan keagungan Lailatul Qadr bukan hanya karena di dalamnya kebajikan dan ketaatan yang dilakukan menjadi lebih utama dari pada seribu bulan, melainkan di malam itu Allah memberikan maaf-Nya kepada yang pernah melakukan kesalahan dan memohon ampunan-Nya.

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mencintai rintihan penyesalan orang-orang yang melakukan dosa, dari pada gemuruh zikir yang dikumandangkan kepada-Ku karena zikir itu hanya menyentuh kebesaran-Ku, sedangkan rintihan penyesalan para pelaku dosa menyentuh kasih sayang-Ku”.

Gemuruh zikir yang dikumandangkan merupakan pernyataan puncak ketaatan hamba, sedangkan rintihan penyesalan pelaku dosa merupakan permohonan ampunan dari kesalahan dan kemaksiatan yang dilakukan.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang Lailatul Qadr, namun mereka sepakat bahwa malaikat turun ke bumi pada malam itu atas izin Tuhan-Nya untuk menentukan beberapa urusan. Urusan yang dimaksud adalah tentang hidup-matinya kita, sehat-sakitnya kita, untung-ruginya kita. Inilah yang terkandung pada makna pertama Qadr yakni ketentuan berkaitan segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan kita. Sedang makna ke dua Qadr adalah kemuliaan atau keagungan.

Disebut sebagai malam kemuliaan dan keagungan karena: Pertama, pada malam Qadr Alquran yang mulia diturunkan. Keagungan Alquran melintasi ruang dan waktu menyebabkan malam ini menjadi sangat istimewa. Ke dua, pada malam Qadr Alquran diturunkan kepada Muhammad saw. sekiranya Muhammad Saw tidak diutus, maka alam semesta ini tidak diciptakan. Ke tiga, kemuliaan juga diberikan kepada mereka yang menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah dan amal saleh. Karena itulah menurut para mufasir, Allah mengulangi kata Lailatul Qadr sebanyak tiga kali dalam surah Al-Qadr.

Masih menurut para ulama bahwa di malam-malam Qadr bumi ini penuh sesak karena turunnya para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang menaati Allah, sembari menabur doa dan berkah. Karena itu, untuk meraih malam keagungan dengan melakukan dua jenis peribadatan. Pertama, istigfar dan ibadah-ibadah ritual lainnya. Ke dua, bersedekah dan ibadah-ibadah sosial lainnya.

Menghidupkan Lailatul Qadr dengan cara tetap terjaga di malam-malam Qadr dalam bentuk ketaatan berupa salat, zikir, doa, terutama mengenang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan memperbanyak istigfar serta ibadah ritual lainnya. Sesudah itu tinggalkan tempat sujud, kemudian kunjungi tempat berkumpulnya orang-orang miskin, panti jompo, panti asuhan, rumah sakit. Masukkan kebahagiaan ke dalam hati mereka semoga malaikat menyalami hingga terbit fajar.

(*)