Memasuki hari kedua belas Ramadhan, suasana batin seharusnya semakin tenang, menyatu dengan napas ibadah. Namun, di beberapa sudut temuan saya, kekhusyukan itu justru sering kali bercampur kebisingan.
Hal bersifat mengganggu sebenarnya bisa dihindari demi menjaga marwah syiar Islam itu sendiri. Lahir dan besar di lingkungan masjid, saya merasakan betul bagaimana kepekaan sosial tengah diuji di tengah bulan suci Ramadhan ini.
Mari pertegas sejak awal: persoalan bukan seruan azan berkumandang. Azan adalah syiar, panggilan suci, penanda masuknya waktu ibadah shalat. Tidak ada keberatan terhadap itu. Identitas Islam tak layak diperdebatkan.
Namun, ganjalan bagi sebagian besar orang adalah aktivitas tadarus Al-Qur’an hingga larut malam menggunakan Toa pengeras suara luar. Volumenya dipasang seolah hendak menjangkau seluruh penjuru galaksi.
Bayangkan saja, jam sudah menunjuk angka 22.00 malam, tadarus masih menggema kencang. Lalu pukul 03.00 dini hari, mikrofon sudah kembali aktif. Ayam pun bangun berkokok pertanda kaget, mengira fajar tiba lebih awal.
Andai komunitas ayam pandai berunjuk rasa, mungkin mereka sudah turun ke jalan saking kagetnya dipaksa bangun sebelum waktunya.
Saya pernah mendengar seorang warga berujar pelan, "Saya cinta masjid Tapi kalau tiap malam seperti konser religi tanpa jeda begini, saya kelelahan".
Di sinilah kearifan Islam sebagai Rahmatan lil' Alamin seharusnya mewujud nyata. Di sekitar masjid ada orang sakit, bayi baru terlelap, hingga lansia butuh istirahat.
Saya pernah menyaksikan pemandangan unik; dua masjid berdiri berdampingan sangat dekat, sekitar lima meter, hanya dipisahkan tembok pembatas. Moncong speaker keduanya saling berhadapan, persis formasi tawuran antar kompleks.
Imam masjid A baru sampai pada bacaan "Waladdholliiiin", jemaah masjid B sempat ada menyahut "Aamiiiin" saking sulitnya membedakan asal bunyi speaker.
Bagi saya, ini bukan lagi syiar, tapi bagai kompetisi “merek Polytron dan JBL” amat menjengkelkan. Saya sampai membatin, ini azan atau ajang balapan MotoGP? Satu baru mau start, satu lagi sudah finish duluan.
Malah, di pertengahan Ramadhan ini, ada kejadian menggelikan: satu masjid sudah tanda buka ditandai kumandang azan, masjid sebelahnya masih hening.
Mungkin tukang azannya sibuk menghabiskan lima biji Roko'-roko unti dulu baru melaksanakan tugasnya. Napanrasai tau mappuasae!
Jangan sampai ibadah diniatkan sebagai pahala justru berubah menjadi keluhan sosial. Solusinya tidak rumit; atur volume secara proporsional. Gunakan speaker luar hanya untuk azan dan pengumuman penting.
Perbaiki perangkat sudah uzur agar suara tidak pecah menyerupai bunyi Traktor Kubota-nya H, Mamma’.
Saya menyarankan, silakan gaji anak muda bersuara merdu—mereka mahir meniru indahnya lantunan azan di televisi—untuk bertugas mengumandangkan keindahan Ramadhan.
Untuk kakek-kakek berusia 60-an tahun, berilah mereka kemuliaan untuk istirahat dulu. Biarlah mereka fokus menjadi jemaah khusyuk menikmati masa tua tanpa beban mikrofon.
Langkah ini jauh lebih baik daripada memaksakan suara tidak selaras dengan teknologi audio masa kini. Pernah saya mendengar seseorang azan dan refleks tertawa.
Suaranya mirip motor trail "Mola bungka mangngerreng-ngerreng". Bukannya bikin rindu masjid, suara begitu malah bikin orang kaget.
Ramadhan seharusnya menghadirkan keteduhan, bukan kebisingan memicu resistensi. Ibadah paling indah adalah rahmat bagi semesta, bukan gema memekakkan telinga.
Melalui Lensa Ramadhan ini, kesalehan kita benar-benar diuji; bukan lewat volume Toa, melainkan kemampuan menyejukkan hati.
Senin, 12 Ramadan 1447 H / 2 Maret 2026 MSK
Alat AksesVisi