Catatan Kehidupan ibarat lembaran putih. Pilihan yang tersedia, Tuhan memberikan kebebasan untuk mengisinya dengan perbuatan dan sikap, sesuai dengan pilihan kita sendiri. Bagaimana mengukir dan mengurai catatan-catatan dalam lembaran itu dalam bentuk kebajikan.
Kesempatan untuk melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi sesama tidak pernah tertutup. Apa pun pekerjaan atau profesi yang digeluti. Seburam apa pun jejak kehidupan yang telah kita tempuh, masih tersedia lembaran putih di hari esok untuk memperbaiki catatan kelam di masa lalu. Orang bijak berpesan “belajarlah pada hari kemarin, jalani hidup hari ini, dan beri harapan untuk hari esok”.
Kebajikan yang kita kerjakan tidak ada yang sia-sia, juga tidak merugikan pelakunya, serta tidak akan membawa rasa kesal di hati. Sekecil apa pun perbuatan baik, tidak ada yang luput dari catatan malaikat. Ketika melakukan suatu kebaikan kepada seseorang, kemudian orang tersebut justru menyikapi sebaliknya, ibarat ungkapan “air susu dibalas dengan air tuba”, kebaikan dibalas dengan keburukan. Jangan kecewa, itu berarti Tuhan tidak memilih orang tersebut menyalurkan kebaikan kepada kita, Tuhan akan memilih tangan-tangan lain untuk menyalurkan kebaikan pada saat kita butuhkan.
Dalam hal rezeki, Tuhan yang Maha Pemurah telah menyediakan seluruh kebutuhan manusia secara melimpah. Namun, bumi dan langit beserta isinya selalu saja dirasa kurang bagi mereka yang berjiwa tamak, rakus dan tidak mampu bersyukur. Aturan Tuhan sangat tepat dan tidak mungkin meleset.
Ada rezeki yang diperuntukkan bagi orang yang menjemput, ada rezeki bagi yang menunggu. Ada rezeki untuk mereka yang rajin, ada untuk mereka yang malas. Ada rezeki bagi mereka yang bersyukur, ada juga untuk mereka yang mengeluh. Kita tinggal menjalani dengan kerja keras, bersyukur kemudian berbagi kepada sesama. Orang bijak berkata: Jangan berharap awan berwarna jingga, jika mentari tidak terbenam di ufuk Barat. Jangan bermimpi meraih kesuksesan tanpa usaha dan kerja keras.
Semua yang diciptakan Tuhan dalam kehidupan ini berpasang-pasangan: Kesuksesan dan kegagalan, tawa dan tangis, bahagia dan sengsara, laki-laki dan perempuan, siang dan malam, tinggi dan rendah, panjang dan pendek, gemuk dan kurus, untung dan rugi, serta sederet yang lain dapat diurut antara satu dengan pasangan lainnya. Hanya saja manusia dalam hidup ini sering kali melupakan bahwa setiap keberhasilan yang diraihnya tidaklah berdiri sendiri tapi kesuksesan apa pun namanya senantiasa ada keterlibatan pihak lain.
Tidak ada orang yang bercita-cita untuk gagal, rugi, ataupun sengsara. Namun bila hal yang tidak diinginkan terjadi, manusia sering kali berkeluh-kesah hingga merasa bahwa Tuhan tidak lagi memberikan kasih sayang kepadanya. Sementara jika kesuksesan yang diperoleh, ia pun beranggapan bahwa hal itu berkat usaha dan kerja kerasnya.
Emha Ainun Nadjib menulis bahwa terkadang Tuhan meletakkan rahmat-Nya di tempat-tempat yang sama sekali tidak menarik bagi manusia. Terkadang Tuhan menyembunyikan anugerah-Nya dibalik momentum yang tak terduga oleh siapa pun. Terkadang Tuhan melakukan penyelamatan, memberi rezeki, serta menjanjikan rahasia-rahasia di belakang suatu kejadian yang seakan-akan bernama musibah atau kecelakaan.
Bersyukur dan keinginan berbagi dengan sesama adalah dua hal yang sering kali membawa berkah di luar perhitungan dan matematika manusia. Tidak ada pertimbangan untung-rugi, melainkan keinginan untuk berbagi kasih sebagaimana Tuhan menabur kasih-Nya kepada makhluk dengan tidak memilih, kasih sayang tanpa syarat. Berbahagialah mereka yang senantiasa menyambung tali kasih terhadap sesama, pesan Tuhan dalam hadis Qudsi “Semua makhluk adalah keluarga-Ku, yang paling Aku cintai adalah mereka yang selalu membahagiakan sesamanya”. Dengan begitu, maka jejak kehidupan akan selalu berakhir dengan cerita bahagia. (*)
Alat AksesVisi