Dalam beberapa edisi, tulisan saya menyoroti konflik Timur Tengah. Ini bukan tanpa alasan. Sepertinya mata dan pikiran masyarakat banyak tertuju ke arena konflik tersebut. Saya pun menemukan sisi unik yang saya sebut "Collective spirituality" dari badai perang ini.
Di dalam coretan kali ini, saya mulai dengan sebuah keyakinan saya bahwa sebuah bangsa tidak hancur ketika kotanya runtuh, tapi ia hancur ketika makna kebersamaannya lenyap.
Dalam lanskap konflik kontemporer, apa yang tampak di permukaan sering kali menipu. Kita menyaksikan ledakan, kehancuran infrastruktur, dan pergerakan militer, lalu dengan cepat menyimpulkan bahwa kekuatan terletak pada siapa yang memiliki senjata paling canggih. Namun dalam kasus Iran, realitas justru bergerak ke arah yang lebih dalam. Kekuatan tidak semata berada pada materialitas, tetapi pada kesadaran yang mengikat manusia menjadi satu tubuh makna.
Dalam filsafat, gagasan tentang kesadaran kolektif dapat ditelusuri pada pemikiran G. W. Friedrich Hegel tentang filsafat mind atau Geist yaitu roh kolektif yang menjelma dalam sejarah suatu bangsa. Negara, dalam pengertian ini, bukan sekadar institusi politik, melainkan manifestasi dari kesadaran bersama yang hidup dan berkembang melalui pengalaman historis. Iran, dalam situasi perang, memperlihatkan bagaimana Geist atau mind itu bekerja. Tekanan eksternal tidak menghancurkan, tetapi justru memanggil kesadaran terdalam tentang siapa mereka sebagai bangsa.
Di tengah ancaman serangan terhadap infrastruktur vital seperti jembatan, pembangkit listrik, dan fasilitas energi, muncul fenomena yang sulit dijelaskan hanya dengan logika rasional instrumental. Rakyatnya secara sukarela membentuk pagar manusia. Tubuh-tubuh individu berubah menjadi dinding hidup, melindungi objek-objek yang secara simbolik merepresentasikan keberlangsungan kehidupan bersama. Tindakan ini bukan sekadar respons spontan, melainkan ekspresi dari kesadaran bahwa keberadaan individu tidak terpisah dari keberadaan kolektif.
Dalam kerangka Jean-Jacques Rousseau, ini dapat dipahami sebagai manifestasi dari general will yaitu kehendak umum yang melampaui kepentingan individual. Ketika seseorang berdiri menjaga jembatan atau pembangkit listrik, ia tidak lagi bertindak sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari kehendak kolektif yang ingin mempertahankan eksistensi bersama. Di titik ini, negara tidak lagi eksternal terhadap rakyat, negara adalah rakyat itu sendiri.
Fenomena ini menjadi semakin signifikan jika ditempatkan dalam konteks tekanan berlapis yang dialami Iran selama beberapa dekade; sanksi ekonomi, isolasi politik, dan ancaman militer. Friedrich Nietzsche mengandai bahwa tekanan dan penderitaan dapat melahirkan kekuatan baru semacam sebuah ideolog. Dalam konteks Iran, tekanan tidak hanya menghasilkan ketahanan, tetapi juga memperdalam kesadaran kolektif. Penderitaan bersama menjadi medium pembentukan identitas bersama.
Namun, kesadaran kolektif ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia ditopang oleh narasi historis dan spiritual yang telah lama mengakar. Dalam tradisi pemikiran Islam, konsep pengorbanan dan syahid memberikan dimensi transenden pada tindakan-tindakan duniawi. Ketika seseorang berdiri melindungi fasilitas publik dengan risiko nyawa, ia tidak hanya melihat dirinya dalam kerangka kehidupan dunia, tetapi juga dalam horizon makna yang lebih luas. Dengan demikian, tindakan kolektif tersebut memperoleh legitimasi filosofis sekaligus spiritual.
Dari sudut pandang filsafat politik, apa yang terjadi di Iran menantang asumsi dasar modernitas yang cenderung memisahkan individu dari komunitas. Modernitas sering menekankan otonomi individu sebagai pusat, sementara pengalaman Iran menunjukkan bahwa dalam kondisi ekstrem, justru keterikatan kolektif yang menjadi sumber kekuatan utama. Individu menemukan maknanya bukan dalam kebebasan yang terpisah, tetapi dalam keterlibatan yang total dengan komunitasnya.
Lebih jauh, fenomena pagar manusia ini mengungkap paradoks mendalam bahwa infrastruktur fisik yang rapuh justru dilindungi oleh sesuatu yang paling rapuh yaitu tubuh manusia. Namun di situlah letak kekuatannya. Tubuh yang secara biologis lemah menjadi kuat ketika ia digerakkan oleh kesadaran kolektif. Dalam bahasa Maurice Merleau-Ponty, tubuh bukan sekadar objek, tetapi subjek yang hidup dalam dunia makna. Ketika tubuh-tubuh itu berdiri bersama, mereka menciptakan ruang makna yang tidak bisa dihancurkan oleh bom atau rudal.
Iran memberikan perenungan bahwa bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak dapat direduksi menjadi angka-angka statistik militer. Ia terletak pada kemampuan untuk mempertahankan kesadaran bersama di tengah ancaman yang paling ekstrem. Ketika kesadaran itu tetap hidup, kehancuran fisik tidak pernah menjadi akhir.
Ketika kesadaran Kolektif itu tetap menyala bahkan di tengah reruntuhan maka bangsa itu tidak hanya bertahan, tetapi menemukan bentuk keabadiannya.
Jakarta, 13 April 2026
Alat AksesVisi