Jika ditanya, negara mana di dunia yang perempuannya secara persentase terbanyak bergelar doktor? Jawabannya adalah perempuan Iran. Namun propaganda Barat bertahun-tahun menarasikan bahwa kehidupan perempuan di Iran sangat memprihatikan, tidak bebas, dan memiliki keterbatasan akses.
Narasi lama tentang perempuan sebagai pihak yang lemah sering kali lahir bukan dari realitas, tetapi dari cara pandang yang sempit. Dalam konteks Iran, gambaran itu justru runtuh ketika realitas berbicara lebih keras daripada stereotip.
Selama bertahun-tahun, perempuan Iran kerap diposisikan sebagai simbol keterkungkungan. Dina Sulaiman pengamat geopolitik Timur Tengah yang pernah tinggal dan kuliah di Iran menyampaikan ini dalam forum podcast nya dengan Helmi Yahya. Menurutnya, media Barat membuat propaganda bahwa perempuan di Iran hanya menjadi objek dalam struktur sosial dan politik.
Akan tetapi, perang Iran vs US-ISAREL membuka mata dunia tentang sesuatu yang berbeda. Perempuan Iran tidak berada di pinggir sejarah, melainkan di pusatnya. Mereka bukan sekadar saksi, tetapi pelaku yang menentukan arah dan masa depan bangsanya.
Dalam Islam, kedudukan perempuan memang tidak dibangun di atas logika dominasi, tetapi pada prinsip tanggung jawab dan peran. Konsep izzah (martabat) dan amanah (tanggung jawab) dalam ajaran Islam menempatkan perempuan sebagai subjek moral yang utuh. Apa yang terjadi di Iran memperlihatkan bagaimana prinsip ini hidup dalam praktik. Perempuan tampil sebagai penjaga nilai, bukan sekadar penerima kebijakan.
Di tengah tekanan politik global dan konflik berkepanjangan, suara perempuan Iran justru muncul sebagai salah satu yang paling konsisten dan tegas. Ketika banyak pihak mulai melunak atau terjebak dalam kompromi pragmatis, mereka tetap bertahan pada garis yang mereka yakini. Ini bukan sekadar sikap emosional, tetapi bentuk kesadaran moral yang lahir dari pengalaman sejarah panjang, tentang perang, kehilangan, dan pengorbanan.
Ingatan kolektif tentang para syuhada tidak hanya menjadi kenangan, tetapi berfungsi sebagai kompas etis. Dalam filsafat moral, memori semacam ini membentuk apa yang disebut sebagai moral boundary, batas nilai yang tidak mudah dinegosiasikan. Bagi banyak perempuan Iran, batas ini jelas: kedaulatan, martabat, dan keadilan tidak boleh ditukar dengan stabilitas semu.
Di titik ini, mereka memainkan peran yang jauh melampaui ranah domestik. Mereka menjadi benteng pertahanan non-militer dan penjaga kesadaran nasional. Dalam banyak situasi krisis, justru kelompok inilah yang menjaga agar masyarakat tidak kehilangan arah. Ketika propaganda, tekanan ekonomi, dan ancaman militer datang silih berganti, perempuan berperan sebagai penjaga narasi bahwa perjuangan ini bukan sekadar konflik politik, tetapi soal mempertahankan harga diri bangsa.
Menariknya, sikap ini juga menunjukkan bahwa perempuan tidak selalu melihat “penyelamatan” dari luar sebagai solusi. Mereka justru kritis terhadap narasi global yang sering mengatasnamakan kemanusiaan, tetapi di baliknya tersimpan kepentingan geopolitik. Dalam konteks konflik dengan Amerika Serikat, misalnya, banyak perempuan Iran secara terbuka mempertanyakan intervensi yang diklaim sebagai upaya stabilisasi, tetapi justru memperpanjang ketegangan. Figur seperti Donald Trump kerap disebut dalam kritik ini sebagai representasi kebijakan yang memperkeruh situasi.
Dari sudut pandang ini, perempuan tidak lagi dapat dipahami sebagai pihak yang pasif. Mereka adalah agen yang aktif menafsirkan realitas, menilai kebenaran, dan mengambil posisi. Dalam tradisi Islam sendiri, sejarah mencatat banyak perempuan yang memainkan peran strategis dalam menjaga komunitas, baik dalam konteks sosial, politik, maupun moral. Apa yang terjadi di Iran hari ini dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi tersebut dalam konteks modern.
Lebih jauh, fenomena ini juga membantah asumsi bahwa kekuatan hanya identik dengan kekerasan atau kekuasaan formal. Kekuatan perempuan Iran justru terletak pada keteguhan sikap, konsistensi nilai, dan keberanian untuk menolak tunduk. Mereka mungkin tidak memegang senjata, tetapi mereka menjaga sesuatu yang lebih mendasar yaitu arah moral sebuah bangsa.
Dengan demikian, berbicara tentang perempuan dalam Islam tidak cukup jika hanya dilihat dari aspek formal atau simbolik. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam memberi ruang bagi perempuan untuk menjadi aktor yang menentukan.
Ini bukan lagi cerita tentang keterbatasan perempuan, melainkan tentang bagaimana mereka berdiri sebagai penjaga martabat, menolak tunduk pada tekanan, dan memastikan bahwa sebuah bangsa tidak kehilangan jiwanya.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin di depan, tetapi juga oleh siapa yang menjaga dari dalam dan dalam banyak hal, perempuanlah benteng terakhir itu.
Samata 27 April 2026
Alat AksesVisi