Hari-hari ini tayangan TV nasional dan media sosial banyak memberitakan prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, sebuah fenomena kuatnya kohesi sosial yang dihasilkan oleh getaran emosi, spiritualisme dan nasionalisme.
Fenomena ini menyadarkan kita bahwa ada pemimpin yang dikenang karena kekuasaan. Ada pula yang dikenang karena meninggalkan jejak keyakinan di hati para pengikutnya. Ketika yang kedua pergi, duka tidak lagi menjadi perasaan pribadi, melainkan berubah menjadi gelombang emosi kolektif. Air mata tidak lagi menetes dari satu atau dua pasang mata, tetapi mengalir menjadi lautan manusia.
Pemandangan itulah yang tampak dalam rangkaian pemakaman Ayatullah Ali Khamenei. Jutaan warga memenuhi jalan-jalan di kota-kota di Iran hingga ke Irak untuk memberikan penghormatan terakhir. Prosesi kemudian berlanjut ke Qom, pusat keilmuan Syiah, dan dijadwalkan berakhir di Mashhad, kota kelahirannya. Bukan hanya masyarakat Iran yang hadir, tetapi juga tamu-tamu dari berbagai negara yang datang sebagai bentuk penghormatan. Rangkaian pemakaman yang berlangsung berhari-hari menunjukkan bahwa kepergian seorang pemimpin dapat menjadi momentum yang menyatukan emosi sebuah bangsa.
Mengapa seorang pemimpin bisa dicintai sedemikian rupa?
Jawabannya tentu tidak sesederhana karena jabatan. Jabatan hanya memberi kewenangan, tetapi tidak otomatis melahirkan kecintaan. Cinta lahir ketika rakyat merasa pemimpinnya hadir dalam identitas, keyakinan, dan perjuangan mereka.
Bagi para pendukungnya, Ali Khamenei bukan sekadar kepala negara atau pemimpin agama. Selama puluhan tahun ia dipandang sebagai simbol keteguhan dalam mempertahankan prinsip Revolusi Islam, terutama ketika Iran menghadapi embargo, tekanan politik, ancaman militer, hingga isolasi internasional. Di mata mereka, ia adalah sosok yang tidak mudah bergeser oleh tekanan kekuatan-kekuatan besar dunia. Persepsi itulah yang membentuk ikatan emosional yang begitu kuat.
Sosiologi mengajarkan bahwa masyarakat tidak hanya mengikuti seseorang karena aturan, tetapi juga karena makna yang mereka bangun bersama. Ketika seorang pemimpin berhasil menjadi simbol harga diri, kedaulatan, dan harapan kolektif, maka kehilangan dirinya terasa seperti kehilangan sebagian dari identitas bersama. Karena itu, yang hadir dalam pemakaman bukan hanya tubuh-tubuh manusia, tetapi juga kenangan, keyakinan, dan rasa memiliki.
Air mata selalu mempunyai bahasa yang lebih jujur daripada pidato. Ia tidak mengenal protokol. Ia tidak dapat direkayasa dalam jumlah jutaan. Ketika begitu banyak orang rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mengantar seorang pemimpin, peristiwa itu menjadi fakta sosial yang layak direnungkan, terlepas dari bagaimana dunia menilai kebijakan maupun pandangan politiknya.
Di sisi lain, peristiwa ini juga mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan kembali kepada Sang Pencipta. Kekuasaan memiliki batas, tetapi pengaruh dapat melampaui usia. Yang akan terus hidup bukanlah singgasana, melainkan nilai-nilai yang ditinggalkan kepada generasi sesudahnya.
Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa pemimpin sejati tidak diukur dari lamanya ia berkuasa, melainkan dari kedalaman jejak yang ia tinggalkan dalam hati pengikutnya. Ketika kepergiannya mampu menggerakkan jutaan langkah dan menghadirkan jutaan doa, berarti ada hubungan emosional yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari sebuah duka. Air mata bukan sekadar tanda kesedihan, tetapi juga ukuran cinta. Semakin tulus pengabdian seorang pemimpin kepada keyakinan dan rakyatnya menurut para pengikutnya, semakin deras pula air mata yang mengiringi kepergiannya.
Sungguminasa, 13 Juli 2026