Ada manusia yang cepat berbicara, tetapi lambat memahami.Ada yang lantang menilai, tetapi dangkal menimbang.Dan ada pula yang begitu bersemangat menyerang, tanpa pernah belajar merangkul.
Di ruang-ruang sosial kita hari ini, kata-kata sering kehilangan ruhnya. Ia tidak lagi menjadi jembatan makna, tetapi berubah menjadi alat serangan. Narasi tidak lagi dibangun untuk mencerahkan, tetapi untuk memenangkan. Kebenaran tidak lagi dicari, tetapi dikonstruksi sesuai kepentingan. Di titik inilah kita menyaksikan sebuah gejala yang lebih dalam dari sekadar konflik opini, mis-orientasi hidup, kehilangan arah dalam memahami nilai, tujuan, dan makna keberadaan.
Fenomena ini sering berakar dari dua penyakit batin yang halus namun mematikan: envy (iri) dan malice (kedengkian). Envy adalah kegelisahan melihat orang lain memiliki kebaikan yang tidak kita miliki, sementara malice adalah dorongan untuk menjatuhkan atau merusak kebaikan itu. Keduanya tidak selalu tampak, tetapi bekerja dalam diam, menyusup ke dalam pikiran, lalu menjelma dalam sikap: mudah menuduh, gemar memvonis, senang mempermalukan, dan tanpa sadar menikmati kejatuhan orang lain.
Al-Qur’an menggambarkan penyakit ini dengan sangat halus namun tajam:وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ“Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.”(QS. Al-Falaq: 5)
Dengki bukan sekadar perasaan, ia adalah energi destruktif yang mampu mengubah akal sehat menjadi alat pembenaran, dan hati yang jernih menjadi keruh oleh prasangka.
Dalam konteks sosial, penyakit ini sering menjelma menjadi propaganda. Narasi dipelintir, fakta dipotong, lalu disajikan dalam kemasan yang menggugah emosi, tetapi miskin kebenaran. Mereka yang terjebak dalam pola ini sering merasa dirinya paling benar, paling suci, dan paling berhak menghakimi. Padahal, justru di situlah letak kekeliruannya.
Rasulullah SAW.mengingatkan:إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun ironisnya, prasangka hari ini tidak lagi dihindari, ia dipelihara. Bahkan dijadikan bahan bakar untuk membangun citra dan menjatuhkan pihak lain. Inilah wajah lain dari oportunisme:, menggunakan isu, emosi, dan bahkan agama sebagai alat untuk kepentingan diri atau kelompok.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:لَا تَكُنْ عَبْدَ غَيْرِكَ وَقَدْ جَعَلَكَ اللَّهُ حُرًّا“Janganlah engkau menjadi budak bagi selainmu, padahal Allah telah menjadikanmu merdeka.”
Namun dalam realitas hari ini, banyak yang tanpa sadar menjadi “budak” dari nafsu, nafsu ingin menang, ingin diakui, ingin dipuji, bahkan jika itu harus mengorbankan kebenaran dan keadilan.
Lebih jauh lagi, penyakit ini melahirkan karakter antagonistik, tidak sabar dalam berdialog, kasar dalam bertutur, gemar membuka aib, dan kehilangan empati dalam relasi sosial. Mereka tidak lagi mencari solusi, tetapi mencari panggung. Tidak lagi membangun peradaban, tetapi memperluas konflik.
Padahal Islam telah memberikan fondasi yang sangat jelas:ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.”(QS. Fussilat: 34)
Ayat ini bukan sekadar anjuran moral, tetapi strategi peradaban. Bahwa keburukan tidak bisa dilawan dengan keburukan yang sama, tetapi dengan kebaikan yang lebih tinggi.
Imam Al-Ghazali mengingatkan:إِذَا غَلَبَ الْهَوَى فَسَدَ الرَّأْيُ“Jika hawa nafsu telah menguasai, maka rusaklah cara berpikir.”
Di sinilah letak krisis terbesar kita hari ini, bahwa bukan pada kurangnya informasi, tetapi pada rusaknya orientasi. Bukan pada minimnya pengetahuan, tetapi pada lemahnya pengendalian diri.
Namun di tengah semua itu, harapan tetap ada. Sebab setiap penyakit memiliki jalan penyembuhan.
Pemulihan harus dimulai dari dalam, dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Mengakui bahwa iri, dengki, dan egoisme bukanlah kekuatan, tetapi kelemahan yang harus diatasi. Dari kesadaran bahwa tidak semua hal harus direspons, tidak semua perbedaan harus dipertentangkan, dan tidak semua kebenaran harus diumbar tanpa hikmah.
Rasulullah SAW. bersabda:مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Diam dalam hal ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan. Ia adalah bentuk pengendalian diri, tanda kedewasaan, dan bukti kebijaksanaan.
Lebih dari itu, kita perlu membangun ulang orientasi hidup, dari egoisme menuju kemaslahatan, dari kebencian menuju kasih sayang, dari konflik menuju harmoni.
Al-Qur’an menegaskan:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”(QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan bukan sekadar konsep, tetapi komitmen untuk saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. Untuk saling menguatkan, bukan saling melemahkan.
Dalam tradisi ulama salaf, kebersihan hati menjadi prioritas utama. Mereka lebih takut pada penyakit hati daripada kesalahan lahiriah. Karena mereka tahu, hati yang rusak akan melahirkan tindakan yang rusak.
Maka solusi sejati bukan hanya pada perubahan perilaku, tetapi pada penyucian jiwa. Membersihkan hati dari iri, menenangkan pikiran dari prasangka, dan melatih diri untuk melihat orang lain dengan empati, bukan dengan kecurigaan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling jernih hatinya. Bukan tentang siapa yang paling sering menang dalam debat, tetapi siapa yang paling mampu menjaga kebenaran dengan kebijaksanaan.
Karena dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak suara yang saling menyerang, tetapi lebih banyak jiwa yang saling menenangkan. Tidak membutuhkan lebih banyak tuduhan, tetapi lebih banyak kejujuran. Tidak membutuhkan lebih banyak propaganda, tetapi lebih banyak ketulusan.
Dan mungkin, di tengah riuhnya zaman ini, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita mampu mengalahkan orang lain… tetapi ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri.
#Wallahu A’lam BishawabSemoga BermanfaatAl-faqir. Munawir Kamaluddin
Alat AksesVisi