Ada masa ketika seorang dokter berharap hasil pemeriksaan yang dilihatnya ternyata keliru. Dan itu terjadi sore ini. Di sini. Di bilik kecil praktik kami.
Sore itu, seorang perempuan berusia 37 tahun datang sendirian ke ruang praktik. Langkahnya pelan. Wajahnya pucat. Jemarinya terus meremas ujung jilbab yang dikenakannya, seolah sedang mencari sesuatu untuk menguatkan dirinya. Ia berkata lirih, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
"Dok... saya hamil. Tapi semalam keluar darah. Banyak..."
Saya mengangguk pelan, mempersilakannya duduk, lalu mendengarkan ceritanya. Kehamilannya telah memasuki usia 12 minggu. Setelah tujuh tahun menjalani pernikahan, akhirnya ia dianugerahi kehamilan yang selama ini dinanti. Saya hanya bisa membayangkan berapa banyak doa yang telah dipanjatkannya, berapa banyak air mata yang diam-diam pernah jatuh, dan berapa kali ia harus tersenyum ketika orang-orang bertanya, "Kapan punya anak?"
Kini, harapan itu datang. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula perdarahan.
Bidan Fatma, bidan pendamping saya, kemudian memintanya berbaring untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi.
Ruangan hening. Hanya terdengar tarikan napas perempuan itu. Mata saya menyapu layar monitor, mencari kantong kehamilan yang seharusnya tampak pada usia kehamilan tersebut. Saya menggerakkan transduser transvaginal secara perlahan. Lalu saya mengulanginya sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Bukan karena saya tidak percaya pada apa yang saya lihat, melainkan karena setiap dokter selalu menyimpan secercah harapan bahwa mungkin saja ia sedang keliru.
Lama saya terdiam. Menarik napas panjang.
Namun mesin tidak pernah mengenal belas kasihan.
Kantong kehamilan itu sudah tidak ada.
Ada banyak hal yang kami pelajari selama menjadi dokter. Kami belajar membaca hasil pemeriksaan, mengenali penyakit, mengambil keputusan dalam hitungan detik. Namun tidak ada satu pun buku yang benar-benar mengajarkan bagaimana menyampaikan sebuah kalimat yang akan mengubah hidup seseorang.
Saya menarik napas panjang.
"Ibu... saya turut berduka. Kehamilan ini sudah tidak dapat dipertahankan."
Ia tidak menangis.
Ia hanya memejamkan mata. Lama.
Kesedihan kadang memang memilih diam sebagai bahasanya.
Setelah memberi waktu agar ia menerima kenyataan itu, saya mulai menjelaskan bahwa perdarahannya perlu ditangani, dan kemungkinan diperlukan tindakan kuretase agar rahimnya benar-benar bersih dan tidak menimbulkan komplikasi.
Seperti biasa, saya kemudian bertanya,
"Suami Ibu ada? Saya ingin menjelaskan semuanya kepada beliau juga."
Perempuan itu perlahan membuka mata. Tatapannya kosong. Lalu dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menjawab,
"Suami saya meninggal... dua minggu yang lalu, Dok."
Saya terdiam.
Dua minggu.
Baru dua minggu lalu.
Barangkali bunga di atas pusara suaminya masih belum layu. Mungkin pakaian terakhir yang dikenakan suaminya masih tergantung di lemari. Mungkin nomor teleponnya masih tersimpan di daftar panggilan favorit. Dan mungkin, setiap malam ia masih berharap semua ini hanyalah mimpi yang akan berakhir ketika ia terbangun.
Tetapi sore itu, hidup kembali mengambil sesuatu darinya.
Dalam waktu yang begitu singkat, ia harus merelakan dua cinta sekaligus: lelaki yang menemaninya selama tujuh tahun penantian, dan bayi yang menjadi buah dari penantian itu.
Saya tidak lagi melihatnya sebagai seorang pasien yang mengalami keguguran.
Saya melihat seorang perempuan yang sedang berusaha tetap berdiri, ketika hidup seolah meruntuhkan seluruh tempatnya bersandar.
Sebagai dokter, saya tahu bagaimana menghentikan perdarahan. Saya tahu bagaimana melakukan kuretase. Saya tahu obat apa yang harus diberikan.
Namun sore itu, saya kembali diingatkan bahwa tidak semua luka dapat dijahit.
Tidak semua kehilangan dapat dipulihkan.
Ada duka yang tidak membutuhkan banyak kata, melainkan kehadiran yang tulus dan empati yang tidak tergesa-gesa.
Barangkali itulah alasan mengapa profesi ini tidak cukup hanya dibangun oleh ilmu. Ia juga harus ditopang oleh hati. Karena di balik setiap hasil laboratorium, di balik setiap gambar USG, dan di balik setiap diagnosis, selalu ada seorang manusia yang membawa kisah hidupnya sendiri — kisah yang sering kali jauh lebih berat daripada penyakit yang sedang kami obati.
Maya Angelou, penyair dan aktivis kemanusiaan asal Amerika, pernah menuliskan gagasan bahwa orang bisa saja melupakan kata-kata dan tindakan kita, namun perasaan yang kita tinggalkan pada mereka akan selalu diingat.
Hari itu saya sadar, mungkin perempuan itu akan lupa sebagian penjelasan medis yang saya sampaikan. Ia mungkin tidak akan mengingat istilah-istilah yang saya gunakan.
Namun saya berharap, di tengah kehilangan yang datang bertubi-tubi, ia masih dapat mengingat bahwa pada hari ketika dunianya terasa runtuh, ada seseorang yang duduk bersamanya, mendengarkan dalam diam, dan ikut berduka sebagai sesama manusia.