Pendahuluan

Akselerasi teknologi digital telah mengubah lanskap pendidikan menjadi ekosistem yang serba cepat namun sering kali kehilangan sentuhan personal. Di tengah kemajuan media digital yang makin pesat, tantangan terbesar bagi Madrasah bukan lagi sekadar ketersediaan perangkat, melainkan ancaman degradasi karakter dan kekosongan spiritual. Kementerian Agama RI menjawab tantangan ini melalui kebijakan Kurikulum Cinta, sebuah manifestasi pendidikan yang berpusat pada kasih sayang. Esai ini akan mengkaji bagaimana Kurikulum Cinta menuntut standar baru bagi profesionalisme guru Madrasah, dengan membedah atau membahas melalui pemikiran komprehensif dari Muhammad Ilyas Ismail.