Gambar Kapan Perang Berakhir

Hari-hari ini kita disuguhi ulasan para pakar di media televisi tentang perang Iran vs usa-Israel  dan dampaknya. Salah satunya adalah melambungnya atau sulitnya akses BBM untuk kebutuhan masyarakat.

Pagi ini saya terpaksa ikut antrean panjang di sebuah SPBU. Sebuah aktivitas yang jarang saya alami di Sulawesi Selatan. Kendaraan mengular, bergerak perlahan, dan wajah-wajah di sekitar tampak lelah menunggu giliran. Saya memahami bahwa situasi ini wajar menjelang Idul Fitri, mobilitas meningkat, kebutuhan bahan bakar melonjak, dan aktivitas masyarakat berada di puncaknya.

Namun di tengah antrean itu, muncul sebuah bayangan yang lebih jauh. Bagaimana jika kondisi seperti ini bukan hanya karena momentum Lebaran, tetapi akibat dari krisis global yang lebih besar? Bagaimana jika konflik di Timur Tengah, antara Iran dan poros Amerika Serikat-Israel terus bereskalasi? Dan bagaimana jika Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, benar-benar ditutup?

Antrean panjang itu tiba-tiba terasa seperti gambaran kecil dari sebuah kemungkinan besar, dunia yang terguncang oleh perang.

Sejarah manusia tidak pernah benar-benar lepas dari perang. Dari masa ke masa, konflik selalu hadir dengan berbagai alasan seperti perebutan kekuasaan, ideologi, sumber daya, hingga klaim kebenaran. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan filosofis yang terus menggema, mengapa manusia terus berperang, meskipun tahu dampaknya begitu menghancurkan?

Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, manusia adalah makhluk yang bebas sekaligus bertanggung jawab atas pilihannya. Tokoh-tokoh seperti Jean-Paul Sartre menekankan bahwa manusia tidak memiliki esensi tetap selain yang ia pilih sendiri melalui tindakan-tindakannya. Artinya, perang bukanlah takdir yang tidak bisa dihindari, tetapi hasil dari pilihan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kolektif.

Namun di sinilah letak paradoksnya. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih perdamaian, tetapi sering kali justru memilih konflik. Dalam banyak kasus, perang lahir dari ketakutan, ambisi, dan keinginan untuk mendominasi. Kebebasan yang seharusnya digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik justru berubah menjadi alat untuk saling menghancurkan.

Eksistensialisme juga berbicara tentang absurditas kehidupan, tentang ketidaksesuaian antara harapan manusia akan makna dan realitas yang sering kali kacau. Perang adalah salah satu bentuk paling nyata dari absurditas itu. Di satu sisi, manusia menginginkan kedamaian, tetapi di sisi lain, ia terus menciptakan kondisi yang menjauhkan dirinya dari kedamaian.

Yang paling menyedihkan, dampak perang hampir selalu lebih besar dirasakan oleh mereka yang tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan.

Anak-anak kehilangan masa depan. Keluarga kehilangan tempat tinggal. Ekonomi runtuh. Akses terhadap kebutuhan dasar terganggu. Apa yang kita lihat dalam antrean BBM pagi ini mungkin hanya sebagian kecil dari dampak yang jauh lebih besar ketika konflik global benar-benar meluas.

Dalam konteks kemanusiaan, perang selalu meninggalkan mudharat yang sangat luas. Ia tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga merusak struktur sosial dan psikologis masyarakat. Trauma, ketakutan, dan kehilangan menjadi warisan yang sering bertahan jauh lebih lama daripada konflik itu sendiri.

Ironisnya, mereka yang paling menderita sering kali bukan mereka yang memulai perang. Pertanyaan “kapan perang berakhir?” mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Tetapi satu hal yang pasti: perang akan terus ada selama manusia tidak belajar mengelola kebebasannya dengan bijak.

Antrean panjang di SPBU pagi ini mungkin akan segera berakhir. Tetapi antrean panjang penderitaan akibat perang bisa berlangsung jauh lebih lama jika manusia tidak segera belajar dari sejarahnya.

Perang mungkin dimulai oleh segelintir orang, tetapi penderitaannya dirasakan oleh seluruh manusia. Maka damai bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan kemanusiaan. 

Sungguminasa 28 Ramadhan 1447 H