Suatu hari, seseorang datang kepada Hasan al-Basri dan mengeluh; “Wahai Hasan, mengapa kami berdoa kepada Allah, tetapi doa kami tidak dikabulkan?” Hasan al-Basri tidak langsung menghibur. Ia justru menjawab dengan tajam; “Karena hati kalian telah mati oleh sepuluh perkara.” Di antaranya; Kalian mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan perintah-Nya, Kalian membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya, Kalian mengaku mencintai Rasul, tetapi meninggalkan sunnahnya, Kalian menikmati rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur
Suatu hari Abu Nawas “memprotes” doanya sendiri; “Ya Allah, aku sudah berdoa minta rezeki, tapi belum juga Engkau kabulkan. Apa doaku kurang keras? Atau Engkau ingin aku kerja juga?”. Tanpa sadar Abu Nawas menertawai dirinya sendiri dan berkata; “Ah, sepertinya aku yang salah paham. Aku terlalu rajin berdoa, tapi malas bergerak.”
Dalam kajian psikologi modern, Julian Rotter menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan external locus of control—menyandarkan segala sesuatu pada faktor luar. Dalam konteks religius, ini bisa berubah menjadi sikap; “Saya sudah berdoa, sisanya urusan Tuhan.” Padahal, jika berlebihan, ini bisa menjadi bentuk penghindaran tanggung jawab.
Sementara Erich Fromm mengkritik bahwa praktik keagamaan bisa berubah menjadi “ritual kosong” jika tidak melahirkan perubahan nyata dalam diri. Doa yang tidak menggerakkan tindakan hanyalah ilusi spiritual.
Dalam Islam, para ulama menegaskan; doa bukan pengganti usaha. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa meninggalkan usaha sambil hanya bergantung pada doa adalah bentuk kelemahan, bukan tawakal.
Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal yang benar adalah menggabungkan antara lain; ikhtiar maksimal, doa yang tulus, penyerahan hasil kepada Allah. Tanpa ikhtiar, doa menjadi kosong. Tanpa doa, ikhtiar menjadi sombong.
Tidak berlebihan jika kita bertanya kepada diri sendiri; Kita berdoa minta rezeki, tapi apakah kita sungguh-sungguh bekerja?, Kita berdoa minta perubahan, tapi apakah kita mau berubah?, Kita berdoa minta kebaikan, tapi apakah kita menjauhi keburukan? Atau jangan-jangan kita ingin hasil tanpa proses, ingin doanya dikabulkan tetapi lupa melakukan intropeksi diri, ingin diberi tanpa menjadi layak menerima.
Ada satu paradoks yang jarang disadari; Semakin kita hanya fokus pada “hasil doa”, semakin kita jauh dari makna doa itu sendiri. Padahal doa sejatinya adalah; latihan kerendahan hati, pengakuan atas keterbatasan, sekaligus dorongan untuk bertindak.
Mungkin masalahnya bukan pada doa yang tidak dikabulkan, tetapi pada cara kita berdoa dan menjalani hidup. Maka sesuatu yang harus direnungkan; Apakah aku menjadikan doa sebagai alasan untuk tidak berusaha? Apakah aku menuntut Allah, tetapi tidak menuntut diriku sendiri? Jika doaku belum dikabulkan, apakah aku berani mengoreksi diriku—atau hanya menyalahkan keadaan?
Karena bisa jadi, yang perlu diperbaiki bukan langit yang “diam”, tetapi diri kita yang belum siap menerima jawaban.
Allah A’lam,
Makassar, 18 Maret 2026
Alat AksesVisi