Ada keberanian yang tidak lahir dari amarah, tetapi dari kesadaran.
Ada perjuangan yang tidak dimulai dari ambisi, tetapi dari kehormatan.
Dan ada perempuan yang tidak sekadar hidup dalam sejarah, tetapi menghidupkan sejarah itu sendiri.
Di tengah riuhnya narasi tentang emansipasi perempuan hari ini, yang sering kali terjebak antara kebebasan dan kehilangan arah, kita seperti lupa bahwa tanah ini pernah melahirkan perempuan-perempuan yang tidak hanya menuntut hak, tetapi menegakkan martabat. Perempuan yang tidak sekadar ingin didengar, tetapi memilih untuk berdiri dan membela. Perempuan yang tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi membuktikannya dalam keberanian yang nyata.
Di antara nama-nama yang nyaris tenggelam dalam arus sejarah itu, hadir sosok yang seharusnya tidak hanya dikenang, tetapi direnungkan: I Cella Petta Makkunrai, atau yang dikenal pula sebagai I Cella Daeng Tawero. Ia bukan sekadar perempuan dari Sinjai. Ia adalah nyala api yang pernah membakar semangat perlawanan di pesisir Sulawesi Selatan, jauh sebelum banyak nama besar ditulis dalam buku sejarah.
Ia lahir bukan di ruang yang kosong dari nilai, tetapi dalam tradisi Bugis yang menjunjung tinggi siri’ (harga diri) yang tidak bisa ditawar dan pesse (empati ) yang tidak bisa dipadamkan. Dalam usia yang masih sangat belia, sekitar 12 tahun, ia telah memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin enam wilayah kerajaan: Labuaja, Kahu, Patimpeng, Bulau-bulau, Salang Keto, dan Mario. Sebuah amanah yang tidak ringan, bahkan untuk seorang laki-laki dewasa, apalagi bagi seorang perempuan muda di tengah tekanan kolonial.
Namun sejarah mencatat, ia tidak mundur. Ia tidak ragu. Ia tidak memilih diam. Ketika gelombang kolonialisme Belanda mulai merangsek masuk ke wilayah pesisir Sinjai, I Cella tidak menunggu untuk ditaklukkan. Ia bangkit, memimpin, dan melawan. Ia tidak hanya menjadi simbol, tetapi menjadi komando. Ia tidak berdiri di belakang, tetapi di garis depan. Ia mengorganisasi kekuatan, menggerakkan perlawanan, dan mempertahankan tanahnya dengan keberanian yang tidak bisa diukur hanya dengan kata-kata.
Namanya tercatat dalam lontara Bulau-Bulau sebagai perempuan yang disegani, bukan karena kelembutannya semata, tetapi karena keteguhannya dalam menjaga kehormatan. Bahkan dalam perjalanan hidupnya, ia memilih untuk tidak membangun keluarga dalam arti biologis, karena seluruh hidupnya ia wakafkan untuk perjuangan. Sebuah pilihan yang tidak sederhana, tetapi sarat makna tentang pengabdian total.
Di sinilah letak kedalaman makna yang sering kali luput kita pahami hari ini. Bahwa emansipasi bukan sekadar tentang kebebasan memilih, tetapi tentang keberanian bertanggung jawab. Bahwa kemerdekaan bukan tentang melakukan apa saja, tetapi tentang memperjuangkan apa yang benar. Dan bahwa kekuatan perempuan tidak selalu harus tampil dalam sorotan, tetapi bisa hadir dalam keteguhan yang sunyi.
Hari ini, ketika kita berbicara tentang perempuan, sering kali yang muncul adalah gambaran tentang kebebasan ekspresi, ruang publik, dan pengakuan sosial. Namun dalam banyak kasus, kebebasan itu justru kehilangan arah. Nilai mulai kabur. Batas mulai diabaikan. Dan makna perlahan tergantikan oleh tampilan.
Di sinilah relevansi I Cella Petta Makkunrai menjadi sangat penting. Ia mengajarkan bahwa perempuan bisa kuat tanpa kehilangan kelembutan. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa memimpin tanpa harus meninggalkan nilai. Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi pelindung, bukan hanya bagi dirinya, tetapi bagi masyarakatnya.
Dalam konteks sosial hari ini, ketika kita menyaksikan adanya kemerosotan moral, di mana adab mulai dianggap usang, kesantunan dianggap kelemahan, dan popularitas lebih dihargai daripada integritas, maka sosok seperti I Cella hadir sebagai cermin yang jernih. Cermin yang memperlihatkan bahwa kemuliaan tidak pernah lahir dari kemudahan, tetapi dari perjuangan. Tidak dari pengakuan, tetapi dari pengorbanan.
Lebih dari itu, ia juga menghadirkan gagasan besar tentang kemandirian perempuan dalam koridor nilai. Bahwa perempuan tidak harus menjadi “seperti laki-laki” untuk diakui, tetapi cukup menjadi dirinya yang utuh, dengan potensi, kepekaan, dan kekuatan khas yang dimilikinya. Bahwa kontribusi perempuan tidak hanya diukur dari posisi, tetapi dari dampak yang ia hadirkan.
Perempuan memiliki kekuatan yang tidak selalu tampak, tetapi sangat menentukan. Ia mampu merawat dalam diam, menyatukan dalam kelembutan, dan menguatkan dalam kesabaran. Dari rahimnya lahir generasi. Dari didikannya tumbuh peradaban. Dan dari hatinya, dunia menemukan keseimbangan.
I Cella Petta Makkunrai adalah bukti bahwa semua itu bukan sekadar konsep, tetapi realitas yang pernah hidup di tanah ini. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mengenalnya atau tidak. Tetapi apakah kita mau belajar darinya?
Karena sejatinya, Kartini tidak hanya lahir di Jepara. Ia juga lahir di Sinjai. Ia hadir dalam sosok-sosok perempuan yang memilih untuk menjaga nilai di tengah arus zaman yang menggoda. Ia hidup dalam jiwa-jiwa yang tidak sekadar ingin terlihat, tetapi ingin bermakna.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh suara, kita justru perlu kembali pada suara-suara yang tenang namun dalam. Suara seperti I Cella yang tidak banyak bicara, tetapi banyak berbuat. Yang tidak mengejar pengakuan, tetapi meninggalkan jejak.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling setia menjaga kehormatan dan nilai.
Dan di sanalah, dalam kesunyian yang penuh makna itu, I Cella Petta Makkunrai tetap hidup, sebagai api yang tidak pernah padam, dan cahaya yang menunggu untuk kembali dinyalakan.
#Wallahu A’lam Bishawab
Semoga Bermanfaat
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin
Alat AksesVisi