Dahulu, suara azan lebih cepat menggerakkan kaki daripada notifikasi ponsel. Kini, yang lebih sakral justru bunyi “ting!” promo masuk. Masjid berdiri megah dengan kubah berkilau, tetapi jamaahnya tipis seperti sinyal Wi-Fi di pelosok. Sementara itu, mall menjelma menjadi tempat “hijrah” paling konsisten, dari rumah langsung ke pusat perbelanjaan.
Di kota-kota besar, kita bisa menyaksikan fenomena unik. Ketika azan berkumandang dari menara masjid, sebagian orang justru mempercepat langkah, menuju parkiran mall. Barangkali mereka mengira “Allahu Akbar” itu pengingat bahwa diskon sedang besar-besarnya.
Masjid kini sering kalah bersaing dengan pendingin ruangan. Di rumah ibadah, kipas angin berputar lirih; di mall, AC bertiup sejuk bak angin surga versi kapitalisme. Jamaah lebih khusyuk menatap etalase daripada mihrab. Mungkin karena di etalase ada label “Sale 70%”, sedangkan di mihrab hanya ada label “Shalatlah sebelum dishalatkan.”
Restoran cepat saji pun tak mau kalah. Ketika waktu maghrib tiba, antrean justru mengular di depan kasir. Sementara saf di masjid renggang seperti hubungan yang jarang disapa. Tampaknya sebagian kita lebih takut kehabisan kursi makan daripada kehabisan kesempatan sujud.
Dahulu orang berdandan rapi untuk ke masjid. Kini, outfit terbaik justru disiapkan untuk nongkrong. Masjid cukup dengan pakaian seadanya, tapi mall harus sepatu mengkilap dan parfum mahal. Seolah-olah Tuhan tidak perlu disambut dengan penampilan terbaik, cukup tenant-tenant yang memerlukan itu.
Ironisnya, di mall orang betah berjam-jam tanpa mengeluh. Berdiri lama demi diskon dianggap perjuangan. Tetapi berdiri sebentar dalam shalat terasa berat, seperti membawa beban dunia di pundak. Padahal yang dibawa hanya dosa dan cicilan.
Di restoran, kita hafal menu dan harga dengan detail. Namun di masjid, hafalan surat pendek saja kadang tertukar. Kita fasih menyebut nama brand internasional, tetapi terbata-bata menyebut ayat yang setiap hari didengar. Sepertinya kapitalisme lebih sering kita murajaah daripada Al-Qur’an.
Mall menjadi ruang sosial baru. Orang merasa lebih “terhubung” di sana. Foto di depan logo besar lebih membanggakan daripada foto di depan mimbar. Barangkali karena likes lebih cepat turun daripada rahmat.
Masjid sebenarnya tidak pernah mematok harga masuk. Tidak ada minimum charge untuk duduk di saf terdepan. Tidak ada syarat pembelian untuk mendapatkan ketenangan. Tapi justru karena gratis itulah, ia sering diremehkan. Kita cenderung menghargai yang mahal, bukan yang mulia.
Restoran menawarkan “all you can eat”. Masjid menawarkan “all you can repent”. Yang satu mengenyangkan perut, yang satunya menenangkan jiwa. Anehnya, kita lebih rela antre untuk menambah nasi daripada menambah pahala.
Ada pula yang berkata, “Saya bisa shalat di rumah.” Benar, tentu saja bisa. Tetapi entah mengapa, untuk belanja dan makan, rumah terasa sempit dan membosankan. Untuk ibadah, rumah terasa cukup; untuk hiburan, rumah terasa kurang.
Padahal masjid bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang pertemuan hati. Di sana, orang kaya dan miskin berdiri sejajar. Tidak ada kelas VIP, tidak ada meja eksklusif. Semua saf adalah kelas ekonomi, tapi menuju akhirat kelas utama.
Kita sering mengeluh hidup terasa hampa, stres, dan penuh kecemasan. Lalu kita mencari obatnya di pusat perbelanjaan. Kita berharap tas baru bisa menambal hati yang berlubang. Kita kira dessert manis mampu menggantikan manisnya dzikir.
Bukan berarti mall dan restoran itu haram atau musuh peradaban. Ia hanya tempat. Yang jadi soal adalah prioritas. Ketika jadwal diskon lebih kita hafal daripada jadwal kajian, mungkin ada yang perlu ditata ulang, bukan hanya lemari pakaian, tapi juga arah langkah.
Masjid tidak pernah memanggil dengan spanduk besar atau cashback. Ia hanya memanggil dengan azan, lima kali sehari, tanpa lelah. Mungkin bukan masjid yang mulai ditinggalkan. Mungkin hati kita yang sedang pindah alamat, dari sajadah ke etalase. Dan pertanyaannya sederhana: sampai kapan kita merasa lebih damai di bawah lampu neon daripada di bawah cahaya hidayah. Wallahu a'lam.
Hidayat Said
Alat AksesVisi