Beberapa hari terakhir, pemandangan di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar dan sekitarnya, terasa berbeda. Krisis BBM membuat masyarakat harus mengantre berjam-jam, bahkan siang dan malam, hanya untuk mendapatkan bahan bakar bagi kendaraan mereka. Antrean mengular panjang di sejumlah SPBU. Ada yang datang sejak pagi, ada yang bertahan hingga malam, bahkan ada yang rela menginap demi mendapatkan BBM ketika pasokan tiba.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan menjadi mendesak dan barang menjadi langka. Ketika sesuatu yang dibutuhkan banyak orang tiba-tiba sulit diperoleh, biasanya muncul satu godaan besar, memanfaatkan keadaan. BBM di luar SPBU resmi naik berlipat-lipat
Dalam sebuah kesempatan di Menara 165 ESQ, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar pernah menceritakan tentang masyarakat Jepang saat menghadapi bencana tsunami. Katanya, ada satu pelajaran kemanusiaan yang menarik dari Jepang ketika tsunami menghantam dan melumpuhkan kehidupan masyarakat. Di tengah situasi yang serba sulit, kebutuhan pokok menjadi barang yang sangat berharga. Banyak toko tutup, sebagian rusak, sementara masyarakat membutuhkan makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.
Dalam situasi seperti itu, secara ekonomi sebenarnya berlaku hukum sederhana: ketika barang langka dan permintaan meningkat, harga biasanya ikut naik.
Tetapi yang menarik, tidak semua orang memilih mengikuti logika tersebut. Sejumlah toko yang masih dapat beroperasi justru tetap menjual barang dengan harga normal. Bahkan, ada yang menurunkan harga. Padahal mereka tahu, masyarakat sedang sangat membutuhkan barang-barang tersebut. Mereka memiliki kesempatan untuk menaikkan harga berkali-kali lipat. Namun kesempatan itu tidak mereka gunakan untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya.
Ketika seorang pedagang ditanya mengapa tidak menaikkan harga, jawabannya sederhana, tetapi dalam maknanya luar biasa:
“Jangan membuat orang semakin menderita.”
Kalimat sederhana itu sebenarnya mengandung filsafat kehidupan yang sangat dalam. Pedagang tersebut tidak hanya melihat pembeli sebagai konsumen, tetapi sebagai manusia yang sedang mengalami kesulitan.
Ia bisa saja berpikir, “Ini kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.” Tetapi nuraninya berkata, “Ini kesempatan untuk membantu sesama.” Di sinilah kualitas kemanusiaan diuji.
Menjadi baik ketika keadaan normal tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah tetap menjadi manusia baik ketika kita memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.
Fenomena seperti ini seharusnya menjadi cermin bagi kita. Di tengah masyarakat kita, bukan hal yang asing ketika harga barang tertentu melonjak justru ketika masyarakat berada dalam kondisi terdesak. Ketika kebutuhan meningkat, sebagian orang melihatnya sebagai peluang bisnis. Prinsipnya sederhana, selama ada yang membutuhkan dan bersedia membayar, harga dinaikkan.
Dalam kehidupan, ada saatnya kita mencari keuntungan. Tetapi ada pula saatnya kita menahan keuntungan demi kemanusiaan. Ada kesempatan yang seharusnya tidak dimanfaatkan untuk memperkaya diri, melainkan digunakan untuk meringankan beban orang lain. Bencana seharusnya tidak melahirkan “bencana kedua” melalui keserakahan manusia.
Sesungguhnya, ukuran peradaban bukan hanya seberapa maju teknologi sebuah bangsa, tetapi seberapa manusiawi perilaku masyarakatnya ketika menghadapi kesulitan. Bencana menguji bangunan. Tetapi penderitaan menguji kemanusiaan.
Samata, 14 September 2026