Ada satu pertanyaan penting yang perlu kita jawab. Jika kita bisa menjadi orang yang dicintai dan dirindukan, mengapa malah memilih menjadi orang yang dibenci dan dihindari?
Banyak orang melihat dirinya sebagai sumber kebenaran sehingga apa pun yang dia lakukan selalu dianggap benar dan dibenarkan? Tidak ada mawas diri dan introspeksi. Termasuk saat melakukan ketidak-benaran.
Padahal kebenaran dan ketidak-benaran adalah dua hal yang sangat berbeda. Kebenaran itu sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah sementara ketidak-benaran itu berasal dari nafsu ammarah atau ego rendah yang mendorong kepada keburukan. Adalah hal yang sangat kritis jika tidak mampu membedakan kebenaran dan ketidak-benaran dalam diri Anda.
Kita dapat menjadi orang yang dicintai dan dirindukan jika hati dekat kepada Allah dengan iman, bermanfaat bagi orang lain dengan amal, serta mampu menjaga akhlakul karimah kepada sesama maupun makhluk lain dengan ihsan.
Orang yang dicintai dan dirindukan itu selalu menjadi penyejuk, solusi, rahmah dan manfaat bagi orang lain. Jika ia ada di satu tempat ia menjadi sumber kebaikan, ketenangan, dan keharmonisan. Orang-orang selalu bergembira dengan kehadirannya.
Sebaliknya perilaku yang membuat susah orang lain, zalim, mengambil yang bukan haknya, kehilangan akhlak bagi sesama dan lingkungan, itu adalah perbuatan tercela bahkan haram. Pelakunya selain berdosa kepada Allah juga akan banyak menciptakan musuh dan dijauhi orang di sekitarnya.
Umur makin berkurang, segala sesuatu akan ditinggalkan. Jadilah orang yang dicintai dan dirindukan, setiap saat, dimana pun berada. Dicintai Allah dan Rasulullah, serta disayangi dan dirindukan orang lain. Wallahu a'lam.
(MAA)