Ada kabar yang begitu berat untuk ditulis, bahkan tangan seakan enggan menggoreskan kata-kata. Ada nama yang ketika disebut, tiba-tiba dada terasa sesak dan mata kehilangan kemampuan untuk menahan air mata. Hasbullah Mathar, S.HI., S.Sn., M.M., M.I.Kom., yang akrab disapa Bang Iboel.
Tenaga ahli di bidang fotografi pada Program Studi Ilmu Komunikasi dan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar, telah berpulang ke hadirat Allah SWT. Sabtu, 4 Oktober 2026, sekitar pukul 13.00 Wita, di Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo Makassar,.
Setelah kurang lebih sebulan menjalani perawatan akibat serangan stroke yang menyerang bagian kepala. Sebulan lamanya ia bertarung dengan sakit. Sebulan pula keluarga, sahabat, mahasiswa, dan para sejawat menggantungkan harapan pada doa, semoga ada keajaiban yang membuatnya kembali membuka mata, kembali tersenyum, kembali mengangkat kameranya.
Pernah suatu ketika kampus dibuat geger oleh kabar bahwa Bang Iboel telah pergi untuk selamanya. Hati pun runtuh. Namun ternyata Allah masih memberinya waktu.
Napasnya masih berjuang melalui selang oksigen, seolah ada sesuatu yang belum selesai ia tinggalkan di dunia ini. Hari-hari kemudian berlalu. Dari ruang perawatan, ia masih menjadi bagian dari percakapan kami.
Masih ada harapan. Masih ada doa. Masih ada keyakinan bahwa lelaki yang selama ini akrab dengan kamera itu akan kembali menyapa. Tetapi manusia hanya mampu berharap, sementara Allah yang menentukan kapan sebuah perjalanan harus berakhir.
Kini, sosok itu benar-benar telah pergi. Tak ada lagi langkahnya menyusuri ruang-ruang kampus. Tak ada lagi suara yang terdengar ketika ia mengarahkan mahasiswa untuk mendapatkan sudut pemotretan terbaik.
Tak ada lagi pemandangan Bang Iboel berdiri di bawah terik matahari, berpanas-panasan bersama mahasiswa, mengejar cahaya, mencari sudut, membidik sebuah peristiwa agar menjadi gambar yang mampu bercerita.
Ia bukan sekadar memotret manusia dan peristiwa; ia mengabadikan waktu. Dan waktu yang pernah ia abadikan itulah yang kini menjadi kenangan.
Kita pun tak akan lagi menyaksikan aksi sang fotografer dengan rompi cokelatnya yang begitu khas. Rompi itu seakan telah menjadi bagian dari dirinya—menemani langkah, kamera, dan pekerjaannya dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Namun karya-karyanya masih berbicara.
Foto-foto monumental hasil bidikannya masih terpampang di dinding-dinding kampus, menjadi saksi bisu bahwa pernah ada seorang lelaki bernama Bang Iboel yang mengabdikan keahliannya untuk almamater.
Bahkan di ruang mengajar yang ramah bagi para dosen lansia, jejak karyanya masih dapat dipandang. Tubuhnya telah pergi, tetapi cahaya dari lensa kameranya masih tinggal.
Sejak kabar kepergiannya datang, Bang Iboel tidak lagi kembali ke rumahnya di Jalan Angkasa No. 3 Makassar. Keluarga telah mengambil keputusan untuk membawa jenazahnya langsung dari Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo menuju kampung halaman di Bone.
Beberapa rekan dosen, sejawat, serta pimpinan Fakultas Dakwah dan Komunikasi turut menyaksikan saat jenazahnya diangkat menuju ambulans.
Di saat itulah, barangkali, banyak hati yang benar-benar pecah. Ambulans bergerak perlahan. Pintu ditutup. Sirene mulai meraung.
Kendaraan itu meninggalkan halaman rumah sakit, membawa seorang sahabat menuju tanah kelahirannya—sementara kami hanya mampu berdiri, menatap dari kejauhan, mengiringinya dengan doa dan air mata.
Selamat jalan, Bang Iboel
Pergilah dengan tenang, sahabat.
Kamera mungkin telah kau tinggalkan.
Rompi cokelat itu mungkin tak lagi melekat di tubuhmu.
Suaramu tak lagi terdengar di tengah hiruk-pikuk kampus.
Langkahmu tak lagi kami temukan di antara mahasiswa yang sedang belajar.
Tetapi karya-karyamu akan tetap berbicara.
Foto-fotomu akan tetap bercerita.
Dan kenangan tentangmu akan tetap hidup,
di hati mereka yang pernah mengenal, bekerja, bercanda,
dan berjalan bersamamu.
Hari ini kami melepasmu dengan air mata.
Esok, kami akan mengenangmu dengan doa.
Ya Allah, ampuni segala khilaf dan dosa Bang Iboel.
Lapangkan jalannya menuju-Mu.
Terangi kuburnya dengan cahaya-Mu.
Tempatkan ia di tempat terbaik di sisi-Mu,
dan terimalah seluruh pengabdiannya sebagai amal kebajikan.
Selamat jalan, Bang Iboel.
Engkau telah selesai memotret dunia.
Kini, biarlah Allah yang memperlihatkan kepadamu
keindahan kehidupan yang kekal.
Doaku menyertaimu, sahabat.
Al-Fatihah...