Gambar Ketika Ghibah Bergema di Masjid

Semarak Ramadan kedelapan membawaku pada kontemplasi di bawah kubah-kubah masjid yang kusinggahi.

Aku berpindah dari satu masjid ke masjid lain bukan sekadar menunaikan amanah tausiyah, melainkan memungut cermin bagi kegelapan jiwaku sendiri.

Di balik keriuhan tarawih, aku menangkap ironi: orang datang untuk menyembah, tetapi tanpa sadar terperosok dalam ghibah. Oase kesucian perlahan berubah menjadi panggung ghibah tanpa tepi.

Ghibah kerap lahir dari hal remeh, dari tangkapan indra sepele. Dalam sekejap, orang berubah menjadi “intel kejelekan” bagi sesamanya.

Hampir setiap malam tarawih, ada yang membatin atau melontarkan ghibah halus tentang aroma tubuh di sebelah shaf. Kita tentu pernah mencium bau parakang yang menyengat saat bermunajat kepada-Nya. Konsentrasi buyar, pikiran berlarian ke mana-mana.

Namun di situlah ujian sesungguhnya: menahan lisan atau melepaskan ghibah.

Mungkin tetangga sebelah tidak mandi karena baru pulang dari kantor, lalu singgah untuk berjamaah.

Di situlah ujian berdiri tegak: alih-alih mendoakan, bibir sibuk meracik ghibah. Pernah terjadi. Dari jarak beberapa meter, bau sakkulu’ tercium.

Shalat pun terganggu; khusyuk menjauh sebelum sempat diraih. Sesaat kemudian, kabar itu meluncur ke jamaah lain. Lisan bergerak lebih cepat daripada empati.

Ghibah tak berhenti di shaf. Ia bergerak ke serambi, ke halaman, bahkan ke ruang obrolan selepas rakaat terakhir.

Panitia masjid menjadi sasaran berikutnya. AC kurang dingin, pengeras suara mattamperre’ (kresek-kresek), sementara sebagian orang ingin masjid diperlakukan bak hotel berbintang. Kekurangan kecil dibesar-besarkan, sementara lelah marbot luput dari perhatian. kembali menemukan panggungnya—di tempat orang datang mencari pahala.

Ghibah memuncak saat berbuka. Ada saja orang yang memata-matai piring lain dengan tatapan selidik, mencibir porsi makan saudara seiman sebagai bahan ghibah ketamakan.

Penghakiman dijatuhkan atas isi dua piring penuh. Piring pertama sesak oleh ‘pisang epe dan cucuru’ bayawo, dipaksa berhimpitan dengan ‘apang tomboy’. Piring kedua menumpuk nasi, lauk super bocco’, sate, dan nasu lenrong.

Lisan begitu ringan menuding, seolah orang itu belum makan tujuh hari, padahal bisa jadi ia berniat membagi makanan untuk keluarga.

Ketahuilah, di masjid bukan hanya amal dikumpulkan. Aku khawatir dosa ghibah justru menumpuk.

Jangan lumuri dahi yang baru bersujud dengan “darah” saudara sendiri. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan lidah dari ghibah.

Jangan biarkan sujud panjang menjadi sandiwara, sementara mulut tetap tempat pembuangan racun.

Apa ikhtiarnya? 

Gunakan rem zikir. Saat ghibah hendak terucap, hantam dengan istigfar. Jika percakapan berubah menjadi lingkar gunjing, alihkan arah atau pilih diam. Tidak semua yang terlihat perlu dikomentari. Tidak semua yang terlintas pantas diucapkan.

Aku pun masih belajar menahan diri. Sebab kelak, bukan aroma tubuh yang diperiksa Tuhan, melainkan kesanggupan menjaga kehormatan saudara dari racun ghibah.

Mari berhenti menjadi hakim bagi sesama hamba, dan kembali menjadi hamba di hadapan Sang Hakim Agung.

Kamis, 8 Ramadan 1447 H / 26 Februari 2026
SK