Gambar Mabbuddu’: Tradisi ala Santri Bugis

Di lingkungan pondok pesantren di daerah Bugis, istilah mabbuddu’ bukanlah sesuatu yang asing bagi para santri. Istilah ini biasanya merujuk pada kegiatan pengabdian santri kepada masyarakat. Bentuknya bermacam-macam: ada yang diundang untuk membacakan al-Qur’an bagi orang yang meninggal atau mangaji to mate, membaca Surah al-Ikhlas atau ma-Qul Huwallah, bahkan ada pula yang ditugaskan tinggal di kampung selama sebulan untuk berdakwah, menyampaikan ceramah, atau menjadi imam salat tarawih selama bulan Ramadan. Pokoknya, kalau sudah mendengar kata “mabbuddu’”, santri biasanya langsung paham: ada panggilan tugas, ada pahala, dan kalau beruntung ada amplop!

Tradisi mabbuddu’ ini sudah begitu mengakar dalam kehidupan santri. Selain menjadi sarana mengamalkan ilmu di tengah masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman sosial yang sangat berharga. Biasanya, santri yang datang mabbuddu’ akan dijamu dengan makanan dan minuman, lalu ketika pulang mendapatkan “amplop”. Karena itu, bagi sebagian santri, mabbuddu’ memiliki daya tarik tersendiri. Bukan karena mengejar amplopnya, tentu saja, katanya. Tetapi kalau amplopnya diberikan, masa mau ditolak? Itu namanya tidak menghargai tuan rumah. Lebih parah, kami bisa disebut kufur nikmat. 

Saya sendiri ketika masih mondok punya strategi khusus agar tidak kehilangan kesempatan mabbuddu’. Setelah pengajian maghrib atau mangaji tudang, saya sering sengaja tidak langsung kembali ke asrama. Saya duduk-duduk dulu di sekitar mesjid pondok pesantren sambil memasang telinga dan mata setajam mungkin. Sebab, kalau tiba-tiba terdengar suara mobil angkot masuk ke kompleks pondok pesantren, itu biasanya pertanda penting: ada santri yang sedang dicari untuk mabbuddu’!

Ketika melihat angkot masuk, saya tidak lagi sekadar menjadi santri. Saya berubah menjadi semacam “petugas intelijen mabbuddu’”. Mata langsung melirik ke kiri-kanan. Dalam hati muncul pertanyaan, “Siapa yang dijemput? Berapa orang? Ke mana? Jangan-jangan saya termasuk yang dicari?”

Mabbuddu’ sebagai tradisi ala santri Bugis sarat dengan kisah jenaka yang menggambarkan dinamika kehidupan santri yang sarat dengan menghafal al-Qur’an, belajar ilmu agama, berkegiatan asrama, dan kadang di sela itu ada keisengan ala santri senior ke santri yunior.

Mengutip cerita guru kami yang sekarang sudah menjadi orang besar di negeri rantau, suatu malam, ada seorang sopir angkot yang singgah di masjid untuk melaksanakan salat isya. Setelah selesai salat, ia melihat banyak santri sedang duduk sambil mendaras hafalan al-Qur’an. Pemandangan itu rupanya menginspirasi seorang santri senior untuk membuat sedikit keisengan.

Dengan wajah serius, ia berkata kepada para santri:

“Butuh sepuluh orang untuk pergi mabbuddu’!”

Kalimat itu rupanya memiliki efek yang luar biasa. Belum selesai gema suaranya, sepuluh santri langsung berdiri. Tidak ada rapat. Tidak ada pemilihan. Tidak ada musyawarah. Bahkan tidak sempat bertanya, “Mabbuddu’ ke mana?”

Yang penting: angkat kaki dulu!

Sepuluh santri itu kemudian naik ke angkot dengan wajah penuh semangat. Mereka duduk rapi dan tenang seolah-olah sudah mendapat surat tugas resmi dari pesantren. Masing-masing mulai menghitung pembagian bacaan al-Qur’an. Karena jumlahnya sepuluh orang, mereka membagi bacaan sehingga masing-masing mendapat sekitar tiga juz. Andai saya di momen itu, tentu saya akan menggunakan lobi-lobi “kelas premium” untuk mewujudkan ambisi saya sebagai pecinta juz tiga puluh. 

Suasana di dalam angkot pun mendadak berubah menjadi “rumah tahfidz berjalan”. Sopir fokus menyetir, sementara sepuluh santri duduk tenang dengan al-Qur’an dan hafalan masing-masing. Saya dulu kalau kebetulan mendapatkan juz satu atau juz tiga puluh yang kebetulan saya hafal, meskipun hafalannya terputus-putus persis seperti pengantin pria yang baru pertama kali berbicara depan mertua, saya sudah mulai membaca sejak di jalan dan meniatkan pahalanya untuk almarhum yang rumahnya kami tuju. Angkot pun terus berjalan pelan. Sang sopir mungkin dalam hati berkata, “Alhamdulillah, malam ini rezeki saya datang dari masjid. Baru selesai salat isya, langsung dapat sepuluh penumpang sekaligus!”

Sopir pun mulai menjalankan angkot mengikuti rutenya. Ia berputar dari satu jalan ke jalan lain. Lewat sana, belok sini, masuk jalan berikutnya, lalu berputar lagi. Tetapi ada satu hal yang membuatnya mulai heran.

Tidak ada satu pun dari sepuluh santri itu yang berkata, “Kiri, Pung!”

Biasanya penumpang angkot baru beberapa menit sudah ada yang berteriak, “Kiri!” Ini sudah cukup lama berjalan, tetapi sepuluh penumpang itu tetap diam. Mereka tidak meminta berhenti, tidak bertanya arah, bahkan tidak tampak gelisah. Mereka malah duduk tenang seperti sedang menunggu sesuatu yang sangat jelas bagi mereka.

Sopir mulai berpikir, “Jangan-jangan mereka ini penumpang khusus. Mungkin mau pergi jauh.”

Akhirnya, setelah cukup lama berkeliling, rasa penasaran sopir tidak lagi terbendung. Ia menghentikan angkot dan bertanya dengan polos:

“Kita mau ke mana, Nak?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata menjadi bom yang meledak tepat di tengah-tengah sepuluh santri.

Kesepuluh santri saling berpandangan.

Sopir memandang santri.

Santri memandang sopir.

Sopir kembali memandang santri.

Santri kembali memandang sopir.

Mungkin kalau ada yang membawa kamera waktu itu, ekspresi mereka layak masuk dokumentasi sejarah pesantren.

Akhirnya salah seorang santri menjawab dengan penuh keyakinan:

“Kami tadi disuruh naik angkot, Pung. Katanya mauki jemput santri untuk mabbuddu’!”

Seketika wajah sopir berubah.

Yang tadinya penuh kebahagiaan karena merasa mendapat rezeki sepuluh penumpang sekaligus, kini perlahan-lahan menjadi pucat. Ia baru sadar bahwa sepuluh penumpang yang dibawanya berkeliling kota itu ternyata tidak tahu mau ke mana.

Sementara itu, sepuluh santri juga mulai menyadari sesuatu yang tidak kalah mengerikan: mereka ternyata naik angkot tanpa mengetahui siapa yang menyuruh, ke mana tujuan, dan siapa yang akan mereka datangi.

Mereka hanya tahu satu hal:

“Katanya mabbuddu’.”

Sopir pun lemas.

Santri pun lemas.

Angkot pun seolah-olah ikut lemas.

Malam itu, akhirnya terungkap bahwa sang sopir sebenarnya tidak sedang menjemput santri untuk mabbuddu’. Ia hanya singgah salat Isya di masjid. Adapun kalimat “butuh sepuluh orang untuk pergi mabbuddu’” tadi hanyalah keisengan seorang santri senior yang ternyata terlalu berhasil.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang paling hebat malam itu bukan sopir angkot dan bukan pula sepuluh santri tersebut. Yang paling hebat adalah santri senior yang berhasil mengubah satu kalimat iseng menjadi perjalanan wisata gratis keliling kota bagi sepuluh santri, sekaligus membuat seorang sopir angkot memperoleh sepuluh penumpang yang tidak tahu tujuan.

Pelajaran dari kisah ini sederhana: dalam tradisi mabbuddu’, semangat mengabdi memang penting, tetapi jangan sampai semangat berangkat lebih cepat daripada informasi tujuan.

Sebab kalau tidak, bisa-bisa kita sudah duduk manis di angkot, sudah membagi tiga juz per orang, sudah merasa akan mendapatkan pahala dan amplop, tetapi ketika ditanya sopir, “Kita mau ke mana, Nak?”, jawabannya hanya satu:

“Wallahu a’lam, Pung. Kami juga tidak tahu.”

Dan sejak malam itu, mungkin para santri belajar satu prinsip penting dalam perjalanan mabbuddu’:

Sebelum naik angkot, pastikan dulu: siapa yang menyuruh, mau ke mana, dan yang paling penting, apakah benar ada yang menjemput!