Akhir-akhir ini langit Kota Makassar sesekali tampak kelam, menyerupai awan mendung menjelang hujan. Warga sudah berharap-harap, ternyata cuma modus. Bukan hujan yang turun, hanya trik langit.
Warga pun berharap tenna podo bosi loppo—hujan segera turun. Eh, ternyata PHP, Pemberi Harapan Palsu.
Bukan hujan pembawa rahmat yang datang, melainkan udara keruh yang diduga nebeng dari asap kebakaran hutan dan lahan. Negeri ini memang punya bakat melahirkan istilah sakti: karhutla!
Negeri ini memang surganya istilah. Tiap ada kejadian baru, pasti ada istilah baru. Percayalah, tidak pernah kehabisan stok!
Andai Karhutla itu berjenis kelamin laki-laki, di kampungku pasti langsung dipanggil Ambo' Karolla atau Wa' Garutla. Biar kedengarannya akrab, padahal bikin sesak sekampung.
Kita manusia yang pusing bikin istilah. Rapat, seminar, gonta-ganti nama: karhutla, kabut asap, polusi lintas batas. Lah asapnya? Tidak ikut seminar, tidak ikut rapat. Ia langsung berangkat mengembara! Manusia merantau mencari pekerjaan, asap merantau mencari paru-paru. Manusia mencari kontrakan, asap mengontrak organ pernapasan.
Dan di episode itulah kita sekarang. Di tengah waswas gara-gara El Nino, setelah kemarin disuguhi banjir bandang plus bonus gelondongan kayu, kita kebagian jatah asap kiriman itu.
Komplit sudah paketnya.
Dulu khawatir kekurangan air, eh, kebanjiran. Sekarang minta langit cerah, malah kebagian asap. Negeri ini seperti sinetron kejar tayang. Satu episode belum selesai, episode berikutnya sudah muncul. Penonton belum sempat menarik napas, jalan ceritanya sudah bikin sesak!
Jangan sampai negeri ini dobel kabutnya: langit berkabut karena asap, pikiran berkabut karena kabar ijazah yang kejelasannya masih dipersoalkan. Satu bikin mata perih, satu lagi bikin kepala pening. Kabut di udara perlu dibersihkan, kabut informasi perlu diterangi fakta.
Karena itu semoga episode selanjutnya adalah episode penindakan tegas! Yang membakar hutan, tindak tegas! Yang memanipulasi fakta dan mengaburkan kebenaran, periksa juga! Jangan sampai hukum garang kepada rakyat kecil, tetapi mendadak batuk-batuk ketika berhadapan dengan orang besar.
Sungguh keterlaluan! Bukan cuma menyusahkan, tapi 'mensengsarakan'—eh, 'menyengsengsarakan'—aduh, 'menyengsarakan'—ah, pokoknya bikin sengsara! Sampai lidah saya keseleo mengejanya! Kalau asap bikin kita lupa bernapas, kabut informasi bisa bikin kita lupa berpikir.
Ngomong-ngomong soal paket, pengiriman asap ini luar biasa! Paket COD saja kadang tujuh hari baru tiba, itu pun nyasar ke rumah tetangga. Lah, paket asap? Tanpa resi, tanpa ongkir, tanpa kurir berteriak, "Cek dulu, Bos!", tahu-tahu sudah mampir ke Makassar!
Ekspedisi harus berguru sama asap: jangkauan internasional, pengiriman kilat, rating bintang lima. Bedanya, kalau COD bayar pas barang tiba, paket asap gratis di depan, tagihan batuk-sesaknya ditanggung berjamaah tujuh turunan!
Lebih hebat lagi, asap ini sudah mampir di Jakarta, bahkan jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura, tanpa paspor, tanpa visa, tanpa antre imigrasi—boleh jadi terus ke barat mau singgah umrah. Manusia mau ke luar negeri ribetnya minta ampun: paspor, tiket, visa, antre sampai pegal. Asap? Cukup melambai ke angin, langsung take off! Ternyata lebih merdeka dari rakyat yang mau liburan!
Tapi andai asap ini punya GPS dan sedikit rasa keadilan, mestinya jangan salah alamat! Jangan cuma mampir ke paru-paru warga yang tidak tahu apa-apa. Mampir dong ke tempat-tempat yang menjadi sumber pencemaran. Biarkan hukum menelusuri siapa pun yang terbukti lalai atau sengaja melanggar aturan. Sebab, setiap amanah kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan sampai langit berkabut karena asap, sementara persoalan negeri ini juga berkabut karena kurang transparansi.
Sekarang warga mulai memakai masker lagi. Saya teringat musim koro-koroang—eh, musim Corona! Dulu saya sampai tiga kali suntik vaksin gara-gara sering bepergian. Sekarang melihat masker bermunculan, saya berpikir: jangan-jangan ada episode baru, dosis keempat, kelima, sampai keenam! Bisa-bisa lengan saya pikku' (besar sebelah), kayak habis angkat barbel sebelah. Lengan kanan jadi atlet, lengan kiri makelle’!
Begitu kabut datang, Grup WhatsApp berubah menjadi Fakultas Kabut Asap dadakan. Ada ahli kebakaran, ahli paru-paru, ahli tata ruang, bahkan ahli arah angin yang hafal belokan sampai lorong. Baru membaca satu pesan, kesimpulannya sudah tiga jilid. Berita baru masuk, gelar cendekiawan sudah keluar! Sayangnya, ramai komentar tidak otomatis membuat masalah beres. Kalau mengetik bisa memadamkan api, jempol kita sudah menjadi alat pemadam kebakaran nasional!
Saudaraku! Allah sudah mengingatkan dalam QS. Al-A'raf: 56, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik." Tidak ada catatan kaki: "Kecuali kalau kejar target lahan." Tidak ada! Pohon butuh bertahun-tahun untuk tumbuh, api cuma butuh satu korek. Untungnya untuk segelintir orang, sesaknya ditanggung berjamaah!
Karena itu jangan cuma mengimbau, tegakkan hukum! Jangan cuma tiup peluit ke pemain cadangan, sementara pelanggaran keras di tengah lapangan dibiarkan. Kita tidak butuh kambing hitam, apalagi kambing cokelat, kita butuh penyelesaian nyata!
Dari Makassar yang rindu langit biru, kita berdoa: Ya Allah, turunkan hujan yang bermanfaat dan sadarkan mereka yang merusak bumi serta yang diberi amanah menjaganya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
20 Oktober 2026 (SK)