Gambar Ketika Aku Menatap Ka’bah, Namun Tak Menemukan Pemilik-Nya

Tahun ini, Allah kembali membuka pintu rumah-Nya untukku. Namun, ada yang berbeda. Panggilan kali ini datang melalui jalur yang diimpikan banyak orang: Program Tamu Pelayan Dua Kota Suci. Sebuah undangan eksklusif, fasilitas tanpa celah, langsung dari Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Semuanya gratis, semuanya serba dimudahkan.

Namun, di balik segala kemewahan itu, ada sebuah tanya yang menusuk ulu hati. Meski raga ini dimanjakan, hakikat haji tetaplah sebuah pertempuran. Ia menuntut kesungguhan hati untuk menempuh perjalanan jauh dan tekad baja untuk menanggalkan jubah keburukan masa lalu. Haji memang butuh fisik yang tangguh dan materi yang cukup, namun yang jauh lebih krusial adalah kesiapan batin untuk menjadi "Tamu Allah" yang sesungguhnya.

Dengan segala kemudahan yang menghampiri, logikanya, aku seharusnya lebih mudah berjumpa dengan Sang Tuan Rumah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Jangankan berjumpa, menatap "Wajah"-Nya di balik kemegahan Ka’bah pun aku tak sanggup.

Adakah yang salah dengan kesungguhanku?
Apakah Allah murka melihat jemariku yang sibuk memamerkan fasilitas kerajaan di media sosial?
Apakah thawafku kehilangan sakralitasnya karena tangan ini lebih sibuk berswafoto daripada menengadah memohon ampunan?
Apakah tindakan itu adalah bentuk ketidaksopanan seorang tamu di hadapan Sang Khalik?

Aku teringat kisah Abu Yazid al-Busthami, sang sufi agung dari Persia. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Baitullah, ia berujar pedih: Ia melihat bangunan Ka’bah, namun sama sekali tidak melihat Tuhan pemilik Ka’bah. Dalam Ihya `Ulumuddin, fase ini digambarkan sebagai jebakan eksoterisme murni. Inilah level kesadaran syariat yang paling luar—saat seorang hamba masih terpenjara oleh bentuk material, formalisme hukum, dan estetika ritus visual. Kondisiku saat ini mungkin serupa dengan kritik Erich Fromm tentang having mode (mode memiliki). Aku terjebak menjadikan ibadah sebagai koleksi properti spiritual: Memiliki gelar haji, Memiliki dokumentasi di depan Hajar Aswad, Memiliki reputasi sosial yang baru.

Struktur psikisku mungkin sedang dikuasai oleh ego narsistik yang memanfaatkan ritus suci sebagai panggung legitimasi diri. Aku mengitari Ka’bah secara fisik, namun batin ini steril dari getaran transendental. Ruang kesadaranku penuh sesak oleh proyeksi diri. Aku mengitari rumah Tuhan, namun jangan-jangan, yang kusembah di dalam kepalaku adalah egoku sendiri.

Jika demikian adanya, maka tugasku bukan lagi sekadar fisik. Aku harus melakukan Mujahadah—sebuah perjuangan radikal untuk mengosongkan batin dari segala godaan duniawi dan hiruk-pikuk pengakuan manusia.
"Mengosongkan hati agar hanya Dia yang mengisi. Namun, sanggupkah aku?"

Di bawah langit Mekkah yang mulia ini, aku tertunduk. Fasilitas boleh raja, tapi di hadapan-Nya, aku hanyalah debu yang rindu akan pandangan kasih sayang Tuan Rumah-nya. Wallahu a’lam.

Mekkah, 26 Mei 2026