Gambar Hubungan Antarumat Beragama di Masa Nabi Muhammad SAW

(Bahasan Buku Sirah Nabawiyah Ibn Hisyam) (9)

F. Kesimpulan dan Implikasi

1. Sepanjang telaah penulis terhadap Sirah Nabawiyah Ibn Hisyam, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Islam dan Kristen di masa Nabi berjalan dengan harmonis sebagai yang dapat dilihat pada kontak dan dialog Nabi serta para sahabatnya terhadap pendeta Bahira, Waraqah bin Naufal, dan Najasyi. Dialog itu berlanjut melalui perutusan Kristen dari negeri tetangga, seperti Kristen Najran. Sekalipun kedua agama Islam dan Kristen terdapat perbedaan dalam masalah teologis. Tetapi, perbedaan itu tidak mengurangi hubungan baik yang dituangkan dalam bentuk perjanjian untuk saling menghormati dan melindungi.

2. Hubungan antarumat yang dimaksud adalah hubungan antaragama samawi, yaitu Islam, Keristen, dan Yahudi. Semua ini tergambar dengan baik dalam dua periode masa hidup nabi:

Pertama, periode Mekkah, Ibnu Hisyam menggambarkan hubungan Islam dan Kristen dengan baik sekali.
Kedua, periode Madinah Ibnu Hisyam pun menggambarkan dengan baik hubungan Islam dan Yahudi.

3. Piagam Madinah adalah sebuah terobosan dan prestasi Nabi yang sangat modern. Piagam Madinah lahir mendahului zamannya dan dapat dijadikan sumber inspirasi untuk membangun masyarakat majemuk. Sebab dengan piagam itu, Nabi dapat mengatur berbagai kepentingan dalam masyarakat yang multi etnis, suku, dan agama. Piagam Madinah mampu mempersatukan masyarakat plural dalam sebuah kehidupan damai dan harmonis yang sebelumnya hidup dalam permusuhan dengan fanatisme suku dan kabilah. 

4. Hubungan harmonis dirusak oleh peristiwa Perang Salib pada abad XII-XIII yang kemudian berlanjut dengan penjajahan Barat ke dunia muslim pada abad XVII. Yang merupakan babak tersendiri dalam hubungan umat Islam dan Kristen. 

5. Untuk membangun kembali hubungan harmonis, khususnya antara Islam dan Kristen di masa kini, maka para sejarawan perlu merekonstruksi peristiwa sejarah masa Nabi. Sebab, peristiwa sejarah yang diperankan Nabi merupakan sesuatu yang diidealkan untuk diteladani oleh kaum muslimin. Dengan demikian, memahami hubungan harmonis kedua agama yang bersumber dari nenek moyang yang sama akan memberikan kesadaran baru kepada umat Islam dan umat Kristen untuk kembali menata hubungan yang lebih baik. Kesadaran itulah yang disebut kesadaran sejarah. 

6. Kepada para peneliti berikutnya diharapkan dapat mempertajam jawaban pertanyaan, “Kenapa hubungan yang harmonis di masa Nabi, justru mengalami kemunduran setelah beberapa dekade dari periode setelah beliau wafat?” Puncak kemunduran itu ditandai dengan terjadinya crusade atau Perang Salib dan penjajahan Barat.” Penelitian itu perlu agar kita nantinya bisa mengambil pelajaran dalam membangun hubungan yang lebih harmonis di masa kini dan masa depan.

7. Sejak Pidato pengukuhan ini yang disampaikan di rapat senat senat terbuka (11 November 2006) sudah ada niat untuk membukukan. Namun niat itu belum memperoleh momoent untuk mewujudkannya, nanti memperoleh momentun yang baik, ketika suatu saat saya mendapat telepon dari Ketua Panitia Musda ICMI Parepare bahwa "berdasarkan rapat panitia Musda Ahmad terpilih untuk menyampaikan pidato pada pembukaan Musda dengan judul: MERAWAT PERSATUAN UMAT: PERSPEKTIF SOSIO-HISTORIS" katanya.

8. Permintaan itu langsung saya iyakan dengan latar belakang bahwa inilah momentum dalam mewujudkan niat untuk menulis buku dengan menyatukan dua pidato,

Pertama, pidato pengukuhan guru besar, Hubungan Antarumat beragama di masa Nabi Muhammad saw. sebagai landasan utama atau tempat berpijak.
Kedua, Merawat Persatuan umat: Perspektif Sosio Historis, dengan berpedoman pada landasan utama di atas.

9. Momentum itu dimaksud jika pidato pengukuhan itu yang selama ini apabila dijadikan buku masih dianggap tipis sebagai sebuah buku, tetapi jika disatukan dengan artikel pidato Musda ICMI, barulah bisa dikatakan ideal sebagai sebuah buku.

10. Membaca keseluruhan kedua pidato di atas, dapat menjadi pelajaran bagi umat masa kini bahwa sedang orang yang berbeda agama, Nabi Muhammad saw. dapat bekerjasama di bidang sosial kemasyarakatan, apalagi satu agama, sekali pun berbeda sekte, tentu saja lebih bisa lagi bekerja sama di bidang sosial.

Wasalam,
Kompleks GFM, 23 Mei 2026