Gambar Ketika Keadilan Jauh dari Mereka yang Lemah

Di sebuah sudut Bali, seorang anak perempuan mungkin sedang menunggu ayahnya pulang. Barangkali ia belum tahu bahwa penantian itu akan menjadi penantian yang sia-sia. Ia mungkin masih menyimpan harapan sederhana: suatu hari ayahnya datang, mengusap kepalanya, mengajaknya bermain, atau mengantarnya pergi ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya.

Namun, hari itu, ayahnya tidak pernah kembali. Bukan karena ia pergi merantau mencari nafkah. Bukan pula karena penyakit telah merenggut nyawanya. Sang ayah pergi untuk selamanya setelah sebuah peristiwa tragis terjadi. Ia dituduh mencuri ayam, kemudian kehilangan nyawa dalam amukan massa.

Peristiwa tragis yang terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026 sekitar pukul 01.30 WITA ini memicu simpati publik setelah video yang memperlihatkan anak perempuannya menangis histeris meratapi jenazah sang ayah 

Yang tersisa setelah kerumunan bubar bukan hanya sebuah kematian. Ada seorang anak perempuan yang tiba-tiba kehilangan dunia kecil tempat ia berlindung. Ada sebuah rumah yang mendadak kehilangan sosok ayah. Ada masa depan yang harus dijalani dengan sebuah kursi kosong dan sebuah nama yang hanya bisa dipanggil dalam kenangan.

Mungkin anak itu belum sepenuhnya memahami apa arti kematian. Ia mungkin belum mengerti mengapa seseorang yang kemarin masih bisa dipeluk, hari ini tak akan pernah pulang lagi. Tetapi ia pasti akan merasakan sesuatu yang hilang: tangan yang dahulu menggandengnya, langkah yang menemaninya ke sekolah, suara yang menyapanya, dan pelukan yang membuat dunia terasa aman.

Kelak, ketika ia bertambah dewasa, mungkin ia akan bertanya dalam hati mengapa ayahku harus pergi seperti itu? Pertanyaan itulah yang semestinya mengetuk nurani kita.

Tragedi tewasnya seseorang yang diduga melakukan pencurian bukan hanya persoalan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini adalah kisah tentang kemiskinan, ketimpangan sosial, kekerasan, dan rapuhnya perlindungan terhadap mereka yang berada di lapisan paling bawah. Sebab ketika sebuah peristiwa hukum berakhir dengan kematian, dampaknya tidak berhenti pada orang yang kehilangan nyawa. Ia menjalar kepada keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak yang tidak pernah ikut memilih jalan hidup orang tuanya.

Dalam masyarakat yang masih dibayangi kesenjangan ekonomi, kelompok miskin sering kali menjadi pihak yang paling rentan. Mereka tidak selalu memiliki akses yang memadai terhadap pendidikan, pendampingan hukum, perlindungan sosial, dan ruang untuk menyuarakan penderitaan. Kesalahan yang dilakukan seseorang mungkin harus dipertanggungjawabkan, tetapi kemiskinan tidak boleh menjadi alasan bagi siapa pun untuk kehilangan hak atas kemanusiaan.

Di sisi lain, publik kerap menyaksikan bagaimana orang-orang yang terseret dalam perkara besar, bahkan ketika dugaan kerugian negara mencapai angka yang fantastis, tetap mendapatkan ruang untuk menjalani proses hukum dengan pendampingan dan prosedur yang menjaga martabat mereka sebagai manusia. Tentu, setiap orang berhak memperoleh proses hukum yang adil dan perlakuan yang manusiawi. Namun, di sinilah pertanyaan sosiologis itu layak kita renungkan bersama, apakah penghormatan terhadap martabat manusia benar-benar telah dirasakan secara setara oleh semua orang, termasuk mereka yang miskin, lemah, dan tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya?

Dalam perspektif agama, manusia tidak dimuliakan karena harta, jabatan, atau kekuasaannya. Islam justru berkali-kali mengingatkan agar perhatian diberikan kepada mereka yang lemah seperti anak yatim, orang miskin, kaum dhuafa, dan mereka yang kehilangan tempat bergantung. Sebab kualitas iman sebuah masyarakat tidak hanya tampak dari megahnya rumah ibadah atau banyaknya kata-kata tentang kesalehan, tetapi juga dari bagaimana masyarakat memperlakukan orang yang tidak memiliki daya untuk membalas.

Karena itu, kisah anak perempuan yang kehilangan ayahnya semestinya tidak berhenti sebagai berita yang lewat di layar ponsel kita. Kisah itu seharusnya menjadi cermin bagi kita semua.

Jangan sampai kita terlalu sibuk memperdebatkan kesalahan seorang ayah, sementara kita lupa melihat wajah seorang anak yang harus menanggung kehilangan yang tidak pernah ia pilih. Anak itu tidak pernah meminta dilahirkan dalam kemiskinan. Ia tidak pernah memilih memiliki ayah yang dituduh mencuri.  Di sinilah nurani kita diuji.

Jika kita ingin berbicara tentang keadilan, mari kita bicara dengan hati yang jernih. Jika kita ingin menegakkan hukum, mari kita pastikan hukum tetap berjalan bersama kemanusiaan. Jika kita ingin menyebut diri sebagai masyarakat yang beradab, mari kita pastikan bahwa tidak ada seorang pun yang kehilangan hak untuk diperlakukan sebagai manusia, betapapun miskin, lemah, atau tidak berdayanya mereka.

Ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya tentang seberapa tinggi gedung yang menjulang, seberapa besar ekonomi tumbuh, atau seberapa banyak kekayaan yang terkumpul. Kemajuan sejati terlihat dari seberapa kuat kita melindungi mereka yang paling lemah.

Banjarmasin, 3 Agustus 2026