Mungkin karena algoritma YouTube sedang bekerja sesuai minat saya. Entah bagaimana, dalam hampir tiga bulan terakhir, beranda YouTube saya dipenuhi oleh tayangan tentang konflik geopolitik Timur Tengah, khususnya Iran, serta berbagai dokumentasi mengenai kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Menariknya, banyak tayangan tersebut tidak menghadirkan Iran dari sudut pandang politik semata, melainkan dari sisi kemanusiaan, pendidikan, budaya, dan kehidupan para pemimpinnya.
Bagi saya, tayangan-tayangan itu bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Sebaliknya, ia justru memvalidasi apa yang pernah saya lihat dan rasakan sendiri saat dua kali berkunjung ke Iran. Apa yang disampaikan dalam berbagai dokumenter, wawancara, dan laporan independen itu memiliki banyak kesesuaian dengan pengalaman langsung yang saya temukan di lapangan. Ada satu benang merah yang terus muncul bahwa kesederhanaan bukan dianggap sebagai kekurangan, melainkan sebagai kehormatan.
Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah tentang kesederhanaan the Supreme Leader (Pemimpin tertinggi Iran) Ayatullah Khamenei. Dikisahkan suatu ketika makanan dikirim ke kediamannya. Namun makanan tersebut dikembalikan karena di rumah itu tidak tersedia kulkas untuk menyimpannya. Kawatir basi sehingga sisanya dikembalikan.
Terlepas dari bagaimana detail sejarahnya dituturkan dari berbagai sumber, kisah tersebut hidup sebagai simbol kuat tentang cara seorang pemimpin memandang dunia. Bahkan sejumlah laporan menggambarkan kehidupan Imam Khomeini yang sangat sederhana dan jauh dari kemewahan.
Kisah lain yang sering disebut adalah bagaimana istrinya masih menggunakan mesin jahit tua untuk menjahit pakaian keluarga. Tidak ada upaya menciptakan kehidupan aristokrat di sekitar pusat kekuasaan. Rumah tidak dipenuhi perabot mewah. Kehidupan berjalan sebagaimana rakyat biasa menjalani kesehariannya.
Warisan budaya kesederhanaan itu kemudian sering dilekatkan pula kepada Ali Khamenei. Berbagai laporan menggambarkan gaya hidupnya yang sederhana, cara berpakaian yang tidak mencolok, serta penolakan terhadap simbol-simbol kemewahan yang lazim ditemukan di sekitar para pemimpin dunia.
Yang menarik bukanlah ukuran rumah atau jenis pakaian yang dikenakan. Yang menarik adalah pesan yang dipancarkannya.
Di banyak negara, rumah pemimpin sengaja dirancang untuk menunjukkan kebesaran kekuasaan. Ruang tamu dipenuhi kursi-kursi megah, lampu gantung raksasa, dan ornamen yang membuat tamu merasa sedang berhadapan dengan pusat kekuatan yang luar biasa. Namun dalam tradisi yang diwariskan oleh para pemimpin revolusi Iran, rumah justru tampak seperti sebuah pernyataan diam bahwa kekuasaan tidak harus dibuktikan melalui kemewahan.
Rumah sederhana itu seolah menjadi guru yang tidak pernah berbicara, tetapi terus memberi nasihat. Ia mengajarkan bahwa jabatan hanyalah amanah yang bersifat sementara. Bahwa kekuasaan bukan sarana memperbesar kenyamanan pribadi. Bahwa seorang pemimpin tidak harus hidup jauh di atas rakyatnya agar dihormati. Justru sebaliknya, semakin dekat ia dengan kehidupan rakyat biasa, semakin kuat legitimasi moralnya
Setelah seluruh harta bendanya dihitung, yang tersisa atas namanya hanyalah sebuah mobil pikap kecil. Ia tidak memiliki tanah, bangunan, rekening bank, perusahaan, istana, ataupun aset yang disembunyikan. Padahal, selama 47 tahun ia berada di jantung kepemimpinan Iran: terlibat dalam revolusi, menjabat sebagai Menteri Pertahanan selama bertahun-tahun, menjadi Presiden Republik, dan hampir empat dekade memegang amanah sebagai Pemimpin Tertinggi. Semua itu dijalaninya di sebuah negara yang kaya akan minyak, gas, dan industri, serta dikenal mampu menghadapi tekanan kekuatan-kekuatan besar dunia dan menggagalkan berbagai proyek geopolitik yang diarahkan kepadanya.
Di sinilah saya teringat sebuah kalimat yang sangat mendalam bahwa pemimpin sejati tidak membangun istana dari batu dan marmer, tetapi membangun istana di hati rakyat melalui ketulusan, keberanian, dan keteladanan. Ia dibangun oleh konsistensi hidup. Fondasinya adalah integritas, dindingnya adalah pengorbanan, atapnya adalah keberanian untuk hidup sesuai dengan nilai yang diajarkan.
Sungguminasa, 8 Juni 2026.
Alat AksesVisi