Di sebuah desa sunyi di pinggir sungai yang airnya mengalir pelan, hiduplah seorang tua bernama Salim. Ia bukan ulama besar, bukan pula orang kaya. Namun setiap hari, selepas Subuh, ia berjalan membawa cangkul kecil dan sekantong benih pohon. Ia menanamnya di sepanjang jalan desa—di tanah tandus, di pinggir sungai, bahkan di lereng yang rawan longsor.
Suatu hari, seorang pemuda bertanya dengan nada heran,
“Wahai Salim, engkau sudah tua. Pohon-pohon itu butuh waktu puluhan tahun untuk berbuah. Apa engkau berharap memakannya nanti?”. Salim tersenyum,matanya bening seperti airs ungai. “Anakku,” katanya pelan, “aku memakan buah dari pohon yang tidak pernah kutanam. Maka, aku menanam pohon yang mungkin tak akan kumakan buahnya.”Pemuda itu terdiam.
Malamnya, dalam keheningan, pemuda itu merenung. Ia teringat kata-kata para ulama bahwa amal terbaik bukan hanya yang terasa hari ini, tetapi yang terus mengalir manfaatnya setelah kita tiada.
Dalam tradisi Islam, konsep ini dikenal sebagai amal jariyah—kebaikan yang tak terputus oleh kematian. Sebagaimana disampaikan oleh para ulama klasik, manusia sejati adalah ia yang hidupnya melampaui umurnya sendiri.
Kisah Salim mengingatkan pada ajaran para sufi tentang “melampaui diri”. Dalam pandangan tasawuf, manusia yang matang bukan lagi berbuat untuk dirinya, tetapi untuk keberlangsungan kehidupan. Ia seperti pohon: diam, namun memberi; tak terlihat jasanya, namun dirasakan manfaatnya. Seorang ulama besar pernah berkata, “Jika engkau ingin mengetahui nilai amalmu, lihatlah sejauh mana ia bermanfaat bagi orang lain, bahkan ketika engkau sudah tidak ada.” Kebaikan yang hanya berhenti pada diri sendiri adalah kecil; kebaikan yang menembus waktu adalah agung.
Dalam perspektif pakar modern, gagasan ini sejalan dengan konsep intergenerational responsibility—tanggung jawab antar generasi. Para pemikir sosial menegaskan bahwa setiap generasi memegang amanah: bukan hanya menikmati dunia, tetapi merawatnya agar lebih baik bagi generasi berikutnya. Lingkungan, pendidikan, nilai moral—semuanya adalah warisan, bukan sekadar milik sementara. Salim mungkin tak pernah membaca buku-buku itu. Tapi ia memahami hikmah yang sama melalui hati.
Beberapa tahun berlalu. Salim wafat dalam kesederhanaan. Namun pohon-pohon yang ia tanam mulai tumbuh besar. Anak-anak desa bermain di bawah rindangnya. Para musafir berteduh dari terik matahari. Akar-akarnya menahan tanah dari longsor. Burung-burung bersarang dan bernyanyi setiap pagi.
Desa itu berubah—bukan karena satu kebijakan besar, tetapi karena tangan renta yang menanam dengan ikhlas. Pemuda yang dulu bertanya kini telah dewasa. Ia melanjutkan apa yang Salim mulai. Bukan hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan—mengajarkan anak-anak membaca, menjaga sungai, dan berbagi kepada sesama. Ia akhirnya mengerti: bahwa hidup bukan soal seberapa lama kita ada, tetapi seberapa jauh kebaikan kita bertahan.
Allah A’lamMakassar, 14- 04- 2026
Alat AksesVisi