Bayangkan seorang raja memerintahkan tiga orang menterinya pergi ke kebun. Pesannya sederhana: “Carilah dan kumpulkan buah sebanyak-banyaknya untuk kepentingan kalian masing-masing.” Ketiganya mendapat perintah yang sama, tetapi cara menyikapinya berbeda.
Menteri A menjalankan perintah dengan sungguh-sungguh. Ia memilih buah yang segar, berkualitas, dan mengumpulkannya sebanyak mungkin. Menteri B melaksanakan tugas sekadarnya. Ia mengambil buah tanpa banyak memilih. Sebagian masih baik, tetapi banyak pula yang busuk. Sementara Menteri C sama sekali tidak melaksanakan perintah. Baginya, tidak ada gunanya bersusah payah mencari buah. Bukankah ia sudah menjadi menteri dan memiliki harta yang cukup?
Setelah mereka kembali, sang raja tiba-tiba memerintahkan pengawal memasukkan ketiganya ke dalam penjara selama dua puluh hari. Mereka hanya diperbolehkan membawa buah yang telah mereka kumpulkan dari kebun.
Di sinilah perbedaan pilihan mereka menjadi nyata.
Menteri A dapat bertahan dengan tenang. Buah-buah segar yang dikumpulkannya menjadi sumber makanan selama berada di dalam penjara. Menteri B masih memiliki sesuatu untuk dimakan, meskipun sebagian buahnya sudah membusuk dan tidak layak dikonsumsi. Sedangkan Menteri C menghadapi penderitaan. Hartanya di luar penjara tidak dapat menolongnya. Jabatan yang dibanggakannya tidak berguna. Ia tidak memiliki buah karena sejak awal ia mengabaikan perintah.
Kita semua sesungguhnya sedang berada di sebuah “kebun” yang luas bernama dunia. Kita diberi amanah yang sama: berbuat baik, menebarkan manfaat, menjaga keadilan, membantu sesama, menjauhi kezaliman, dan menjalankan tanggung jawab sebagai manusia. Namun, respons setiap orang terhadap amanah itu berbeda.
Ada manusia seperti Menteri A. Ia menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh. Kebaikan bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi panggilan hati. Ia berbuat baik ketika dilihat maupun tidak dilihat orang. Ia membantu tanpa selalu menghitung keuntungan. Ia bekerja dengan amanah dan ikhlas, karena menyadari bahwa setiap kebaikan adalah bekal untuk perjalanan yang lebih panjang.
Ada pula manusia seperti Menteri B. Ia berbuat baik, tetapi kadang terpaksa. Kebaikannya bercampur dengan kepentingan, pujian, gengsi, bahkan pencitraan. Ia tetap mengumpulkan “buah”, tetapi tidak semuanya berkualitas. Ada amal yang tulus, ada pula yang kehilangan nilai karena niat yang keliru.
Ada manusia seperti Menteri C. Ia merasa dunia sudah cukup. Jabatan, kekayaan, popularitas, dan kekuasaan membuatnya lupa bahwa semua itu tidak dibawa ketika perjalanan hidup berakhir. Ia sibuk mengumpulkan harta dunia, tetapi lupa mengumpulkan “buah” berupa amal kebajikan.
Pada akhirnya, setiap manusia akan meninggalkan “kebun dunia” dan memasuki fase kehidupan berikutnya. Saat itu, yang dibawa bukan rumah, jabatan, rekening, kendaraan, atau popularitas. Yang dibawa adalah apa yang telah kita kumpulkan sendiri: amal dan kebaikan.
Karena itu, jangan tertipu oleh banyaknya harta yang kita miliki hari ini. Bisa jadi kita sedang kaya di dunia, tetapi miskin bekal untuk akhirat.
Dunia adalah kebun. Waktu adalah kesempatan. Amal adalah buahnya, dan akhirat adalah tempat kita menikmati hasil panennya.
Pertanyaannya sederhana, ketika waktunya tiba, sebanyak dan sebaik apa buah yang ada di dalam karung kita?