Gambar Ketika Data Berbicara: Membaca Prestasi PTKIN di Kancah Global

Munculnya meme atau narasi di media sosial yang mendeskreditkan perguruan tinggi keagamaan menunjukkan adanya kesenjangan persepsi terkait realitas empiris. Kritik yang bersifat simplifikatif dan menggeneralisir semua PTKN sebagai institusi yang tertinggal atau kurang kompetitif tidak lagi relevan. 

UIN Alauddin dapat menunjukkan sekaligus membantah dengan data yang bersumber dari institusi kredibel. 

Pencapaian UIN Alauddin Makassar dalam SCImago Institutions Rankings (SIR) 2026 misalnya, khususnya pada aspek Social Sciences, bukan sekadar capaian numerik yang berhenti pada statistik peringkat. Ia merupakan indikator transformasi epistemik yang sedang berlangsung dalam lanskap perguruan tinggi keagamaan di Indonesia. Ketika UIN Alauddin menempati posisi ke 3 PTKIN,  ke-16 dalam skala nasional dan peringkat ke-754 dunia dalam bidang ilmu sosial, maka sesungguhnya yang sedang dipertontonkan adalah konsolidasi antara tradisi keilmuan keislaman dengan metodologi ilmiah kontemporer yang berbasis riset dan publikasi bereputasi. Data ini bukan sebatas narasi tapi rekognisi global (global recognition). 

Dalam perspektif akademik, pemeringkatan seperti yang dilakukan oleh SCImago tidak hanya mengukur kuantitas publikasi, tetapi juga dampak sitasi, kolaborasi internasional, dan relevansi penelitian terhadap isu-isu global. Oleh karena itu, capaian ini mengindikasikan bahwa produksi pengetahuan di UIN Alauddin telah melampaui batas-batas lokalitas dan mulai berkontribusi dalam percakapan akademik global. Ilmu sosial yang dikembangkan tidak lagi sekadar normatif-teologis, melainkan telah bertransformasi menjadi ilmu yang responsif terhadap dinamika masyarakat modern, seperti pluralisme, keadilan sosial, dan pembangunan berkelanjutan.

Lebih jauh, prestasi ini harus dibaca sebagai kebanggaan institusional yang bersifat kolektif. Ia bukan hasil kerja individu semata, melainkan akumulasi dari ekosistem akademik yang melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga kebijakan strategis pimpinan. Dalam konteks ini, keberhasilan tersebut mencerminkan keberhasilan tata kelola perguruan tinggi yang mampu mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi secara sinergis: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bahkan, penunjukan sebagai pilot project untuk masuk ke QS World University Rankings menegaskan adanya pengakuan institusional terhadap potensi global yang dimiliki.

Dengan demikian, capaian UIN Alauddin berfungsi untuk membuktikan bahwa perguruan tinggi keagamaan tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga berinovasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang integratif. Bahkan, dalam konteks tertentu, pendekatan integratif antara agama dan sains justru menjadi keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh banyak perguruan tinggi umum.

Dalam horizon yang lebih prospektif, capaian ini seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat internasionalisasi riset, memperluas jejaring kolaborasi global, serta meningkatkan kualitas publikasi pada jurnal bereputasi tinggi. Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan peringkat, tetapi juga memastikan bahwa penelitian yang dihasilkan memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Dalam hal ini, ilmu sosial berbasis nilai-nilai keislaman memiliki potensi besar untuk menawarkan solusi atas berbagai krisis kemanusiaan, mulai dari ketimpangan sosial hingga degradasi moral di era digital.

Prestasi ini layak dirayakan bukan dalam euforia sesaat, melainkan sebagai momentum reflektif untuk memperkuat identitas akademik perguruan tinggi keagamaan sebagai pusat keunggulan (center of excellence). Capaian ini menegaskan bahwa di tengah arus globalisasi dan kompetisi akademik yang semakin ketat, institusi seperti UIN Alauddin Makassar tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai aktor penting dalam produksi pengetahuan global. Dengan demikian, kebanggaan ini adalah kebanggaan kolektif, bukan hanya milik satu institusi, tetapi milik seluruh ekosistem pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia yang terus bertransformasi menuju standar dunia.

Sungguminasa, 10 April 2026