Gambar Ketika Kesederhanaan Menjadi Kebanggaan

Saya tertarik dengan video podcast yang diunggah oleh pak Wayong, podcast yang dipandu oleh Syukur Mandar melalui channel youtube-nya, menghadirkan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Khalid Al-Walid, seorang pakar geopolitik yang studi dan lama tinggal di Iran.

Seperti kita ketahui bahwa dunia hari ini sedang bergerak ke arah yang sangat progresif. Kesederhanaan perlahan dianggap kegagalan, sementara kemewahan dipuja sebagai ukuran keberhasilan. Materialisme menjadi dewa kehidupan sementara spiritualisme kadang diabaikan. Orang berlomba memperlihatkan apa yang dimilikinya, rumah besar, kendaraan mahal, pakaian bermerek, hingga gaya hidup yang semakin jauh dari denyut kehidupan rakyat biasa. Bahkan kekuasaan sering tidak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan akses menuju fasilitas dan privilege yang tidak ada habisnya.

Di tengah arus besar seperti itu, Iran tampil dengan wajah yang berbeda. Prof. Dr. Khalid Al-Walid menuturkan pengalamannya terkait bagaimana ritme dan semangat spiritualisme mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Iran. Dari pengamatannya, Iran bukan hanya tentang diskursus politik atau ketegangan geopolitik yang selama ini diberitakan media dunia, tetapi tentang cara pandang hidup yang dibangun di atas kesederhanaan, pengabdian, dan pengorbanan. Di negeri ini, kesederhanaan bukan sesuatu yang disembunyikan. Ia justru menjadi kebanggaan.

Paradoks dengan kehidupan kekinian dimana kita hidup di zaman ketika banyak pemimpin merasa harus tampak mewah agar terlihat berwibawa. Semakin tinggi jabatan, semakin besar jarak yang dibangun dengan rakyatnya. Rumah-rumah megah berdiri dengan pagar tinggi, pengawalan berlapis, dan fasilitas yang seringkali sulit dibayangkan oleh masyarakat biasa.

Tetapi Iran membangun simbol yang berbeda. Tokoh-tokoh seperti Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei dikenal menjalani hidup dengan sangat sederhana. Rumah mereka tidak menunjukkan kemewahan seorang penguasa besar (supreme leader alias pemimpin tertinggi). Pakaiannya biasa, bahkan pernah diceritakan bahwa di rumah Imam Khomeini dahulu tidak terdapat kulkas. Bagi dunia modern, kisah seperti ini terdengar hampir mustahil. Tetapi bagi mereka, kesederhanaan bukan kekurangan yang harus ditutupi. Ia adalah kehormatan moral.

Ada filosofi besar di balik itu. Seorang pemimpin tidak boleh tenggelam dalam kenikmatan ketika rakyatnya masih hidup dalam kesulitan. Pemimpin harus menjadi orang pertama yang merasakan denyut penderitaan masyarakatnya. Sebab dari situlah lahir empati, dan tanpa empati kekuasaan hanya akan berubah menjadi kesombongan yang dilegalkan.

Nilai seperti itu juga tercermin dalam cara negara memperlakukan rakyatnya. Meski bertahun-tahun berada di bawah embargo dan tekanan ekonomi, pemerintah tetap berusaha menjaga pelayanan publik, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Banyak layanan kesehatan dan pendidikan di sana dibuat murah bahkan gratis agar dapat dijangkau masyarakat luas.

Yang paling menyentuh adalah perhatian kepada ibu hamil. Menurut cerita Prof. Al-Walid, dalam podcastnya, pemerintah secara rutin mengirim susu bagi ibu hamil demi menjaga kesehatan ibu dan anak. Mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya itu adalah bentuk penghormatan terhadap masa depan bangsa. Negara hadir bukan hanya ketika rakyat membayar pajak atau memilih dalam pemilu, tetapi hadir sejak seorang anak masih berada di dalam kandungan ibunya.

Dalam wawancara bersama Sayyid al-Idrus, jurnalis TV-One, Imam Masjid Selat Hormuz menyampaikan pandangan menyentuh tentang masyarakat Iran. Menurutnya, infrastruktur terbesar Iran bukanlah PLTU, jembatan, atau fasilitas energi, melainkan anak-anak mereka. jika pembangkit listrik, jembatan, atau fasilitas negara dihancurkan oleh serangan musuh, rakyat Iran tidak akan gentar karena semua itu dapat dibangun kembali. Namun yang paling menyedihkan adalah ketika anak-anak menjadi korban perang. Ia menyinggung tragedi di sekolah Minab yang menyebabkan lebih dari seratus anak syahid. Baginya, mereka bukan sekadar angka korban, tetapi masa depan bangsa. Di antara mereka mungkin ada calon dokter, fisikawan, filosof, dan ilmuwan besar yang kelak berkontribusi bagi peradaban.

Di banyak tempat lain, negara sering sibuk membangun citra kemajuan lewat gedung tinggi dan angka statistik ekonomi. Tetapi Iran mencoba memperlihatkan bahwa peradaban juga diukur dari cara negara memperlakukan manusia paling lemah dalam masyarakatnya.

Ada satu nilai lagi yang membuat masyarakat Iran tampak berbeda yakni semangat syahid. Dalam budaya mereka, hidup tidak semata-mata tentang mencari kenyamanan pribadi. Ada keyakinan bahwa hidup terbaik adalah hidup yang dipersembahkan untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Karena itu pengabdian memiliki posisi yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial mereka.

Di tengah dunia yang semakin individualistik, nilai seperti ini terasa asing. Banyak orang hari ini bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan?” Sementara di Iran, pertanyaan yang lebih sering muncul adalah: “Apa yang bisa saya berikan?”

Barangkali di situlah letak kekuatan sebuah bangsa. Bukan pada banyaknya kekayaan yang dipamerkan, tetapi pada kemampuan rakyat dan pemimpinnya menahan diri dari kerakusan. Sebab sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak runtuh karena kekurangan harta, melainkan karena hilangnya kesadaran moral.

Kesederhanaan memang tidak selalu terlihat megah. Ia tidak memantulkan cahaya gemerlap seperti emas dan istana. Tetapi justru karena itulah ia kuat. Kesederhanaan melatih manusia untuk hidup secukupnya, untuk tidak diperbudak benda, dan untuk memahami bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari apa yang dimiliki, melainkan dari apa yang diperjuangkan.

Di zaman yang semakin haus pencitraan ini, kesederhanaan memang telah berubah menjadi sesuatu yang paling langka  sekaligus paling berharga.

Sungguminasa, 29 Mei 2026