Start typing & press "Enter" or "ESC" to close
Home
Profil
Pimpinan
Sejarah
Lambang
BLU
Visi Misi & Tujuan
Struktur Organisasi
Fasilitas Kampus
Peta Kampus
Fakultas
Syariah & Hukum
Ekonomi & Bisnis Islam
Tarbiyah & Keguruan
Ushuluddin & Filsafat
Dakwah & Komunikasi
Adab & Humaniora
Sains & Teknologi
Kedokteran & Ilmu Kesehatan
Program Pascasarjana
Lembaga
LEMBAGA
Penjaminan Mutu
Penelitian & Pengabdian Masyarakat
UPT
Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
Perpustakaan
Pusat Bahasa
Pusat Pengembangan Bisnis (P2B)
Satuan Pengawas Internal (SPI)
International Office (IO)
Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID)
Character Building Program (CBP)
Carier Development Center (CDC)
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)
Unit Pengelola Zakat (UPZ)
Poliklinik Asy-Syifaa
Biro
Biro AUPK
Kepegawaian
Perencanaan
Keuangan
Biro AAKK
Akademik
Umum
Kemahasiswaan
Kerjasama
Sistem Informasi
Portal Mahasiswa Dan Dosen
Portal Alumni Dan Karir
Portal Kepegawaian/SDM
E-Kinerja
Pustipad Helpdesk
Sister
Kuliah di UIN
Penerimaan Mahasiswa Baru
Unit Kegiatan Mahasiswa
Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Agenda
🌐 ID
🇮🇩 Indonesia
🇬🇧 English
🇸🇦 Arabic
Implementasi Praktis PAP berbasis OBE dalam Pembelajaran Mahasiswa
02 Juni 2026
Dr. H. Muhammad Ilyas Ismail, M.Pd., M.Si
Dunia pendidikan tinggi saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma yang fundamental, bergerak dari pemenuhan konten (input) menuju pembuktian kemampuan nyata (output) melalui performa mahasiswa. Di tengah arus transformasi ini, akuntabilitas capaian kompetensi menjadi tuntutan mutlak yang tidak bisa ditawar oleh institusi perguruan tinggi.
Penilaian Acuan Patokan (PAP) hadir sebagai instrumen navigasi standar absolut yang krusial untuk memastikan bahwa setiap mahasiswa dievaluasi berdasarkan kriteria objektif yang telah ditetapkan sebelumnya, bukan berdasarkan peringkat relatif di dalam kelas.
Dengan menetapkan Standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau target penguasaan kompetensi yang transparan, Penilaian Acuan Patokan (PAP) menjamin bahwa gelar dan kelulusan seorang sarjana benar-benar merepresentasikan kapabilitas riil yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan standar profesional.
Namun, implementasi PAP dalam ruang kuliah seringkali menghadapi tantangan pragmatis, mulai dari perumusan rubrik yang kurang presisi hingga kecenderungan dosen yang terjebak pada kenyamanan penilaian normatif.
Kajian ini akan membedah secara mendalam bagaimana standardisasi berbasis Penilaian Acuan Patokan (PAP) dapat dioperasionalisasikan secara taktis dalam kurikulum berbasis capaian pembelajaran (Outcome-Based Education).
Melalui pendekatan yang sistematis, tulisan ini menguraikan langkah-langkah strategis bagi para dosen dan desainer kurikulum untuk menegakkan akuntabilitas akademik secara presisi. Navigasi standar absolut ini bukan sekadar alat ukur administratif, melainkan sebuah komitmen moral untuk melahirkan lulusan yang kompeten, berdaya saing, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, terangkanlah hati dan pikiran kami dengan cahaya ilmu-Mu Ya Allah. Bimbinglah kami dalam memahami prinsip-prinsip keadilan dan ketepatan dalam mengevaluasi proses belajar, agar setiap ikhtiar pendidikan yang kami tunaikan mampu melahirkan generasi yang unggul, berintegritas, dan membawa maslahat bagi sesama. Aamiin.
Berikut adalah kajian akademik yang komprehensif, argumentatif, dan terstruktur sesuai dengan seluruh instruksi yang tersirat dari judul di atas dengan rincian kajian ada 3 sub judul, dan setiap sub judul diberi kajian operasional secara mendalam masing-masing 3 sub- sub judul.
A. Fondasi dan Filosofi Keadilan PAP
Sebelum menyelami aplikasi teknis di dalam kelas, penting bagi para pendidik untuk memahami secara utuh landasan filosofis yang mengokohkan Penilaian Acuan Patokan (PAP) sebagai pilar keadilan evaluasi.
Kajian pada bagian ini akan mengupas tuntas mengapa standar absolut menjadi syarat mutlak dalam melahirkan akuntabilitas akademik yang sejati. Melalui penelusuran dari akar konseptual hingga manifestasi etikanya, kita akan melihat bagaimana Penilaian Acuan Patokan (PAP) menempatkan mahasiswa sebagai subjek yang berhak mendapatkan penilaian yang jujur dan objektif.
1. Dekonstruksi Paradigma Standar Absolut versus Relatif
Penilaian Acuan Patokan (PAP) secara filosofis bertumpu pada keyakinan bahwa keberhasilan belajar harus diukur berdasarkan penguasaan objektif terhadap materi, bukan berdasarkan perbandingan antar-mahasiswa.
Dalam model Penilaian Acuan Norma (PAN), nilai seorang mahasiswa sangat bergantung pada performa rekan-rekan sekelasnya, yang berpotensi melahirkan kompetensi semu dan ketidakadilan sistemik.
Sebaliknya, Penilaian Acuan Patokan (PAP) menetapkan standar absolut di awal pembelajaran, sehingga setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai nilai tertinggi asalkan mereka mampu memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Argumentasi ini menegaskan bahwa dalam pendidikan tinggi profesional, kita tidak bisa menoleransi "kompetensi relatif" yang bias. Sebagai contoh, seorang calon dokter atau insinyur tidak boleh dinyatakan lulus hanya karena ia "sedikit lebih pintar" dari teman-temannya yang berada di bawah rata-rata.
Mereka wajib menguasai keterampilan standar secara mutlak demi keselamatan publik. Oleh karena itu, dekonstruksi paradigma ini menuntut dosen untuk berani meninggalkan kenyamanan kurva normal (PAN) dan beralih penuh pada ketegasan kriteria absolut atau Penilaian Acuan Patokan (PAP).
Sistem penilaian yang adil adalah sistem yang memberikan kejelasan target sejak hari pertama perkuliahan dimulai. Ketika mahasiswa mengetahui dengan pasti standar baku yang harus dicapai, kecemasan akademis yang tidak perlu dapat direduksi secara signifikan.
Penilaian Acuan Patokan (PAP) mengubah iklim kelas dari kompetisi yang saling menjatuhkan menjadi kolaborasi berbasis pencapaian kompetensi individu yang sehat.
2. Etika Evaluasi: Menjamin Hak Hakiki Capaian Belajar Mahasiswa
Penilaian pada hakikatnya bukan sekadar instrumen birokratis untuk mengisi transkrip nilai, melainkan sebuah tindakan etis yang berdampak pada masa depan mahasiswa.
Menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) berarti menghormati hak hakiki mahasiswa untuk dievaluasi secara adil tanpa intervensi subjektivitas yang merugikan.
Setiap mahasiswa yang telah mengorbankan waktu dan energinya berhak mendapatkan pengakuan yang akurat atas setiap kompetensi yang berhasil mereka kuasai.
Ketidakjelasan indikator penilaian seringkali menjadi celah terjadinya bias personal dosen dalam memberikan nilai. Dengan menetapkan patokan absolut yang transparan, Penilaian Acuan Patokan (PAP) meminimalisasi ruang bagi favoritisme dan diskriminasi di lingkungan akademik. Hal ini memperkuat integritas moral institusi pendidikan sebagai lembaga yang menjunjung tinggi kebenaran ilmiah dan keadilan sosial.
Secara argumentatif, menegakkan etika evaluasi melalui Penilaian Acuan Patokan (PAP) juga melatih mahasiswa untuk memiliki akuntabilitas pribadi (personal accountability).
Mereka disadarkan bahwa hasil yang mereka peroleh adalah cerminan langsung dari usaha dan kapasitas mereka dalam melampaui standar yang ada. Etika inilah yang menjadi fondasi karakter profesional yang akan mereka bawa hingga ke dunia kerja kelak.
3. Akuntabilitas Institusional dalam Penjaminan Mutu Lulusan
Perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral dan hukum kepada masyarakat, orang tua, dan dunia industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten. Penilaian Acuan Patokan (PAP) berfungsi sebagai mekanisme kendali mutu (quality control) yang memastikan bahwa ijazah yang dikeluarkan memiliki daya tawar dan legitimasi yang kuat.
Ketika institusi menerapkan standar absolut secara konsisten, maka nilai "A" atau "B" yang tercantum pada transkrip memiliki makna kompetensi yang standardis secara nasional maupun internasional.
Jika perguruan tinggi melonggarkan standar demi mendongkrak angka kelulusan secara artifisial, maka institusi tersebut sedang melakukan pembohongan publik yang sistematis.
Penilaian Acuan Patokan (PAP) mencegah terjadinya inflasi nilai yang dapat merusak reputasi akademik universitas. Keberhasilan institusi tidak diukur dari seberapa banyak mahasiswa yang lulus, melainkan dari seberapa tinggi kesesuaian antara kemampuan lulusan dengan standar profesi yang berlaku.
Dengan demikian, penerapan Penilaian Acuan Patokan (PAP) yang presisi menjadi indikator utama dari akuntabilitas institusional. Perguruan tinggi yang akuntabel mampu mempertanggungjawabkan setiap nilai yang diberikan kepada pemangku kepentingan (stakeholders). Hal ini memposisikan universitas sebagai mitra tepercaya dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.
Ya Allah Yang Maha Adil dan Maha Menyaksikan, tancapkanlah sifat jujur dan adil dalam sanubari kami saat mengemban amanah sebagai penilai. Lindungilah kami dari sikap condong pada kebatilan, agar setiap keputusan evaluasi yang kami ambil senantiasa didasarkan pada kebenaran dan mampu menegakkan keadilan bagi hak-hak akademis mahasiswa kami. Aamiin.
B. Operasionalisasi Rubrik Analitis Berbasis OBE
Memahami filosofi Penilaian Acuan Patokan (PAP) tentu tidak akan berdampak jika tidak diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis di ruang kelas. Bagian kedua ini akan menguraikan secara teknis dan taktis mengenai operasionalisasi instrumen Penilaian Acuan Patokan (PAP) dalam ekosistem Outcome-Based Education (OBE).
Kajian ini akan membedah bagaimana menyusun rubrik analitis yang tajam, merumuskan indikator performa yang terukur, dan mengintegrasikannya secara harmonis ke dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
1. Sinkronisasi CPL, CPMK, dan Taksonomi Bloom dalam PAP
Langkah awal operasionalisasi Penilaian Acuan Patokan (PAP) yang presisi dimulai dari penataan hierarki capaian pembelajaran yang sinkron dan konsisten. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang dibebankan pada mata kuliah harus diturunkan secara logis menjadi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan Sub-CPMK.
Setiap tingkatan capaian ini wajib diselaraskan dengan kata kerja operasional (KKO) yang tepat berdasarkan Taksonomi Bloom (baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik) sebagai dasar penentuan patokan absolut.
Ketidakselarasan antara apa yang ditargetkan dengan apa yang diuji seringkali menjadi titik lemah evaluasi di perguruan tinggi. Jika CPMK menuntut mahasiswa berada pada level "menganalisis" (C4), maka patokan penilaian dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) tidak boleh hanya menguji kemampuan "mengingat" (C1) melalui soal pilihan ganda yang bersifat hafalan.
Penilaian Acuan Patokan (PAP) menuntut konsistensi mutlak: standar absolut yang diuji harus setara dengan derajat kompetensi yang dijanjikan dalam kurikulum. Melalui sinkronisasi yang ketat ini, dosen dapat merancang instrumen penilaian yang memiliki validitas isi (content validity) yang tinggi.
Mahasiswa pun mendapatkan kejelasan arah pembelajaran, karena setiap tugas dan ujian yang mereka hadapi berkorelasi langsung dengan kompetensi akhir yang harus mereka kuasai untuk lulus dari mata kuliah tersebut.
2. Konstruksi Rubrik Analitis: Mengubah Deskriptor Kualitatif Menjadi Kuantitatif
Rubrik analitis adalah jantung dari keberhasilan implementasi Penilaian Acuan Patokan (PAP) dalam pembelajaran praktis. Rubrik yang efektif harus memuat kriteria penilaian yang jelas, skala performa yang tergradasi, dan deskriptor yang spesifik untuk setiap level pencapaian.
Tugas utama dosen adalah mengubah ekspektasi kualitatif yang abstrak (seperti "sangat baik", "cukup", "kurang") menjadi deskriptor kuantitatif dan perilaku yang dapat diamati secara objektif.
Sebagai contoh, dalam menilai kemampuan presentasi ilmiah, deskriptor untuk skor tertinggi harus merinci perilaku spesifik: "menyampaikan argumen dengan runut, menggunakan data empiris terpercaya, dan merespons pertanyaan dengan basis teori yang tepat."
Sebaliknya, skor rendah diberikan jika deskriptor menunjukkan kegagalan dalam elemen-elemen tersebut. Pengonstruksian deskriptor yang detail ini mengeliminasi perdebatan dan ambiguitas saat proses penilaian berlangsung.
Secara argumentatif, rubrik analitis yang transparan juga berfungsi sebagai alat pembelajaran mandiri (self-assessment) bagi mahasiswa. Sebelum mengumpulkan tugas, mahasiswa dapat mengukur sendiri kualitas karya mereka berdasarkan rubrik yang tersedia. Hal ini mendorong kemandirian belajar dan meningkatkan kualitas produk akademis yang dihasilkan oleh mahasiswa secara signifikan.
3. Kalibrasi Skor dan Batas Kelulusan Absolut (Standard Setting)
Tantangan paling krusial dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah menentukan di mana batas absolut (skor batas lulus atau cut-off score) harus diletakkan. Penentuan batas ini tidak boleh dilakukan secara serampangan atau sekadar mengikuti tradisi nilai minimal (misal, nilai 60 sama dengan C). Proses penetapan standar (standard setting) harus dilakukan melalui kajian akademis yang mempertimbangkan tingkat kesulitan materi dan esensialitas kompetensi bagi profil lulusan.
Dosen dapat menggunakan metode kalibrasi ilmiah seperti Metode Angoff atau Metode Bookmarking untuk menetapkan batas kelulusan absolut ini secara rasional. Melalui diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion) sesama dosen pengampu rumpun keilmuan, estimasi kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh "mahasiswa yang kompeten marginal" dapat dirumuskan.
Langkah kalibrasi ini penting untuk memastikan bahwa patokan absolut yang digunakan tidak terlalu rendah sehingga mengorbankan mutu, namun juga tidak terlalu tinggi hingga mustahil dicapai.
Ketika kalibrasi skor ini berhasil ditegakkan, maka fluktuasi kualitas input mahasiswa dari tahun ke tahun tidak akan memengaruhi standar mutu lulusan.
Jika input mahasiswa pada suatu semester kurang siap, Penilaian Acuan Patokan (PAP) akan mendeteksi hal tersebut melalui banyaknya mahasiswa yang memerlukan remedi, menandakan perlunya intervensi pedagogis tambahan, bukan malah menurunkan standar penilaian demi kelulusan massal.
Ya Allah Yang Maha Menata lagi Maha Teliti, anugerahkanlah kepada kami ketajaman berpikir dan kecermatan dalam menyusun setiap instrumen evaluasi. Jadikanlah setiap rubrik dan standar yang kami rakit sebagai jalan yang terang bagi mahasiswa kami untuk mengenali potensi dirinya dan meraih kompetensi terbaik yang Engkau ridai. Aamiin.
C. Dampak Implementasi PAP terhadap Dinamika Pembelajaran
Penerapan Penilaian Acuan Patokan (PAP) yang presisi pada akhirnya membawa dampak transformatif yang luas terhadap iklim akademik di dalam kelas. Sub judul ketiga ini mengeksplorasi metamorfosis pedagogis yang terjadi ketika standar absolut diintegrasikan secara konsisten.
Kita akan mengkaji pergeseran orientasi belajar mahasiswa, optimalisasi fungsi umpan balik, hingga pemanfaatan data Penilaian Acuan Patokan (PAP) sebagai kompas untuk melakukan perbaikan kurikulum yang berkelanjutan (continuous improvement).
1. Dari Berburu Nilai (Grade-Oriented) Menuju Penguasaan Kompetensi (Mastery Learning)
Kelemahan terbesar dari sistem penilaian konvensional yang kompetitif adalah lahirnya mentalitas "pemburu nilai" di kalangan mahasiswa, di mana orientasi utama mereka adalah mengalahkan nilai teman sekelas demi IPK tinggi.
Kehadiran Penilaian Acuan Patokan (PAP) meruntuhkan struktur kompetisi destruktif tersebut dan menggantinya dengan paradigma mastery learning (belajar tuntas). Karena patokannya bersifat absolut, keberhasilan seorang mahasiswa tidak mengurangi peluang mahasiswa lain untuk sukses, sehingga tercipta iklim belajar yang suportif dan kolaboratif.
Metamorfosis ini mengubah psikologi belajar mahasiswa secara mendalam. Mahasiswa tidak lagi fokus pada taktik-taktik pragmatis untuk sekadar lulus ujian, melainkan fokus pada pemahaman substansi materi agar dapat melampaui batas kompetensi yang dipersyaratkan. Proses belajar menjadi lebih bermakna karena tujuan yang ingin dicapai bersifat internal (penguasaan diri) bukan eksternal (mengungguli orang lain).
Secara argumentatif, pergeseran orientasi ini sangat krusial dalam membangun budaya akademik yang sehat di perguruan tinggi. Ketika mahasiswa menyadari bahwa musuh terbesar mereka bukanlah teman sebangku melainkan standar kompetensi yang belum mereka kuasai, mereka akan mengembangkan resiliensi dan motivasi intrinsik yang kuat. Inilah esensi dari pendidikan tinggi yang memerdekakan sekaligus mendewasakan.
2. Optimalisasi Umpan Balik (Feedback) Konstruktif dan Siklus Remedial yang Presisi
Salah satu keunggulan mekanistik PAP adalah kemampuannya memberikan diagnosis yang sangat spesifik mengenai kelemahan belajar mahasiswa. Karena nilai dikaitkan langsung dengan deskriptor rubrik yang spesifik, dosen dapat memberikan umpan balik (feedback) yang konstruktif dan tepat sasaran.
Mahasiswa tidak lagi menerima nilai berupa angka mati (seperti dapat nilai 70 tanpa tahu salahnya di mana), melainkan menerima rincian sub-kompetensi mana yang belum tuntas.
Informasi diagnostik ini menjadi dasar pelaksanaan siklus remedial yang presisi dan berkeadilan.
Dalam sistem Penilaian Acuan Patokan (PAP), remedial bukanlah sekadar ujian ulang untuk mengatrol nilai, melainkan sebuah intervensi pembelajaran terfokus pada bagian kompetensi yang belum dikuasai oleh mahasiswa. Proses ini memastikan bahwa tidak ada lubang pemahaman (learning gaps) yang tertinggal sebelum mahasiswa melanjutkan ke materi yang lebih kompleks.
Dengan optimalisasi umpan balik ini, proses penilaian benar-benar menyatu dengan proses pembelajaran (assessment as learning dan assessment for learning). Penilaian tidak lagi dipandang sebagai akhir dari proses belajar yang menakutkan, melainkan sebagai kompas yang memandu mahasiswa langkah demi langkah menuju penguasaan kompetensi yang sempurna.
3. Evaluasi Kurikulum Berkelanjutan Berbasis Data Capaian PAP (Continuous Improvement)
Manfaat implementasi Penilaian Acuan Patokan (PAP) tidak hanya berhenti pada level mahasiswa secara individu, melainkan meluas hingga level makro pengembangan kurikulum prodi. Data agregat hasil pencapaian Penilaian Acuan Patokan (PAP) mahasiswa menyediakan potret yang akurat mengenai efektivitas sistem pembelajaran yang diterapkan oleh dosen.
Jika mayoritas mahasiswa gagal mencapai standar absolut pada kompetensi tertentu, hal tersebut menjadi sinyal kuat adanya masalah dalam strategi instruksional atau ketersediaan fasilitas belajar.
Data objektif ini menjadi modal berharga bagi program studi untuk melakukan perbaikan kurikulum secara berkelanjutan (continuous quality improvement). Dosen dan pengelola program studi dapat duduk bersama untuk mengevaluasi apakah metode pengajaran, beban materi, atau alokasi waktu yang disediakan perlu dikalibrasi ulang.
Keputusan akademis tidak lagi diambil berdasarkan intuisi atau asumsi subjektif, melainkan berbasis pada bukti empiris (evidence-based decision making) capaian Penilaian Acuan Patokan (PAP).
Pada akhirnya, siklus perbaikan yang digerakkan oleh data PAP ini akan melahirkan sebuah ekosistem pendidikan tinggi yang dinamis dan adaptif. Perguruan tinggi akan terus tertantang untuk meningkatkan mutu pembelajarannya agar persentase mahasiswa yang mencapai standar absolut terus meningkat dari tahun ke tahun, sekaligus memastikan akuntabilitas capaian kompetensi tetap terjaga di level tertinggi.
Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah motivasi kami dan mahasiswa kami untuk senantiasa mencari ilmu dengan niat yang tulus demi kemaslahatan umat. Jadikanlah setiap ruang kelas kami sebagai medan metamorfosis yang melahirkan insan-insins cerdas, bertaqwa, dan berkarakter mulia yang siap membawa perubahan positif bagi peradaban. Aamiin.
Penutup
Penilaian Acuan Patokan (PAP) bukan sekadar sebuah teknik penskoran dalam dunia evaluasi pendidikan, melainkan sebuah instrumen strategis yang menegakkan akuntabilitas, keadilan, dan mutu esensial dari capaian kompetensi mahasiswa. Melalui penepatan standar absolut yang selaras dengan paradigma Outcome-Based Education (OBE), Penilaian Acuan Patokan (PAP) berhasil menggeser fokus pembelajaran dari formalitas administratif menuju penguasaan kompetensi riil yang substantif.
Operasionalisasi Penilaian Acuan Patokan (PAP) yang presisi mulai dari sinkronisasi kurikulum, penyusunan rubrik analitis yang tajam, hingga pemanfaatan umpan balik diagnostik terbukti mampu mentransformasi dinamika pedagogis di perguruan tinggi menjadi lebih sehat, kolaboratif, dan bermutu.
Menakhodai pembelajaran dengan kompas standar absolut Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah langkah nyata institusi pendidikan tinggi dalam menunaikan janji akademisnya kepada masyarakat: melahirkan lulusan sarjana yang tidak hanya bergelar secara formal, tetapi benar-benar kapabel, akuntabel, dan siap berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Ya Allah, Tuhan pemilik segala kemuliaan dan kesempurnaan, kami mengucap syukur atas segala limpahan ilmu dan petunjuk yang telah Engkau anugerahkan dalam menyelesaikan kajian ini.
Jadikanlah lembaran pemikiran ini sebagai amal jariyah yang bermanfaat bagi perbaikan mutu pendidikan, serta bimbinglah seluruh pendidik dan mahasiswa di negeri ini agar senantiasa berjalan di atas khitah kebenaran, keadilan, dan profesionalisme.
Tutuplah lembaran ikhtiar kami ini dengan ampunan-Mu Ya Allah, dan kumpulkanlah kami kelak bersama golongan orang-orang yang berilmu dan beramal saleh. Walhamdulillahi rabbil 'alamin. Aamiin.
Lewati ke konten
Buka bilah alat
Alat AksesVisi
Fokus Lebih Jelas
Perbesar Teks
Perkecil Teks
Spasi Teks
Grayscale
Kontras Tinggi
Kontras Negatif
Latar Terang
Nonaktifkan Animasi
Tautan Garisbawah
Mudah Dibaca
Reset