Hari ini, sebagian umat Islam di negeri ini memulai 1 Ramadan berdasarkan ketetapan internal organisasi. Sementara itu, pemerintah bersama mayoritas ormas Islam lain—serta negara-negara Asia Tenggara—menetapkan awal puasa esok hari melalui sidang resmi dan mekanisme bersama.
Dua keputusan berdiri dalam satu ruang kebangsaan. Satu langit menaungi hilal, dua tanggal diumumkan.
Secara fikih, perbedaan metode berada dalam wilayah ijtihad. Namun dalam konteks negara modern, penetapan awal Ramadan bukan sekadar soal hisab atau rukyat. Ia menyangkut otoritas publik, ketertiban kolektif, dan simbol persatuan umat dalam satu wilayah hukum.
Ketika keputusan nasional telah melalui forum resmi, melibatkan ulama lintas ormas dan pakar astronomi, itu bukan sekadar pengumuman administratif, melainkan tanggung jawab institusional. Memilih berjalan sendiri setelah ruang kolektif tersedia menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah konsistensi metode lebih utama daripada kebersamaan umat?
Keteguhan memang bernilai. Namun kebesaran tercermin pada kelapangan dada menjaga persatuan umat Islam.
Menjelang 1 Ramadan, polemik lama kembali dipentaskan. Hilal belum menyingkap dirinya, keputusan sudah diumumkan. Satu rembulan di langit, ratusan kepastian di bumi. Seakan orbit Ramadan tunduk pada kalkulasi internal. Seolah kebenaran cukup lahir dari stempel organisasi.
Seruan puasa dikirim jauh hari atas nama golongan, bukan atas kesaksian bersama kepastian diumumkan sebelum fakta disempurnakan.
Padahal jalan paling sederhana justru paling elok: saat berselisih, tunduk pada keputusan otoritas negeri terlebih ketika melibatkan pakar berkompeten. Namun sebagian pihak lebih nyaman berdiri sendiri daripada merapat dalam tertib kolektif.
Bila seseorang berpuasa hari ini—meyakini Ramadan telah tiba padahal hakikatnya masih Sya’ban, sementara tetangganya baru memulai esok, kekeliruan tak terhindarkan. Keduanya tak mungkin sama-sama benar.
Hilal 1 Ramadan terbit sekali; perpecahan lahir dari tafsir, bukan dari langit.
Ramadan itu fardu, bukan sunnat. Bukan pula ruang tawar-menawar selera. Ibadah menuntut ketundukan, bukan pembenaran diri.
Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah karena melihat hilal”. Redaksi ringkas dan terang. Anak SD pun mafhum. Selebihnya adalah ikhtiar membaca tanda langit—yang menuntut kerendahan hati, bukan klaim superioritas.
Ilmu mulia. Teknologi hebat. Tetapi ketika dijadikan alat mempertahankan posisi, ia berubah menjadi simbol keunggulan yang memecah. Ibadah mengikuti tuntunan langit, bukan kalkulasi institusi. Ilmu adalah alat, bukan tuan.
Rukyat dan hisab boleh beradu argumentasi. Namun sengketa tidak boleh menjelma pertarungan harga diri kelembagaan. Anehnya, hanya Ramadan dan Syawal yang berulang kali dipersengketakan dengan gairah luar biasa, sementara bulan lain berlalu tanpa kegaduhan.
Akar masalah bukan di langit, melainkan pada ego kelembagaan yang enggan merendahkan diri sebelum keputusan kolektif ditetapkan.
Jangan merasa langit milik kelompok tertentu. Kebenaran tak gentar diuji. Yang goyah hanya ego saat metodenya dipertanyakan.
Ramadan tidak membutuhkan organisasi yang keras mempertahankan metode. Ramadan membutuhkan jiwa yang cukup besar untuk mengalah demi ukhuwah. Bila keakuan terus dipelihara, yang terkikis bukan sekadar keseragaman tanggal, melainkan kepercayaan umat.
Hilal tetap terbit saban tahun, tertib dan tenang. Yang gaduh selalu manusia yang enggan merendah. Persatuan tidak runtuh karena perbedaan metode, tetapi karena ego yang menolak duduk bersama.
30 Sya'ban 1447 H / 18 Februari 2026
Alat AksesVisi