Malam ke-21 Ramadan 1447 H. Saya berdiri di podium Masjid Babussalam, Pelabuhan Makassar, sebagai penjemput ibrah di sela deru angin laut.
Usai dari atas mimbar, saya langsung mengikuti shalat tarawih. Di tengah kekhusyukan, saya meresapi suara imam merambat lembut nan merdu.
Suara itu bersahut dengan dengung mesin kapal Pelni dan hiruk-pikuk manusia mengejar fadhilah sepuluh malam terakhir. Rasanya seperti pelayaran ibadah—dengan aroma laut dan keberkahan menempel di daratan.
Jamaah memenuhi ruang masjid: penumpang kapal, awak kapal (ABK), hingga petugas operasional pelabuhan. Bahkan beberapa masyarakat sekitar pelabuhan ikut shalat tarawih.
Dari sini, saya menyadari bahwa imam shalat bukan sekadar mesin hafalan ayat.
Bagiku, ia adalah nahkoda spiritual—jantung kapal yang menjaga harmoni antara langit dan bumi. Ia memimpin shalat bukan hanya dengan suara, melainkan juga dengan ilmu dan empati.
Melalui lensa jurnalistik Islami, saya memandang imam sebagai pilar moral sekaligus penjaga rumah Allah.
Seperti halnya nahkoda kapal, imam bertanggung jawab memastikan “kapal ibadah” tetap layak laut (seaworthy).
Namun jujur saja, saya sering melihat kesenjangan antara idealisme adab dan praktik. Saat tarawih berlangsung, beberapa imam tampak bersemangat menampilkan hafalan panjang, sementara lutut jamaah mulai gemetar ‘Tenre Menenre’.
Situasi ini mengingatkan saya pada humor pelaut. Seorang ABK baru bertanya kepada nahkodanya,
“Pak, kalau kapal tenggelam, apa yang harus saya lakukan?”
Nahkoda itu menjawab santai,
“Pertama, tetap tenang.
Kedua, belajar berenang secepat mungkin.”
Kadang suasana di belakang imam terasa mirip begitu. Usai buka puasa, saat shalat maghrib, ada imam melantunkan surah panjang seperti awal Juz 30—‘amma yatasaalun atau ‘abasa wa tawallâ, sementara jamaah mulai kelelahan. Jamaah pun seperti dipaksa “berenang” mencari khusyuk ketika bacaan terlalu panjang di saat kondisi fisik kurang fit.
Saya tersenyum ketika seorang teman menceritakan kegelisahannya saat mengikuti shalat di belakang imam:
“We ndo’e, lampe’ na baca na!”
Lalu dalam hatinya ia menggerutu,
“Andai ada karet gelangku, kuketapel ki bori’na saat sujud!”
Suasana kecil seperti ini lahir dari lutut yang mulai lelah bergetar, tetapi juga menjadi pengingat: hak makmum untuk mendapatkan shalat sesuai kemampuan tak boleh diabaikan.
Makmum di shaf depan—tepat di belakang imam—juga perlu perhatian. Mereka ibarat mualim, asisten navigasi bagi sang nahkoda. Karena itu, yang layak berdiri di sana adalah mereka yang memahami adab-adab shalat dan siap mengambil alih ketika imam tersendat atau keliru.
Namun jangan sampai kekocakan justru muncul dalam ibadah.
Tiba-tiba imam tersendat setelah membaca Al-Fatihah:
“Ghairil maghdhūbi ‘alaihim walad dhāllīn… Aamiin.
Bismillahirrahmanirrahim…”
Lalu imam mulai membaca:
“Innaa… Innaa… Innaa…”
(Rupanya sambungannya mendadak macet.)
Ketiga makmum di belakangnya spontan melanjutkan:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!”
Kalau sudah begini, suasananya mirip pengumuman duka, padahal yang “mogok mesin” hanya hafalan imam.
Imam memang tidak pernah salah—kecuali lupa. Dan ketika itu terjadi, shaf di belakangnya seharusnya siap membantu dengan bacaan yang benar.
Peristiwa kecil seperti ini menunjukkan bahwa edukasi fikih shalat berjamaah belum sepenuhnya merata. Shaf depan bukan sekadar tempat berdiri, melainkan barisan penyangga navigasi ibadah menuju ampunan Allah.
Karena itu, dua hal sederhana patut menjadi perhatian.
Pertama, imam menghadirkan empati sosiologis: memilih surah yang menenangkan, cukup menyampaikan esensi Ramadan tanpa menyiksa fisik jamaah.
Kedua, pengurus masjid memperkuat pemahaman jamaah di shaf depan. Mereka bukan sekadar pengisi ruang kosong, melainkan penyangga navigasi ketika imam mengalami kendala di tengah pelayaran ibadah.
Imam adalah jembatan antara hamba dan Sang Khaliq, memastikan ibadah berjalan kokoh sekaligus nyaman dilalui siapa pun.
Di malam-malam terakhir Ramadan ini, semoga setiap rakaat menjadi pelayaran yang tenang—tanpa badai yang tak perlu dan tanpa jamaah karam di tengah jalan.
Sebab shalat berjamaah adalah perjalanan bersama; jika nahkoda terlalu asyik berlayar sendiri, jangan sampai para penumpang perlahan memilih tidak lagi naik kapal.
Rabu, 21 Ramadan 1447 H / 11 Maret 2026SK
Alat AksesVisi