Artikel ini mulanya saya ingin sampaikan dalam pertemuan Ijabi di Bandung, tetapi tidak jadi karena kesalahan dalam menghitung hari pelaksanaan.
Sampai sekarang, secara struktural saya tidak tercatat dalam organisasi keagamaan arus utama mana pun.
Sebaliknya, secara kultural saya merasa memiliki kedekatan dengan organisasi-organisasi tersebut. Bagi saya, mereka semua adalah saudara seperjuangan dalam mengabdi kepada umat dan agama.
Saya berusaha meneladani kelebihan masing-masing. Misalnya, dalam ibadah saya mengagumi tradisi Muhammadiyah yang menekankan bahwa setiap praktik ibadah harus melalui kajian tarjih yang mendalam.
Di sisi lain, saya juga meneladani Nahdlatul Ulama dalam kemampuannya beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.
Saya juga melihat pada kelompok Syiah yang memiliki militansi dan konsistensi dalam menentang zionisme sejak awal. Dalam banyak hal, mereka dikenal sebagai salah satu pihak yang paling konsisten melakukan perlawanan, sementara pada saat yang sama sebagian negara Islam lainnya justru sering berbelok arah karena kepentingan duniawi.
Bahwa saya tidak tercatat dalam organisasi keagamaan tertentu bukanlah karena tidak ada yang mengajak. Justru sebaliknya. Saya memilih untuk tidak membatasi diri pada sekat-sekat tertentu yang sering kali membuat orang memandang kelompok lain sebagai lawan yang harus dimusuhi.
Akibatnya, tidak jarang terjadi perlawanan di antara sesama Muslim hanya karena masing-masing merasa kelompoknya yang paling benar menurut sekte yang mereka buat sendiri. Sejak mahasiswa semister awal pandangan ini saya praktikan disebabkan karena di depan mata saya terjadi perkelahian antara teman-teman HMI dan PMII. Pada hal saya ingin bergabung ke dalam kedua organisasi ekstra mahasiswa itu. Pada saat terjadi perkelahian dua organisasi ektra itu, niat saya urungkan dan beralih masuk IMMIM, organisasi bergerak di bidang tablig. Di sanalah saya aktif dan saya suka di IMMIM sebab tidak membedakan latar belakang organisasi. Siapa pun bisa berkiprah di IMMIM, seperti NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Tarbiah Islam, HMI, PMII dan Pelajar Islam atau ormas Islam yang ada waktu didirikannya.
Almarhum Bapak Bangsa, Nurcholish Madjid, pernah memberikan sebuah ilustrasi menarik ketika mengajar di kelas Pascasarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia mengatakan bahwa manusia itu ibarat penumpang kendaraan.
Jika seseorang sedang naik becak lalu tiba-tiba ada sepeda motor menyalipnya, maka ia akan merasa bahwa motor itu yang salah. Mengapa? Karena ia melihatnya dari lingkungan becak.
Sebaliknya, jika seseorang sedang mengendarai mobil lalu di depannya ada becak berjalan lambat dan menghalangi jalan, maka yang dianggap salah adalah becak itu. Mengapa? Karena ia melihatnya dari sudut pandang lingkungan mobil.
Tanpa disadari, kita sering menilai sesuatu hanya dari lingkungan yang kita tempati, tanpa berusaha memahami kesulitan yang dihadapi oleh “lingkungan becak”.
Karena itu, sudah saatnya kita saling memahami latar belakang yang menyebabkan perbedaan.
Perbedaan antara Sunni dan Syiah, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah panjang yang berbeda. Oleh karena itu, memahami sejarah menjadi sangat penting untuk mengerti mengapa perbedaan itu muncul.
Dalam konteks ini saya teringat pandangan ulama Ikhwanul Muslimin, almarhum Syekh Yusuf al-Qaradawi. Beliau mengatakan bahwa perbedaan adalah sunnatullah dalam rangka fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan.
Justru yang berbahaya adalah jika ada orang yang menginginkan agar semua pendapat seragam.
Keseragaman seperti itu hanya mungkin terjadi dalam negara otoriter. Pada masa Orde Baru, misalnya, sering terjadi bahwa apa yang dipidatokan presiden hampir sama bunyinya dengan apa yang kemudian disampaikan oleh ketua RT di kampung-kampung.
Keseragaman semacam itu juga dapat kita lihat dalam sistem negara yang sangat sentralistik seperti yang pernah terjadi di negara-negara komunis.
Dalam Islam, keseragaman pendapat seperti itu hampir tidak mungkin terjadi. Sebagaimana dikatakan:لم يكن وقوعه“Hal itu tidak mungkin terjadi dalam realitas.”
Sebab ia bertentangan dengan sunnatullah.
Di tengah suasana umat yang sering tampak terpecah, yang seharusnya kita ingat kembali adalah pesan Nabi tentang persatuan.
Bukankah Nabi mengingatkan bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu tubuh? Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan penderitaan.
Karena itu, idealnya semua kelompok dalam Islam dapat melihat diri mereka sebagai satu umat. Tidak lagi terjebak dalam label-label yang memecah belah.
Jika ada yang bertanya kepada saya: “Apakah Anda Sunni atau Syiah?”
Saya biasanya menjawab sederhana: saya seorang Muslim.اشهدوا بانا مسلمون“Persaksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”
Sudah tiba saatnya kita meredefinisi kembali makna persaudaraan dalam Islam: siapa pun yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka percayalah—dia adalah saudaramu sebagai sesama Muslim.
Persis seperti satu tubuh yang sama.
Sekalipun demikian, saya memahami bahwa sebagian yunior saya mungkin memiliki pandangan yang berbeda dan ingin tetap mengikuti kelompok tertentu. Saya tidak mempersoalkan itu.
Saya hanya berpesan: renungkanlah secara mendalam.
Sering kali pilihan sektarian masih dipengaruhi oleh pertimbangan duniawi—misalnya kedekatan kelompok dalam perebutan jabatan atau kekuasaan.
Sedangkan saya sendiri sudah berada pada fase kehidupan yang tidak lagi memikirkan jabatan. Masa-masa itu telah berlalu bagi saya.
Wassalam.
Kompleks GFM,7 Maret 2026
Alat AksesVisi