Dalam Islam, kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi bagian dari ibadah. Seorang Muslim tidak hanya diminta menjadi orang saleh di masjid, tetapi juga produktif di pasar, kantor, sawah, dan ruang-ruang kehidupan. Karena itu, Islam melahirkan etos kerja dinamis — semangat bekerja yang aktif, kreatif, bertanggung jawab, dan bernilai spiritual.
Al-Qur’an mengingatkan kita semua:“Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah.”(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Ayat ini menarik ditelaah, perintahnya adalah setelah melaksanakan ibadah ritual, seorang Muslim dianjurkan untuk tidak berdiam diri, tetapi bergerak. Artinya, Islam tidak mendidik ummatnya untuk menjadi pasif menjadi pasif. Al- Qur’an mengajak kaum Muslimin agar menjadi hamba yang senantiasa berdzikir sekaligus berkarya.
Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata “amal” dalam Al-Qur’an hampir selalu disandingkan dengan iman. Artinya, keimanan yang tidak melahirkan karya adalah iman yang belum hidup. Sementara itu, pemikir Muslim kontemporer Syed Naquib al-Attas menyebut kerja dalam Islam bukan sekadar “mencari nafkah”, tetapi aktualisasi amanah kekhalifahan. Manusia diciptakan sebagai khalifah (pengelola bumi), sehingga bekerja adalah bagian dari memakmurkan dunia, bukan hanya memenuhi kebutuhan perut.
Secara psikologis, etos kerja Islam juga sangat modern, mendorong disiplin waktu, menghargai kualitas, melarang penipuan, serta menekankan pentingnya tanggung jawab moralmenekankan tanggung jawab moral.Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakannya (profesional).”(HR. al-Baihaqi).
Imam al-Ghazali menyatakan mencari nafkah halal hukumnya, bahkan bisa menjadi fardhu ‘ain, ketika seseorang memiliki tanggungan keluarga. Artinya, bekerja bukan hanya boleh tetapi bisa wajib. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi yang jujur lebih utama daripada ibadah sunnah yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri. Sebab, kerja memberi dampak sosial.
Ulama Nusantara KH. Hasyim Asy’ari juga menekankan ”Bahwasanya kemalasan bukan sifat zuhud. Orang yang meninggalkan usaha dengan alasan tawakal sebenarnya belum memahami tawakal. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah ikhtiar maksimal dilakukan”. Rasulullah ﷺ sendiri adalah seorang pedagang. Para sahabat banyak yang pengusaha: Abu Bakar saudagar kain, Utsman bin Affan importir gandum, Abdurrahman bin Auf pebisnis sukses. Mereka tidak merasa kekayaan mengurangi kesalehan justru menjadi sarana bersedekah dan membantu sesama.
Ada kisah terkenal tentang seorang sufi besar, Ibrahim bin Adham. Suatu hari ia melihat seorang lelaki duduk di masjid dari pagi sampai sore. Ibrahim bertanya:“Kenapa engkau tidak bekerja?”.
Orang tersebut menjawab:“Aku bertawakal kepada Allah. Rezekiku pasti datang.”
Ibrahim bin Adham tersenyum lalu berkata:“Engkau bertawakal kepada roti orang lain, bukan kepada Allah. Burung saja keluar dari sarangnya pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Lelaki itu terdiam. Kisah ini sangat penting. Dalam tradisi sufi, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak diperbudak dunia. Seorang sufi tetap bekerja, tetapi hatinya tidak bergantung pada harta.
Ada kisah jenaka lain tentang seorang murid yang ingin menjadi wali. Ia datang kepada gurunya dan berkata:“Guru, saya ingin dekat dengan Allah. Apa yang harus saya lakukan?”
Sang guru menjawab singkat:“Pertama, carilah pekerjaan terlebih dahulu. Perut kosong terlalu sering membuat orang mengira dirinya wali.”
Produktifitas dan kreatifitas dalam Islam, setidaknya terdiri atas; Niat (Spiritual)Bekerja diniatkan sebagai ibadah, bekerja untuk mendapatkan pahala, Ihsan (Kualitas)Bekerja secara profesional, arahnya pekerjaan menjadi amal saleh. Amanah (Moral)Jujur dan adil, arahnya pekerjaan menjadi berkah.
Islam menolak dua sikap; materialisme (hidup hanya mengejar uang), fatalisme (pasrah tanpa usaha). Islam memilih jalan tengah: aktif bekerja, tetapi hati tetap kepada Allah.
Kreatifitas dalam Islam pada dasarnya adalah harmoni antara langit dan bumi. Tangan bekerja, hati berzikir. Kaki berjalan di pasar, tetapi jiwa tetap di hadapan Tuhan. Seorang Muslim idea lbukan hanya ahli ibadah, tetapi juga pembangun peradaban. Ia sadar; shalat menghubungkannya dengan Allah, tetapi kerja menghubungkannya dengan kemanusiaan.
Dan mungkin karena itulah para ulama sering mengatakan; “Kemuliaan seorang mukmin tidak hanya terlihat di sajadahnya, tetapi juga pada tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya.”
AllahA’lam
Makassar, 26 Februari 2026Materi Ceramah Tarwih malam ke 9 di Masjid al Markaz al Islamy
Alat AksesVisi