Saya terinspirasi oleh sebuah video Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Hamdan dan vidio serupa lainnya, saat melakukan diving di dasar laut, menikmati keindahan terumbu karang, ikan-ikan berwarna-warni, dan beragam biota laut yang menakjubkan.
Dari aktivitas sederhana itu, saya menemukan sebuah ilustrasi filosofis tentang kehidupan: manusia adalah penyelam, kehidupan adalah laut, oksigen adalah kesempatan hidup, mutiara adalah tujuan, sedangkan keindahan terumbu karang adalah berbagai pengalaman yang kita temui sepanjang perjalanan.
Bayangkan seorang penyelam yang hendak mencari dan mengumpulkan mutiara. Sebelum menyelam, pelatihnya memberikan satu pesan penting: kesempatan menyelam hanya satu kali. Ia dibekali tabung oksigen dengan jumlah tertentu. Oksigen itu bukan sekadar alat bantu pernapasan, tetapi modal utama agar ia dapat bertahan hidup di dalam laut sekaligus menyelesaikan misinya. Sang penyelam pun terjun dengan penuh kegembiraan.
Sesampainya di dasar laut, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Terumbu karang dengan berbagai warna, ikan-ikan yang berenang bebas, dan aneka biota laut menghadirkan panorama yang luar biasa indah. Ia terpana. Kekaguman membuatnya lupa pada tujuan awal. Ia menikmati keindahan itu berlama-lama. Dalam perspektif psikologi, pengalaman semacam ini menunjukkan bagaimana manusia mudah mengalami attentional capture dimana perhatian kita dapat tersedot oleh stimulus yang menarik sehingga tujuan utama yang sebelumnya direncanakan menjadi terpinggirkan.
Tanpa terasa, alarm tabung oksigen berbunyi. Warnanya berubah menjadi kuning, sebuah peringatan bahwa cadangan oksigen mulai menipis. Alarm itu sesungguhnya bukan sekadar bunyi teknis, melainkan simbol tentang keterbatasan waktu. Sang penyelam akhirnya tersadar bahwa ia belum mendapatkan mutiara yang menjadi tujuan utama penyelamannya.
Ia segera kembali ke permukaan. Setelah tiba, ia meminta kesempatan kedua kepada pelatihnya. “Berikan saya satu tabung oksigen lagi. Saya belum sempat mengambil mutiara.”
Namun pelatih menjawab, “Sejak awal saya sudah mengatakan bahwa kesempatan menyelam hanya satu kali.”
Di sinilah analogi itu menjadi sangat kuat. Oksigen adalah kesempatan hidup. Mutiara adalah tujuan utama kehidupan. Terumbu karang, ikan yang indah, dan seluruh biota laut adalah kenikmatan, pengalaman, kesenangan, jabatan, kekayaan, popularitas, perjalanan, bahkan berbagai pencapaian duniawi yang kita temui sepanjang perjalanan.
Masalahnya bukan pada keindahan. Terumbu karang memang indah dan layak dikagumi. Kehidupan juga menyediakan banyak hal yang patut disyukuri. Persoalannya adalah ketika keindahan perjalanan membuat kita lupa terhadap tujuan perjalanan.
Secara filosofis, ilustrasi ini mengingatkan kita pada persoalan fundamental manusia, apakah kita masih mengetahui untuk apa kita hidup? Dalam kerangka spiritual Islam, kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan ruang perjalanan menuju kehidupan yang lebih abadi. Al-Qur'an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan apabila manusia kehilangan orientasi terhadap kehidupan akhirat.
Karena itu, menikmati “terumbu karang kehidupan” bukanlah kesalahan. Kita boleh menikmati ilmu, jabatan, keluarga, persahabatan, perjalanan, kekayaan, dan keindahan alam. Bahkan semua itu dapat menjadi bagian dari rasa syukur. Tetapi semuanya harus ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan, bukan menggantikan tujuan.
Persoalan terbesar manusia sering kali bukan karena ia tidak memiliki tujuan, melainkan karena ia terlalu menikmati perjalanan sampai lupa bahwa waktu terus berjalan. Alarm kehidupan akhirnya berbunyi: usia bertambah, kesempatan berkurang, tenaga melemah, dan waktu tidak pernah kembali.
Diving mengajarkan satu prinsip sederhana tetapi mendalam bahwa selama oksigen masih tersedia, jangan lupa mencari mutiara. Kagumilah keindahan laut, tetapi jangan sampai kekaguman membuat kita lupa mengapa kita menyelam.
Kita tidak akan ditanya berapa lama kita menikmati keindahan laut kehidupan, tetapi apa yang berhasil kita bawa pulang dari perjalanan itu. Oksigen akan habis. Kesempatan hanya sekali. Laut kehidupan memang indah, tetapi jangan sampai kita pulang tanpa mutiara.
Sungguminasa 28 September 2026