Ramadhan sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah pribadi: memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, dan menahan lapar serta dahaga. Namun sesungguhnya Ramadhan juga mengandung pesan sosial yang sangat kuat, yaitu membangun ukhuwah—persaudaraan sesama manusia. Dari sinilah lahir dua dimensi penting: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah kebangsaan (persaudaraan sebagai warga bangsa yang hidup bersama).
Dalam kajian ilmu sosial, agama memiliki peran penting dalam membangun solidaritas masyarakat. Pemikir modern seperti Karen Armstrong menjelaskan bahwa inti dari hampir semua tradisi agama adalah compassion atau kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam Islam, nilai ini tampak jelas dalam praktik Ramadhan: berbagi makanan, menunaikan zakat, memberi sedekah, dan memperhatikan kaum yang lemah.
Pandangan ini juga ditekankan oleh para ulama klasik. Ibn Khaldun dalam teorinya tentang ‘ashabiyyah menjelaskan bahwa kekuatan sebuah masyarakat sangat bergantung pada solidaritas dan rasa persaudaraan di antara anggotanya. Tanpa solidaritas sosial, masyarakat mudah terpecah oleh kepentingan, konflik, dan persaingan yang tidak sehat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai Ramadhan seharusnya memperkuat persatuan masyarakat yang beragam. Ahmad Syafii Maarif sering mengingatkan bahwa iman yang sehat akan melahirkan sikap terbuka, menghormati perbedaan, dan menjaga keutuhan bangsa sebagai amanah bersama.
Ada kisah jenaka yang sering diceritakan di sebuah kampung. Suatu hari seorang warga berkata kepada temannya, “Kalau Ramadhan semua orang jadi baik.” Temannya menjawab, “Kalau begitu berarti kita sebenarnya baik, hanya saja sebelas bulan sisanya kita sedang libur.” Orang-orang yang mendengar tertawa, tetapi mereka juga tersindir oleh kalimat sederhana itu.
Humor tersebut sebenarnya menyimpan kritik: kadang kebaikan kita hanya muncul karena suasana Ramadhan, bukan karena kesadaran yang terus hidup dalam diri.
Padahal Ramadhan seharusnya menjadi sekolah kehidupan. Ia mengajarkan kesabaran, empati, dan pengendalian diri—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan untuk menjaga persaudaraan dalam masyarakat yang beragam.
Pada akhirnya Ramadhan mengajak kita merenung dengan lebih jujur; Apakah Ramadhan benar-benar membuat kita lebih menghargai sesama, atau hanya membuat kita lebih rajin beribadah secara pribadi? Jika puasa melatih kita menahan lapar, mengapa kita masih sulit menahan ego?
Dan jika setiap tahun kita merayakan Ramadhan, mengapa persaudaraan—baik sebagai umat maupun sebagai bangsa—masih sering rapuh oleh konflik dan perpecahan?
Allah A’lamMakassar, 13 Maret 2026
Alat AksesVisi